Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Pendidikan NTT»Konferensi Internasional Hari Kedua Bahas Bahasa dan Kebudayaan
Pendidikan NTT

Konferensi Internasional Hari Kedua Bahas Bahasa dan Kebudayaan

By Redaksi29 Mei 20223 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT- Penyelenggaraan The Second International Conference on Humanities, Education, Language, and Culture (The 2nd ICHELAC), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng memasuki hari kedua, Sabtu (28/05/2022).

Event internasional yang resmi dihelat sejak Jumat (27/05/2022) menjadikan bahasa dan kebudayaan sebagai tema utama pada hari kedua.

Tiga pembicara kunci (keynote speakers) mengisi sesi utama pada hari terakhir penyelenggaraan konferensi internasional.

Prof. Luh Putu Artini, Ph.D dari Universitas Pendidikan Ganesha, Bali Indonesia menjadi pembicara utama pertama.

Prof Artini membawakan makalah dengan topik “Teaching English as A Foreign Language and Culture Through Literature”.

Hadir sebagai pembicara kunci kedua adalah Prof. Dr. Yohanes Servatius Lon, M.A. dari Unika Santu Paulus Ruteng, Indonesia.

Guru Besar Ilmu Religi dan Budaya yang juga Rektor Unika Santu Paulus Ruteng itu mempresentasikan makalah berjudul “Local Culture and Education”.

Sementara itu, Dr. Vinsensius Adi Gunawan menjadi pembicara kunci ketiga yang tampil pada konferensi internasional hari kedua.

Akademisi dari Anthropos Institut Sankt Augustin, Kölner Hochschule für Katholische Theologie, Jerman menyampaikan materi dengan judul “Do Ancestors and Spirits Still Help in Covid-19? A Review of Crisis Resolution in the Traditional Life of the Manggarai People”.

Selain tiga keynote speaker, puluhan pemakalah tampil pada sesi paralel di hari kedua konferensi.

Para presenter dibagi dalam 3 breakoutrooms.

Puluhan pemakalah ini terdiri dari akademisi dan peneliti dari beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia.

Beberapa pemakalah juga merupakan akademisi dari internal Unika Santu Paulus Ruteng.

Setelah presentasi makalah dari semua pembicara, penyelenggaraan The 2nd ICHELAC ini resmi ditutup.

Ketua Panitia The 2nd ICHELAC Dr.Hieronimus Canggung Darong, S.S., M.Pd. dalam sambutan penutupnya mengungkapkan kegembiraan dan harapan terkait penyelenggaraan konferensi internasional ini.

“Mewakili panitia, saya mengungkapkan rasa bangga telah menyelenggarakan konferensi ini. Kami menyampaikan apresiasi kepada semua yang terlibat. Konferensi internasional pada dua hari ini merupakan refleksi akademis dan kajian empirik untuk sebuah aksi nyata yang positif bagi keberlanjutan pendidikan dan kebertahanan  bahasa dan budaya,” ungkapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, FKIP Unika Santu Paulus Ruteng menghelat konferensi internasional kedua, Jumat (27/05/2022) dan Sabtu (28/05/2022).

Kegiatan bertaraf internasional bernama resmi The Second International Conference on Humanities, Education, Language, and Culture (The 2nd ICHELAC) ini digelar sebagai seri kedua dari event yang sukses digelar pertama kali tahun lalu.

Seperti perhelatan pertama setahun silam, The 2nd ICHELAC berlangsung secara daring melalui platform media zoom meeting.

Konferensi internasional ini menghadirkan beberapa pembicara kunci (keynote speakers) yaitu (1) Prof. Pilar Romero, LPT, Phd, (University of Saint Thomas Manila, Filipina),(2).Dr. Michel Hogenes (Hague University, Belanda) (3)Vinsensius Adi Gunawan PhD (Anthropos Institut Sankt Augustin, Kölner Hochschule für Katholische Theologie, Jerman, (4). Prof. Dr. Yohanes Lon, M.A (Unika Santu Paulus Ruteng, Indonesia), (5). Prof..Dra. Luh Putu Artini, M.A., Ph.D. (Universitas Pendidikan Ganesha, Bali), (6). Prof. Dr. Frans Salesman SE.,M.Kes. (STIKES Citra Husada Kupang, Indonesia).

Event internasional ini juga dihadiri oleh Bupati Manggarai, Herybertus G.L. Nabit, S.E., M.A. sebagai Distinguished Speaker.

Penulis: Leo Jehatu

FKIP Unika Ruteng UNIKA Santu Paulus Ruteng Unika St. Paulus Ruteng
Previous ArticlePancasila dalam Pusaran Disrupsi
Next Article Saat Sekelompok Anak Muda Ngobrol Santai Soal Isu Keberagaman

Related Posts

Seminari Kisol Luncurkan Renstra 2026–2031 untuk Hadapi Tantangan Era VUCA

5 Maret 2026

Renstra 2026–2031 Jadi Momentum Pembenahan Seminari Pius XII Kisol

5 Maret 2026

Seminari Pius XII Kisol Susun Renstra 2026–2031, Fokus pada Penguatan Kesehatan, Gizi, dan Tata Kelola

5 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.