Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Lembata Jadi Pilot Project Riset Budi Daya Malapari
NTT NEWS

Lembata Jadi Pilot Project Riset Budi Daya Malapari

By Redaksi17 Agustus 20225 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Tanaman Malapari di Kabupaten Lembata, NTT
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Lewoleba, Vox NTT– Lembata merupakan salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Timur yang terindikasi menjadi habitat tumbuhan Malapari (Pongamia Pinnata).

Di sejumlah wilayah Lembata, jenis tumbuhan ini bisa dijumpai seperti Pantai SGB Bungsu, tak jauh dari Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata.

Potensi tersebut mendorong PT Sahabat Nusantara Teknologi Inovasi (PT SANTI) menggandeng peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan eksplorasi Malapari ini dalam program “Lembata Iconic for Malapari”.

Para peneliti dibantu team dari Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPT KPH) Lembata, saat ini sedang melakukan inventarisasi tegakan pohon yang tersebar di area pesisir Lembata.

“Kami telah mengirimkan surat kepada UPT KPH Lembata tanggal 5 Juli 2022 lalu untuk melakukan riset tumbuhan Malapari. Riset pertama ini merupakan pilot project kami di Nusa Tenggara Timur,” ujar Bibin Busono, Komisaris PT SANTI.

Hadir pula Dr. Aam Aminah, Periset BRIN yang telah 15 tahun mendalami tumbuhan ini di beberapa wilayah seperti Pantai Carita Banten, Alas Purwo Jawa Timur, dan Batu Karas serta telah melakukan percobaan di Parung Panjang Bogor.

“Hasil riset Malapari di Lembata merupakan eksplorasi genetika  untuk keperluan riset-riset selanjutnya guna mendapatkan bibit unggul,” ujarnya.

Salah satu alternatif mengembangkan energi baru terbarukan adalah dari bahan nabati. Malapari merupakan salah satu jenis tumbuhan Pantai yang berpotensi sebagai alternatif sumber bioenergi dan berbagai manfaat lainnya.

Peneliti lain dari BRIN, Dr Desmiwati, mengatakan bahwa riset ini tidak hanya fokus pada aspek genetika, tetapi juga mencakup aspek sosial-budaya sebagai salah satu proses asesmen apabila nantinya akan dilakukan propagasi budi daya secara masal.

Dalam riset sosial-budaya, salah satu acuan yang digunakan adalah Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan  Nomor 9 Tahun 2021 tentang Perhutanan Sosial (PS).

Penanaman Malapari juga sebagai upaya melalukan reforestrasi, konservasi mangrove dan pemanfaatan lahan-lahan kritis agar bisa bermanfaat bagi perekonomian masyarakat dan salah satu upaya dalam program global Net Zero Emission.   

Pengembangan energi baru terbarukan menjadi perhatian Indonesia yang merupakan bagian dari kelompok negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia.

Kebutuhan energi Indonesia terus meningkat setiap tahun dengan pertumbuhan kebutuhan energi rata-rata sebesar [7] persen per tahun, namun pemenuhan kebutuhan energi sebanyak [94] persen masih bergantung kepada energi fosil.

Berbeda dengan biomasa yang melakukan penanaman dan penebangan pohon, Malapari dimanfaatkan buahnya untuk diproses menjadi bahan baku bioenergi sehingga  bersifat lestari.

Kemampuan Malapari menyerap gas rumah kaca  sangat baik dan berpotensi menjadi unggulan.

Wilayah yang dilakukan penanaman malapari dapat pula dimanfaatkan masyarakat untuk menanam tumpang sari seperti jagung, kopi dan ubi karena sifat Malapari yang tidak saling berebut hara dan bersifat sebagai tumbuhan perintis.

Bibin Busono, Komisaris PT SANTI, mengatakan bahwa hasil riset yang akan dilakukan peneliti BRIN akan menjadi jurnal ilmiah dan diharapkan dapat memberikan masukan bagi Pemerintah Kabupaten Lembata dalam mengembangkan tanaman Malapari di pulau ikonik ini,  didukung peraturan daerah dan berbagai regulasi di tingkat nasional.

