Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Capaian Program Swasembada Pangan Disoroti Anggota DPRD Malaka
Regional NTT

Capaian Program Swasembada Pangan Disoroti Anggota DPRD Malaka

Sawah ini dikelola oleh 291 kelompok tani yang tersebar di enam kecamatan dan 127 desa di Kabupaten Malaka.
By Redaksi13 Oktober 20233 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Padi yang mulai mengering akibat kurangnya pasokan air bersih di Kabupaten Malaka (Foto: Frido Umrisu Raebesi/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Betun, Vox NTT- Padi sawah khusus yang diintervensi APBD tahun anggaran 2022 dan 2023 di Kabupaten Malaka seluas 3.500 hektare.

Sawah ini dikelola oleh 291 kelompok tani yang tersebar di enam kecamatan dan 127 desa di Kabupaten Malaka.

Sawah seluas 3.500 hektare tersebut merupakan capaian program swasembada pangan pada Dinas Pertanian Kabupaten Malaka, musim tanam 1.

Kepala Dinas Pertanian Januaria Maria Seran mengatakan, capaian itu merupakan bagian dari program prioritas Bupati Malaka Simon Nahak, khusus untuk memproduksi Beras Nona Malaka.

“Dan pada MT1 kita sudah lakukan pemanenan produktivitas yang ada itu di angka 4,67 ton per hektare,” ungkap Januaria saat konferensi pers di Aula Rapat Bupati Malaka, Kamis (12/10/2023).

Januaria menambahkan, produksi gabah kering kurang lebih 16.345 hektare. Kalau dikonversi ke beras menjadi 10.255 ton.

Hingga kini gabah kering yang sudah ditimbang oleh offtaker sejumlah 196.466 kilogram atau kurang lebih 196 ton yang dibeli dengan harga Rp5.500 per kilogram.

“Dengan estimasi uang yang sudah beredar di enam kecamatan, uang yang dihasilkan kurang lebih sudah mencapai 1miliar lebih,” ungkapnya.

Untuk perkembangan Beras Nona Malaka sendiri, kata dia, hingga kini dijual di offtaker dengan harga Rp13.000 per kilogram.

Hingga 5 Oktober 2023, dari total  196.466 kilogram gabah kering giling, sudah diproduksi dari bantuan pemerintah 500 hektare dan swadaya masyarakat 555 hektare.

Program Revolusi Pertanian Malaka Lebih Unggul dari Swasembada Pangan

Salah satu Anggota DPRD Malaka yang enggan namanya dimediakan menegaskan, program revolusi pertanian Malaka ternyata lebih unggul dari program swasembada pangan.

Sebab, yang dituju adalah masyarakat bisa mengolah lahan dan meningkatkan hasil panen padi dan jagung.

Bukan sebaliknya menunjukkan legalitas dari produk pertanian, namun output dari hasil tanam masyarakat tidak menghasilkan jumlah produksi yang diharapkan.

Berkaitan dengan swasembada pangan, yang mana secara harafiah masyarakat berkecukupan atas hasil pangan yang diproduksinya sendiri.

Namun kenyataan yang terjadi adalah harga beras mengalami kenaikan cukup signifikan. Itu berarti hasil panen masyarakat Malaka belum bisa mencukupi kebutuhan lokal, sehingga program swasembada pangan bisa dikatakan belum berhasil.

“Kita tidak perlu malu mengatakan bahwa masyarakat saat ini sedang tidak baik-baik saja terkait ketersediaan pangan,” ujar sumber itu.

Menurut dia, Pemerintah Kabupaten Malaka sudah melakukan intervensi dengan melakukan operasi pasar murah tentu saja patut diapresiasi.

“Tapi di lain sisi, hal ini berarti bahwa masyarakat Malaka kekurangan pangan dan bagaimana dengan program swasembada pangan?” tukas sumber itu.

“Apakah pada saat operasi pasar yang barusan dilakukan dan yang dibeli oleh masyarakat adalah Beras Nona Malaka yang selama ini digaungkan dan dibanggakan?” imbuh dia.

Menurutnya, yang diperlukan negeri ini adalah kearifan seorang pemimpin, sehati dalam upaya mensejahterakan masyarakat, bukan seorang pemimpi sejati.

“Butuh kerja keras dan refleksi diri untuk kita, tidak saja pemerintah tetapi kita semua dalam upaya bekerja untuk masyarakat Malaka,” ujarnya.

Menurut dia, pemerhati pembangunan dan pegiat pangan tidak perlu takut untuk berteriak dan mengkritisi pemerintah.

Sebaliknya pemerintah tidak perlu malu untuk mendengarkan kritikan dari mereka yang mengkritisi.

“Bila perlu ajak berdiskusi dan memperbaikinya. Saat ini atau tidak sama sekali dan mumpung masih diberi waktu,” tuturnya.

Penulis: Frido Umrisu Raebesi

DPRD Malaka Malaka Swasembada Pangan Malaka
Previous ArticlePenghayatan Kebebasan Penggunaan Media Sosial OMK dalam Terang Gaudium Et Spes Artikel 17
Next Article Kim Taolin, Sosok Pemimpin yang Dekat dan Dicintai Rakyat Malaka

Related Posts

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026
Terkini

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.