Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Titip Rindu untuk Senja dan Gelisahku
Sastra

Titip Rindu untuk Senja dan Gelisahku

By Redaksi14 Mei 20222 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Kalik Kongkar

Titip Rindu untuk Senja dan Gelisahku

Izinkan aku mencintaimu dalam diam
Merasakan debaran kala senja berselimut
Menatapmu dari jauh
Menikmati setiap kerinduan

Kau tahu bagaimana setiap lekuk rindu
Ketika kau hanya selalu diam
Kau tahu
Aku hanya bisa bilang rindu

Tapi kamu hanya selalu diam
Tahukah engkau
Rasanya ingin kutarik wajahmu menatapku
Jangan menoleh pada yang lain

Lihat aku saja
Karena terkadang akupun terbakar cemburu bahkan pada senjapun
Gelisahku
Bagaimana setiap kata bermakna menjadi cerita

Semua itu muncul dari rasa gelisah
Tangan hanya mampu merangkai
Setiap kata yang berserakan
Sehingga mampu menjalin menjadi kalimat indah

Kau tahu aku bisa membuatmu gelisah
Namun kamu bahkan mampu memberi
Lebih dari sekedar gelisah
Diammu atau pun bicaramu

Semua lakumu menggelisahkanku
Tidak adakan ruang sedikit saja
Dihatimu untukku
Kau tahu diam-diam

Aku selalu menatapmu dari jauh
Berpalinglah kepadaku
Walau tak ada rasa diahtimu
Aku hanya ingin menatapmu dalam diamku

Daun yang Hendak Gugur

Kau lihat daun yang malang itu?
Dahulu pun ia sempat memancarkan warna yang indah
Layaknya jantung hatiku, yang pernah tersenyum hijau bahagia, dengan kamu yang menjadi penyebabnya

Namun kenyataan harus kuterima dengan ikhlas, tatkala bahagia itu sirna, hatiku pun kuncup seperti daun yang hendak gugur rasanya menjadi mati, tak ada kebahagiaan di sana
Dan keyakinanku akan janjinya haruslah menjadi alasan untuk aku bisa bangkit dari keterpurukan, aku harus bisa menggantikan hati ini menjadi hati yang baru, layaknya aroma daun muda baru yang penuh cinta dan rasa ikhlas untuk menerima

Atas nama keihklasan, aku ingin seperti daun, yang hadir kembali meski angin merobohkanku dan melenyapkanku

Senja Mati

Senja mati di pelupuk matahari terbenam
Jemarinya kuyu tak lagi mampu menggapai pena langit
Sajak yang pernah yang ditorehkan pada bebatuan di sungai
Pada pepohonan di bukit mematung di pinggir pusara
Air mata anarki

Menjual diri di antara sendi di telanjang tanah duka
Kulihat hujan mengetuk pintu
Perginya senja menyimpan duka
Terasa sempurna sembunyikan air mata para sajak yang berguguran

Dalam diam aku berduka diinjak luka
Mengutuk malaikat maut
Dalam kediaman aku telanjang semaput dihantam rajangan air mata
Mengutuk waktu yang berdetak

Lalik Kongkar
Previous ArticleWho am I?
Next Article Ternyata Soekarno Pernah Hendak Dibunuh saat Salat Idul Adha, Simak Kisah Puan Maharani

Related Posts

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026

Pilu yang Tidak Pernah Sembuh

3 Februari 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.