Ruteng, Vox NTT – Anggota Polres Manggarai, Aipda Hendrik Hanu yang terlibat dalam kasus ‘kekerasan’ terhadap Wartawan Floresa, Herry Kabut resmi dijatuhkan sanksi oleh Polda NTT dalam sidang etik yang digelar Selasa, 25 Februari 2025.
Sanksi yang dijauhkan ke Kanit IV Satuan Intelkam Polres Manggarai ini berupa permintaan maaf secara lisan dihadapan sidang kode etik dan permintaan maaf tertulis kepada Floresa.co dan Kapolri Jenderal Lystio Sigit Prabowo selaku pimpinan tertinggi.
Aipda Hendrik divonis bersalah dan terbukti melanggar pasal 5 ayat 1 huruf c dalam Peraturan Polri Nomor 7 Tahun 2022 tentang kode etik profesi Polri dan komisi kode etik Polri.”
Berdasarkan peraturan itu, Hendrik dinyatakan “tidak profesional dalam melakukan pengamanan kegiatan identifikasi dan pendataan awal lokasi” proyek Geotermal Poco Leok pada 2 Oktober 2024 saat Wartawan Floresa, Herry Kabut mendapat perlakuan kekerasan.
Sidang etik juga menilai perlakuan kekerasan Hendrik terhadap Wartawan Floresa merupakan perbuatan tercela dan sudah salah secara prosedur etik Polri.
Kepala Divisi Humas Polda NTT, Henry Novika Chandra berharap, dengan adanya keputusan ini seluruh anggota Polri dapat menjunjung tinggi profesionalisme dalam menjalankan tugas serta menghormati hak-hak masyarakat, termasuk kebebasan pers.
Sanksi yang diberikan kepada Hendrik, kata dia, merupakan komitmen Polda NTT dalam menegakkan kode etik profesi Polri guna menjaga integritas dan kepercayaan publik terhadap institusi.
Namun, Herry Kabut menilai sanksi yang dijatuhkan untuk Aipda Hendrik Hanu ini justru merupakan sebuah impunitas yang dipraktikan oleh Polri secara gamblang tanpa rasa malu.
Ia menganggap polisi tak punya rasa malu menjadi pelaku kekerasan dengan melanggenggkan impunitas, dalam hal ini Polda NTT justru terkesan melindungi anggota dari tindak pidana kekerasan.
Tak punya rasa malu lain yang ditunjukan polisi menurut Herry adalah kesaksian Hendrik yang tidak sesuai kenyataan di lapangan.
Herry mengaku, saat peristiwa itu Hendrik mengunci lehernya saat ia turun dari mobil polisi untuk mengambil foto warga Poco Leok yang ditangkap saat aksi.
Karena Hendrik ia menjadi sasaran pukulan dari sejumlah orang. Salah satunya adalah TJ, wartawan yang hingga saat ini belum terindentifikasi oleh Voxntt.com
Penganiayaan itu membuat Herry mengalami luka di sejumlah bagian tubuhnya, sebelum kemudian ia ditempatkan dalam mobil polisi lalu dibebaskan jelang malam.
Tetapi dalam sidang etik, pengakuan Hendrik berbeda sama sekali dengan peristiwa di lapangan.
Misalnya, kata dia, pernyataan Hendrik yang menyebut dirinya hanya merangkul dan mengamankan.
“Padahal leher saya dikunci, dipukul hingga ada luka memar pada bagian wajah,” kata Herry.
“Kalau Hendrik mau mengamankan saya, kenapa dia menggiring saya ke samping mobil TNI, lalu membiarkan aparat, termasuk wartawan TJ ikut memukul saya?” lanjutnya.
Ia berkata, pengakuan Hendrik membuatnya geleng-geleng kepala, “karena seolah-olah dia adalah polisi yang sangat baik hati yang saat itu mau melindungi saya.”
“Padahal, dia yang membuat saya tidak berdaya, lalu menjadi sasaran pemukulan,” katanya.
Ia menambahkan, “kesaksiannya di ruangan sidang membuat saya sempat berkata di hadapan majelis bahwa ‘saya sebetulnya trauma dan tidak mau lagi melihat muka polisi.
Penulis: Berto Davids