Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Hanya Waktu
Sastra

Hanya Waktu

By Redaksi26 April 20232 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Agustinus Nuradarmada

Setapak jalan kulalui setiap waktu
Tanpa henti berharap pada baiknya waktu
Langka demi langkah tak peduli terantuk oleh waktu
Ingin kukisahkan dalam setiap lembar tentang apa yang kulalui
Agar kau dapat memahami betapa indahnya dikau

Kusiapkan penah dan lembaran baru tentang kau selalu
Kurangkai kata demi kata tuk lukiskan setiap peristiwa
Tinta penaku tak habis kupakai tuk merangkai kata
Demikian pula lembaranku tak kunjung usai

Sepenggal kalimat mulai kurajut walau tak puitis
Tak kuharap menjadi pujangga
Biarlah waktu yang kisahkan dan nikmatinya
Andai lantunan nada  dapat menawan
Adakah kau akan berkata  rayuan pujangga?

Di sini lembar demi lembar kurangkai kata walau tak bermakna
Ingatlah ada untaian kata yang kurajut walau tak menyentuh kalbu
Tapi kuharap kau memaknai
lantunan kata yang kurangkai  tak seelok karya pujangga
Mengertilah  kuharapkan.

Kini kulantunkan dari setapak jalan yang ku lalui
Berdiri, berceramah pada bintang-bintang kecil
Menjual suara berbagi kasih bukan badai.
Berharap untuk dikenang walau hanya sebatas kata-kata
Memang gelap telah habis dan terang telah terbit

Tapi apalah daya hati tetap terusik, karena bukan diabaikan tapi dilupakan.
Sakit walu tak dibantai….
Tapi rasa selalu jujur.
Ada angin datang dari surga
Tapi tak terasa sejuk malah menuai pedih.

Nasib si penapak sungguh malang selalu diambang
Bimbang walau terlihat riang
Membimbing bukan untuk iming-iming
Tapi hati tidak ingin berpaling
Tetap tenang tak menantang berharap tak lagi diasing.

Matahari memang telah terbit
Gelap takkan lagi menguasai
Tapi jagan pilih kasih
Hati bukan milik orang mati
Tapi miliki hati yang berbagi kasih

Disana di atas singgsana terpampang wajah-wajah bijak nan mulia
Pandai merangkai mencuri hati
Tapi bukan dari hati
Bermain api menuai badai
Tersebar wabah seluruh pantai.

Selasa, 25 April 2023

Agustinus Nuradarmada
Previous ArticleHimpunan Mahasiswa Cibal Kupang Lantik 46 Anggota Baru
Next Article Ini 10 Alasan Partai Hanura Dukung Ganjar Pranowo

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.