Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Perubahan yang Butuh Pendampingan
Gagasan

Perubahan yang Butuh Pendampingan

By Redaksi5 Februari 20234 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Perubahan yang Butuh Pendampingan
Natalia Stefani Saputri
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Natalia Stefani Saputri

Dunia pendidikan kini terus dihadapkan pada banyaknya tantangan. Itu terutama dalam mengatasi mentalitas setiap generasinya yang terus berbeda beda seiring berjalannya waktu.

Situasi saat ini banyak sekali generasi yang menyertai kehidupan dunia pendidikan dengan tujuan ingin mengembangkan berbagai pembelajaran kreatif yang sesuai dengan era generasinya.

Generasi saat ini dikenal dengan sebutan milenial atau Generasi Z yang rupanya menarik banyak perhatian.

Gen Z atau Generasi Z adalah seluruh generasi yang lahir mulai tahun 1996 hingga 2012. Artinya, Gen Z adalah generasi setelah milenial.

Jadi, pada tahun 2023 ini, anak-anak yang berusia 9-26 tahun masuk ke dalam Gen Z. Generasi Z terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu mereka yang masih bersekolah dan yang mulai menapaki karier di dunia kerja.

Menurut Syarfina Mahya Nadila (peneliti di bidang sosiologi di Direktorat Kebijakan Ekonomi, Ketenagakerjaan, dan Pengembangan Regional BRIN), mengutip survei yang dilakukan Harris Poll, generasi Z adalah generasi yang terlahir dalam ekosistem digital yang mulai tumbuh dan berkembang.

Sebagai generasi digital, umumnya mereka sangat kreatif. Kemampuan digital generasi itu tidak perlu diragukan lagi.

Mereka dapat diandalkan untuk kerja-kerja yang berkaitan dengan teknologi digital.

Kelemahan generasi itu ialah sikap manja dan lemah secara psikologis. Sebab, mereka hidup dalam kemudahan akibat kemajuan teknologi digital.

Kelemahan yang disebabkan ketergantungan pada teknologi membuat tak jarang banyak terjadinya kerusakan mental dari para Generasi Z.

Kerusakan mental akibat kurangnya pendampingan dalam dunia pendidikan karakter terhadap generasi ini memicu banyaknya pandangan yang menghiasi kehidupan Generasi Z.

Mengenal Karakter

Mengetahui karakter dari generasi ini dapat dilihat dari segi ucapan, tingkah laku, serta proses. Itu terutama bagaimana generasi ini menjalani keseharianya yang dominan erat kaitannya dengan teknologi.

Jika dikaitkan dengan kehidupan dalam rumah mereka cenderung lebih mudah mengerjakan pekerjaan rumah dengan bantuan teknologi tetapi tidak jarang juga terjadi pro dan kontra dalam komunikasi bersama dengan orang tua yang disebabkan oleh teknologi.

Selain kehidupan dalam rumah, dapat dilihat juga dari segi dunia pendidikan atau persekolahan.

Tingkah lakunya dapat dilihat dari bagaimana cara mereka menyiapkan perkejaan sekolah dengan sangat mudah.

Kemudian, dari cara mereka merespons dan bebicara antara sesama mereka yang rupaya selalu berhubungan dengan teknologi.

Jika kita melihat mereka dari luar, yang tampak ialah remaja dengan terkesan canggih, mampu menguasai teknologi, dan kreatif.

Jelas kita bisa melihat betapa mereka sangat mahir menguasai berbagai media digital, menjelajah dunia maya, dan mengikuti tren dunia.

Mereka tumbuh dalam lingkungan instan, yang semuanya bisa didapat dengan mudah dan cepat karena adanya digitalisasi dalam segala aspek kehidupan.

Selain itu jika ditelusuri dari segi perasaan, generasi ini memiliki rasa yang berbeda.

Generasi itu rapuh karena sering kali mengurung kegelisahan di benak terdalam. Sehingga mereka hanya mampu memendam kekacauan perasaannya dalam menghadapi kehidupan yang semakin berkembang.

Hal inilah yang tak jarang menyababkan banyak masalah psikologis yang terjadi pada generasi ini.

Dari masalah – masalah ini proses pendidikan karakter sangat dibutuhkan dalam mengahadapi kemajuan yang terus bergulir.

Proses Pendampingan

Dalam proses pendampingan generasi ini erat kaitannya dengan pendidikan karakter. Tentu ini akan berdampak pada pendidikan karakter anak yang semestinya dapat melatih komunikasi kepada orang lain. Bagaimana cara menghormati, cara memiliki rasa empati dan lainnya.

Seorang anak yang bertumbuh kembang dalam nuansa tanpa pendidikan karakter, dia akan cenderung merenung dan menyendiri untuk memainkan segala sesuatu yang membuatnya senang tanpa berinteraksi dengan orang lain.

Pendidikan karakter yang semestinya harus ditanamkan sedini mungkin. Karena dengan pendidikan karakter anak dapat mengembangkan potensi dasar dalam dirinya sehingga menjadi individu yang berpikiran baik, berhati baik, dan berperilaku baik.

Peran serta pengawasan seperti ini lah yang harus dilakukan baik di lingkungan rumah maupun lingkungan sekolah karena di era Generasi Z ini segala sesuatu akan sangat mungkin terjadi jika tidak mendapat pengawasan lebih dalam kesehariannya.

Pendampingan pada era Generasi Z haruslah terus diperhatikan agar memudahkan pertumbuhan dan tidak adanya penyalahan terhadap teknologi yang berkembang.

Tidak dapat dimungkiri bahwa kehidupan masa kini dilingkari para penerus generasi. Artinya, perlu kerja keras untuk membentuk penerus menjadi pribadi yang lebih kuat dalam menghadapi perkembangan modernisasi kehidupan.

Bisa saja dalam bentuk baik pola pikir maupun kecanggihan teknologi yang membuat kehidupan semakin instan untuk dijalani.

Bagaimanapun juga hidup membutuhkan manusia yang secara mental terlatih melewati tantangan tanpa harus menghindarinya, yaitu dengan cara menerima berbagai kritik dan saran untuk menumbuhkan motivasi yang lebih dalam.

Penulis adalah siswi SMAK Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo

Natalia Stefani Saputri
Previous ArticleParty ID dan Politik Uang
Next Article Sosial Media Ancam Keberadaan Bahasa Indonesia

Related Posts

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026
Terkini

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.