Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Ketiadaan: Antologi Puisi Lalik Kongkar
Sastra

Ketiadaan: Antologi Puisi Lalik Kongkar

By Redaksi22 Mei 20222 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ketiadaan

Nyanyian rindu tak selamanya menyenangkan
Ada beberapa bait yang terdengar sengau saat didendangkan
Bukan nadanya yang salah
Baitnya yang terlalu dipaksa
Dipaksa untuk mencipta sebuah kata

Yang sejatinya tak pernah ada
Terlalu takut untuk menerima nyata
Bahwa itu adalah sebuah asa
Terbuai dalam nina bobo harap
Hingga waktu berdetak berderap

Senja Mati

Senja mati di pelupuk matahari terbenam
Jemarinya kuyu tak lagi mampu menggapai pena langit
Sajak yang pernah yang ditorehkan pada bebatuan di sungai
Pada pepohonan di bukit mematung di pinggir pusara
Air mata anarki

Menjual diri di antara sendi di telanjang tanah duka
Kulihat hujan mengetuk pintu
Perginya senja menyimpan duka
Terasa sempurna sembunyikan air mata para sajak yang berguguran

Dalam diam aku berduka diinjak luka
Mengutuk malaikat maut
Dalam kediaman aku telanjang semaput dihantam rajangan air mata
Mengutuk waktu yang berdetak

Renungan Malam

Ketika tengah malam datang
Itu saatnya untuk merenung
Entah apa yang di renungkan
Selalu saja terbersit kalimat tanya

Sajak-sajak perubahan
Mengalir dan berubah
Menjadi sajak-sajak cinta
Dan puisi yang terkenang

Menjadi sebuah bait penuh makna
Pemikiran idealis dan ekstrimis
Berhasil membuatku lupa
Lupa tentang segala hal apapun

Yang telah ku lewati
Dia telah berubah
Menjadi sebuah referensi bait
Dan inspirasi bagiku

Senandung Jiwa

Puisi adalah kejujuran yang bernyanyi
Ia tak sekedar keindahan rima dan bunyi
Namun sandaran bagi kepekaan rasa
Resonansi bagi nurani yang menggema

Puisi adalah senandung jiwa
Ia tak sekedar euforia bait dan kata
Tapi lidah bagi ketajaman hati
Syair bagi idealisme yang menari

Kejenuhan

Kutapaki jejak jalan hidupku ini silih berganti
Pagi siang dan malam datang berganti
Aku tetap saja begini
Tak ada yang berubah semua tetap sama
Apa yang ada dimata maupun jiwa

Tidak ada yang berbeda
Aku jenuh
Mulai jenuh dan akan jenuh
Dengan hidup ini
Dengan semua ini

Harapan pudar bagaikan kabut
Jatuh bagaikan hujan
Menetes bagaikan tangis
Aku menangis

Apa yang kudapat
Tak seperti yang kuingat
Tak seingin yang kuucap
Dan tak sebayang yang kuharap

Lalik Kongkar
Previous ArticlePulang Bawa Prestasi, Empat Atlet FKI NTT Disambut Meriah di Kota Ruteng
Next Article Diana

Related Posts

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026

Pilu yang Tidak Pernah Sembuh

3 Februari 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.