Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»TPAS di Mahima Resmi Beroperasi, Sampah Tidak Lagi Dibuang ke TPS Nanga Banda
Regional NTT

TPAS di Mahima Resmi Beroperasi, Sampah Tidak Lagi Dibuang ke TPS Nanga Banda

By Redaksi15 Januari 20233 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Loader membersihkan sampah di TPS Nanga Banda. (Foto: Berto Davids)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Reo, Vox NTT- Tumpukan sampah di tempat pembuangan sementara (TPS) Nanga Banda, Kelurahan Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur telah dibersihkan, Minggu (15/1/2023).

Pembersihan yang menggunakan alat berat itu melibatkan pegawai DLHD Manggarai, Pemerintah Kecamatan Reok, Pemerintah Kelurahan Reo, petugas tiga roda dan sejumlah warga.

Sejak pagi, alat berat bergerak menggusur dan mengangkut tumpukan sampah yang berada di area TPS Nanga Banda. Sampah tersebut dibuang ke lubang besar untuk dimusnahkan. Setelah dimusnahkan TPS tersebut tidak lagi digunakan. Masyarakat dilarang membuang sampah di situ.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLHD) Kabupaten Manggarai, Kanis Nasak mengatakan, pihaknya telah menyediakan tempat pembuangan akhir sampah (TPAS) untuk wilayah Kecamatan Reok, yang berlokasi di Mahima, Kelurahan Wangkung.

Dengan demikian sampah yang ada di 4 kelurahan dan 1 desa di wilayah itu tidak lagi dibuang ke TPS Nanga Banda tetapi diangkut dan dibuang ke TPAS Mahima.

“TPA sudah beroperasi sejak beberapa hari lalu. Penentuan tempatnya juga sudah sesuai dengan tata ruang wilayah,” kata Kanis.

Untuk selanjutnya kata dia, petugas pengangkut sampah dari DLHD Manggarai termasuk tiga roda akan mengangkut sampah dari rumah warga untuk dibawa ke TPAS, tidak lagi dibawa ke TPS. Retribusi untuk sampah juga terus berlaku sesuai aturan.

Selain itu pihaknya melarang keras sampah B3 dibuang ke TPAS, hal ini demi mencegah pencemaran.

“Untuk sampah B3 dari rumah sakit atau pun puskesmas dilarang keras, karena TPA yang disediakan oleh pemerintah di Mahima hanya untuk sampah rumah tangga dan lainnya, bukan untuk B3,” tegas Kanis.

Ia juga mengatakan, Reok menjadi prioritas karena kebutuhan tinggi, produksi sampah tinggi akibat kemajuan-kemajuan yang ada. Ditambah Reok juga menjadi pelabuhan yang kian ramai karena statusnya sebagai salah satu pelabuhan tol laut di Indonesia.

Sementara untuk TPS Nanga Banda, demikian Kanis Nasak, akan dipagari dan dibuat penghijauan khusus supaya jalan masuk menuju pantai wisata nanga banda terlihat indah.

“Saya rencana bawa anakan ke Reok supaya nanti setelah dipagar kita bisa tanam anakan untuk penghijauan,” ujar Kanis.

Sebelumnya di bantaran sungai Waepesi masih terlihat kotor kendati pemerintah telah menyediakan TPAS. Pokdarwis pun sempat mengkritik terkait prilaku masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan di bantaran sungai.

“Sangat disayangkan perilaku seperti ini. Kalau dibiarkan terus maka pencemaran sungai akan berdampak bagi warga yang mengkonsumsi airnya. Kita mau agar sampah ini secepatnya dibersihkan dan diangkut oleh petugas, apalagi di Reok sudah ada TPA,” kata Andi Karpus.

Ia dan rekan Pokdarwisnya, Gaspar Riberu turun langsung ke tepian sungai untuk memungut sisa-sisa kotoran lalu dibuang ke seberang jalan untuk dibakar.

Sambil duduk di atas tambatan perahu, bermodalkan kayu dan kaos tangan, Andi dan Gaspar bergulat seharian dengan sampah. Mereka menyingkirkan sampah-sampah plastik dan bahkan kotoran manusia. Semua itu dilakukan agar air sungai tidak tercemar.

Meski tidak semua sampah dipungut, namun upaya dua pemuda Pokdarwis ini harus diapresiasi.

“Kami betul-betul merasa peduli dengan kondisi tambatan perahu ini karena jika dibiarkan, volume sampah akan melebihi ambang batas sungai, padahal air sungai kerap dikonsumsi warga termasuk nelayan. Apabila air sungai tercemar manusia juga yang akan menanggung akibatnya,” tutur Andi.

Kontributor: Berto Davids
Editor: Ardy Abba

DLHD Manggarai Kabupaten Manggarai Manggarai Reo
Previous ArticleTak Mau Ketinggalan, Srikandi Ganjar di NTT Gelar Turnamen Lato-lato
Next Article Mudah Diakses, Aplikasi INISA Tawarkan Sejumlah Kemudahan

Related Posts

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.