Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Bebas Pilihan Hidup, Proses menuju Autentisitas Diri
Gagasan

Bebas Pilihan Hidup, Proses menuju Autentisitas Diri

By Redaksi27 Oktober 20233 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Maria Roswita Boe
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Maria Roswita Boe

Mahasiswi Fakultas Filsafat Unwira Kupang

Pribadi yang autentik adalah pribadi yang sanggup menunjukkan keaslian dirinya, menjadi diri sendiri dan sanggup menentukan dirinya sendiri.

Menurut seorang Filsuf eksistensialis Albert Camus, manusia adalah ia yang memiliki hidupnya dan yang berkuasa atasnya.

Hidup yang bebas adalah wadah manusia berekspresi dan mengisi hidup dengan menunjukkan keaslian dirinya.

Dalam hal ini manusia dapat terus menjalani hidupnya dan terus berupaya untuk mencari makna dan memberi makna pada hidupnya atau manusia dapat memilih untuk menyerah dan bersikap apatis terhadap dunia yang absurd atau mustahil.

Dalam usaha pencarian makna dan arti hidup tersebut manusia dihadapkan dengan berbagai pertanyaan yang tidak akan selesai dijawab, tentang siapa dirinya, bagaimana ia hidup dan dari mana ia datang.

Ini adalah pertanyaan- pertanyaan yang sangat eksistensial yang mana membawa manusia itu sendiri pada satu titik di mana ia sendiri merasa hidup tidak berarti, tidak masuk akal, tidak bermakna dan tidak bernilai.

Albert Camus menyebut kondisi manusia seperti ini dengan absurditas. Absurditas merupakan suatu kondisi hidup manusia di mana ia tidak mampu memahami dunia yang bertentangan dengan kerinduan alamiahnya untuk menemukan kebenaran dan kejernihan.

Berhadapan dengan situasi seperti ini manusia dituntut untuk memahami diri secara autentik karena dengan autensitisitas yang ada dalam diri, manusia mampu menentukan pilihan dan menjalani hidupnya secara bebas.

Dengan memahami dan mengenal diri secara baik manusia mampu memberi makna pada hidup dengan keyakinan yang ia pilih. Pilihan itu membawanya pada suatu kebahagiaan yang tidak dapat diambil darinya, dan kebahagiaan itu menjadi bagian dari hidupnya.

Menentukan pilihan hidup untuk bahagia merupakan suatu kebebasan. Kebebasan itu merupakan suatu yang tidak dapat dipisahkan dari diri manusia, yang selalu ada dalam dirinya.

Dengan adanya kebebasan manusia dapat menentukan, memilih dan berkomitmen bahkan seorang filsuf eksistensialisme Jean Paul Sartre mengatakan kebebasan manusia itu tiada batasnya. Dengan kebebasan itulah manusia bertindak.

Berhadapan dengan kenyataan seperti ini pada jaman kita saat ini yang menjadi suatu pertanyaan adalah apakah para filsuf eksistensialisme mengenal apa yang disebut dengan kebebasan bertanggung jawab?

Kebebasan bertanggung jawab merupakan suatu kebebasan menyangkut keutuhan manusia di mana kebebasan itu meliputi hal- hal yang bersifat lahiriah dan batiniah.

Di sini manusia dihadapkan dengan suatu kenyataan bahwa segala sesuatu diperbolehkan, benar, namun bukan segala sesuatu berguna. Segala sesuatu diperbolehkan, benar.

Tetapi bukan segala sesuatu membangun. Di era modern di mana dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat pemahaman mengenai kebebasan bertanggung jawab dan pernyataan “segala sesuatu diperbolehkan, benar, namun bukan segala sesuatu berguna.

Segala sesuatu diperbolehkan, benar. Tetapi bukan segala sesuatu membangun”, menjadi suatu tantangan bagi setiap orang.

Orang akan selalu merasa tidak puas dan merasa bahwa segala sesuatu itu berguna dan dibutuhkan meskipun pada kenyataannya tidak berguna dan tidak dibutuhkan.

Menghadapi tantangan seperti ini orang dituntut untuk kembali masuk pada pengenalan diri yang autentik sehingga kebebasan dalam menjalani pilihan hidup itu membawanya pada suatu kebahagiaan yang tidak dapat diambil darinya dan bukan kebahagiaan semu yang bergantung pada barang- barang instan.

Maria Roswita Boe
Previous ArticlePemkab Malaka Mulai Benahi Drainase dalam Kota Betun, Warga Ucapkan Terima Kasih
Next Article Suami KDL Bantah Informasi yang Menuding Unhas Makassar Biarkan Kasus Perselingkuhan

Related Posts

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.