Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ekbis»Rencana Bisnis Parapuar Usung Konsep ‘Gendang One, Lingko Pe’ang’
Ekbis

Rencana Bisnis Parapuar Usung Konsep ‘Gendang One, Lingko Pe’ang’

By Redaksi27 Mei 20243 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) melakukan rapat sinkronisasi penajaman master plan dan rencana strategi bisnis parapuar Labuan Bajo di 101 Urban Thamrin, Jakarta pada Minggu (24/05/2024)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Labuan Bajo, Vox NTT- Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) melakukan rapat sinkronisasi penajaman master plan dan rencana strategi bisnis parapuar Labuan Bajo di 101 Urban Thamrin, Jakarta pada Minggu (24/05/2024).

Rapat tersebut dilakukan bersama tim ahli review master plan dan tim ahli review rencana strategi bisnis Parapuar.

Plt. Direktur Utama BPOLBF Frans Teguh menjelaskan, penajaman pada beberapa dokumen diperlukan untuk mendukung visi keberlanjutan Etno-Eco-Edu-Culture & Nature Conservation dalam pengembangan Kawasan Parapuar Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.

“Konsep Keberlanjutan adalah poin utama yang harus dimunculkan dan lebih dipertajam pada master plan dan rencana bisnis Parapuar, baik keberlanjutan dari segi budaya, kearifan lokal, lingkungan maupun korelasi ekonomi dan sosial yang berimplikasi secara teknis pada pengembangan,” kata Frans.

Menurut dia, master plan bisnis Parapuar mengusung konsep Etno-Eco-Edu-Culture & Nature Conservation yang berbasis pola ruang ‘Gendang One, Lingko Pe’ang’.

Selain itu, kata dia, langgam arsitektur juga mesti menampilkan kekhasan lokal dalam bentuk bangunan maupun desain arsitektur.

“Sehingga dapat menciptakan ruang yang merefleksikan keindahan dan identitas budaya 11 kabupaten koordinatif secara umum maupun budaya Manggarai secara khusus,” jelas Frans.

Filosofi ‘Gendang One, Lingko Pe’ang‘ sendiri merupakan ruang hidup orang Manggarai yang mencerminkan kedalaman nilai-nilai warisan leluhur.

Ruang ini secara umum mencakup lima bagian, yaitu Kampung (Beo Bate Elor/ Natas Bate Labar), Rumah Adat (Mbaru Bate Kaeng, Mbaru Gendang), Altar Persembahan (Compang Bate Takung), Kebun (Uma Bate Duat/ Lingko), dan Sumber Air (Wae Bate Teku).

Kelima unsur ini merupakan suatu kesatuan yang memberi makna bagi seluruh kehidupan masyarakat Manggarai.

Terkait dengan rencana induk kepariwisataan BPOLBF, Frans menekankan bahwa pengembangan Parapuar harus mampu memberi distribusi pertumbuhan ekonomi pada 11 kabupaten koordinatif BPOLBF yang meliputi Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sika, Lembata, Alor, Flores Timur, dan dua kecamatan di Bima.

“Rencana Induk Kepariwisataan BPOLBF mesti memberikan concern terkait pengembangan pariwisata di 11 Kabupaten Koordinatif. Targetnya adalah pengembangan kawasan pariwisata Parapuar dan Labuan Bajo bisa memberikan distribusi ekonomi baik secara nasional maupun kedaerahan khususnya pada 11 kabupaten koordinatif BPOLBF,” katanya.

Frans mengatakan, sebagai destinasi dengan basis alam dan budaya, Parapuar akan bergerak secara terukur ke quality tourism dan bukan mass tourism.

Mendukung visi besar ini, beberapa catatan dalam rapat tersebut juga berkaitan dengan rencana jangka panjang, seperti sistem transportasi terpadu berbasis energi baru terbarukan guna menjadikan Kawasan Parapuar sebagai destinasi yang ramah lingkungan, pengaturan flow pengunjung dan carying capacity kawasan dengan sentralisasi parkir serta pengaturan visitor management untuk penerapan Do and Don’ts  bagi wisatawan.

Diketahui, rapat tersebut membahas beberapa poin, antara lain; penyampaian progres review, penajaman sinkronisasi substansi penyusunan rencana induk kepariwisataan, master plan, rencana induk arsitektur, dan rencana strategi bisnis pada area HPL seluas 129, 60 hektare. [VoN]

BPOLBF Bukit Parapuar Labuan Bajo Direktur Utama BPOLBF Frans Teguh Plt. Direktur Utama BPOLBF
Previous ArticleEdi Endi Apresiasi Panitia Turnamen Bupati Mabar Cup 2024
Next Article Masih Mencari Pendampingnya di Pilkada Manggarai, Thomas Dohu: Butuh Chemistry

Related Posts

Perumda Air Minum Kota Kupang Luncurkan Promo Sambungan Baru dan Website Resmi Jelang HUT ke-17

2 Maret 2026

Kapal Pesiar Mewah Bawa 1.300 Turis Singgah di Kupang, Travel Agen Siapkan Tiga Destinasi

23 Februari 2026

Imigrasi Labuan Bajo Periksa Kedatangan Dua Kapal Pesiar Internasional

19 Februari 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.