PT SANTI juga bekerja sama dengan BPSI KLHK Bogor, Institut Teknologi Bandung (ITB) serta saat ini mendapat kunjungan studi banding dari Investancia Group BV, perusahaan pengembang Malapari asal Belanda yang sedang mengembangkan 1,2 juta hektare Malapari di Paraguay Amerika Selatan.

Marcel van Heessewijk sebagai CEO dan Founder dari Investancia turut serta dalam rombongan ke Lembata kali ini.

Pilot project budi daya Malapari yang dimulai dari Lembata diharapkan dapat membantu pemerintah dalam menjawab tantangan energi di masa depan.

“Lembata sebagai ikon Malapari hendaknya dapat menjadi semangat bersama untuk menjawab tantangan energi yang tengah dihadapi dunia, termasuk Indonesia,” tambah Bibin Busono.

Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPT KPH) Lembata menyambut baik rencana kerjasama survei penelitian yang diajukan PT SANTI,  apalagi dibantu peneliti dari BRIN.

Karena itu, UPT KPH Lembata mendukung inisiatif pihak PT SANTI dengan menjawab surat permohonan yang diterima pada 28 Juli 2022, guna melakukan riset malapari di kampung halaman, lewotana, leuawuq Lembata.

Niat tersebut disambut baik mengingat potensi malapari di daerah ini sangat besar.

“Dari survei awal rekan-rekan petugas kehutanan KPH Lembata, paling sedikit kami temukan 20 tumbuhan Malapari di sepanjang pantai SGB Bungsu. Ketinggian Malapari mencapai hampir 25 meter dengan diameter batang lebih dari 75 cm,” kata Kepala UPT KPH Lembata Linus Lawe, S.Hut.

Menurut Lawe, saat ini sudah ada sekitar 280 hektar lahan Malapari di dalam Kawasan Kehutanan di Lembata dikelola masyarakat melalui gabungan kelompok tani (Gapoktan) sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 9 tahun 2021 tentang Perhutanan Sosial (PS).

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Penjabat Bupati Lembata Pak Marsianus Djawa menerima kami melakukan riset perdana ini”.

“Tak lupa kami sampaikan terima kasih kepada UPT KPH Lembata melalui komunikasi kontruktif sehingga peneliti BRIN bisa hadir di Lembata dengan dukugan maksimal,” kata Bibin.

Seluruh rangkaian acara di Lembata merupakan kerjasama dengan Yayasan Anton Enga Tifaona, Alex Bala Tifaona mengatakan, yayasan berinisiatif mengajak berbagai pihak dari luar NTT hadir di Lembata untuk ikut membantu mengembangkan Lembata sekaligus mengangkat berbagai potensi sumber daya alam yang dimiliki untuk dikembangkan sehingga memiliki nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

“Almarhum papa selalu mengingatkan agar kami, anak-anaknya ikut memberi perhatian besar bagi kemajuan daerah melalui inisiatif-inisiatif kecil namun bermanfaat bagi ribu ratu, rakyat. Kami memulai mewujudkan ide kecil ini dengan mengajak PT SANTI bersama peneliti BRIN melakukan riset Malapari di Lembata. Kami berdoa dan berharap semoga ada dukungan pemerintah, masyarakat, dan stakeholder di lewotana, leuawuq sehingga kegiatan ini berjalan lancar dan sukses,” ujar Alex, putra mendiang tokoh otonomi Lembata Brigjen Pol (Purn) Drs Anton Enga Tifaona. [*]

Lembata
Previous ArticleDukung Semangat Anak Muda di Momen HUT RI, Stefanus Gandi Jadi Sponsor Utama Turnamen Bola Voli di Mendo
Next Article Aneka Lomba 17 Agustus di Oebobo, dari Bapak-bapak Pakai Daster sampai Ibu-ibu Tarik Tambang

Related Posts

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Pemprov NTT Harus Lobi Pemerintah Pusat soal Nasib 9.000 PPPK

5 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.