Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Refleksi Pileg Tahun 2024, Demokrasi Bergerak dalam Balutan Uang
Gagasan

Refleksi Pileg Tahun 2024, Demokrasi Bergerak dalam Balutan Uang

By Redaksi5 Januari 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Agus Kabur
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Agus Kabur

Politisi Partai Demokrat Manggarai

Melihat ke belakang secara refleksif sangat perlu, terutama dalam beberapa peristiwa penting yang kita alami, baik yang berdampak positif maupun berdampak negatif kepada masyarakat.

Daripadanya kita bisa belajar mengambil yang baik dan tidak mengulangi yang buruk lalu disempurnakan.

Pencanangan babak ziarah pengharapan bagi Gereja Katolik sejagat membuat refleksi ini menjadi suatu yang relevan.

Di sini saya mempersembahkan tulisan refleksif sebagai hasil dari pengamatan langsung dan sebagai orang yang pernah, sedang dan berkecimpung langsung dalam seluruh proses demokrasi, baik melalui partai politik maupun dalam pemilu, pileg, pilpres dan pilkada.

Beberapa refleksi kritis Pileg, siapa ada uang dia yang lolos.

Dapat dilihat pada tahap penjaringan dan penyaringan bakal caleg, hampir semua partai peserta pemilu mengalami krisis dalam mengambil keputusan tokoh atau kader mana yang bakal diusulkan untuk menjadi caleg di antara kader dan tokoh yang banyak.

Semua partai ingin menang di parlemen dan di pihak lain kemenangan parlemen identik dengan jumlah kursi yang direbut.

Maka muncullah dua jenis caleg partai, yaitu caleg kader dan caleg non kader.

Di sinilah uang menjadi dasar pertimbangan dominan, dengan implikasi lemahnya ideologi partai dan intervensi partai munculnya caleg yang kerja lintas partai, persaingan caleg internal partai yang tidak sehat, praktek papalele politik atau politik papalele (jalan dari rumah ke rumah).

Demikian pengembalian ongkos politik fokus motivasi kerja. Kursi empuk yang diduduki anggota DPRD tidak datang dari langit, tapi buah dari kerja keras dengan biaya ratusan juta bahkan miliaran, mulai dari proses pencalegan, sosialisasi hingga blusukan alat peraga

Maka tidak heran kalau kerja DPRD menampilkan praktik bagaimana mengatur uang rakyat.

Pengguna anggaran dan pejabat terkait pengadaan barang dan jasa, negosiasi dan deal-deal tertentu baik di forum terbuka maupun dibalik tirai.

Kepentingan partai dan pedoman dalam mekanisme penetapan kebijakan publik diabaikan. Singkat cerita pamit dulu dengan partai tiga atau empat tahun lagi dalam rangka pemilu baru bertemu lagi.

Masih juga ditemui ada anggota DPRD yang selama satu periode belum dikenal dan belum mengenal rakyat dari dapilnya.

Itu hanya salah satu contoh. Yang kita saksikan adalah sandiwara, memang hidup ini adalah “we have to dramatize” palsu dan semu.

Terjadilah demokrasi beku, nepotisme dan kolusi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan hampir pasti ada korupsi di sana.

Praktik korupsi tidak perlu  dan tidak harus dibuktikan dengan adanya operasi tangkap tangan (OTT) atau dengan adanya proses peradilan.

Ada kekhawatiran publik karena praktik KKN sudah menjadi pengetahuan dan kebenaran umum maka tidak perlu lagi dibuktikan lewat peradilan.

Karena itu fenomena ini merupakan tantangan bagi aparat hukum dan masyarakat yang peduli termasuk parpol.

Agus Kabur
Previous ArticlePrabowo Klaim Kebijakan PPN 12 Persen Justru untuk Ciptakan Keadilan
Next Article Jokowi Nominasi Tokoh Terkorup, Agus Kabur Kaitkan Penyelenggaraan Kebijakan di Kabupaten Manggarai

Related Posts

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026
Terkini

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.