Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HUKUM DAN KEAMANAN»Gubernur NTT Kritik Nepotisme di Bank NTT, Kompak Indonesia Desak Reformasi Total
HUKUM DAN KEAMANAN

Gubernur NTT Kritik Nepotisme di Bank NTT, Kompak Indonesia Desak Reformasi Total

By Redaksi3 Mei 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ketua Kompak Indonesia, Gabriel Goa
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, VoxNTT.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, melontarkan kritik tajam terhadap praktik pengelolaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang dinilai sarat kepentingan politik, khususnya di tubuh Bank NTT. Hal ini disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi II DPR RI di Jakarta, Selasa, 29 April 2025.

Dalam forum tersebut, Gubernur Melki mengungkapkan keprihatinannya terhadap kinerja lima BUMD milik Pemerintah Provinsi NTT yang dinilai belum memberikan kontribusi optimal terhadap pendapatan daerah.

Ia secara khusus menyoroti Bank NTT yang meski memiliki aset sebesar Rp16 triliun, belum mampu menyumbang dividen secara maksimal.

“Dividen yang bisa dikasih saya lihat masih kecil. Ini karena, seperti yang disampaikan teman-teman Bupati, ada pengakomodasian tim sukses dalam berbagai urusan, termasuk penempatan jabatan di BUMD seperti Bank NTT,” ujar Melki.

Ia menilai keterlibatan tim sukses dalam penempatan posisi strategis telah melemahkan kinerja profesional lembaga tersebut.

Menurutnya, kondisi ini tidak hanya menurunkan profitabilitas, tetapi juga mengganggu akuntabilitas dan tata kelola perusahaan yang sehat.

Pernyataan itu menuai dukungan dari Koalisi Masyarakat Pemberantasan Korupsi (Kompak) Indonesia.

Melalui ketuanya, Gabriel Goa, Kompak menyerukan reformasi menyeluruh terhadap tata kelola Bank NTT yang kini tengah diterpa sejumlah kasus hukum, mulai dari dugaan korupsi hingga kredit macet bernilai miliaran rupiah.

“Sudah saatnya NTT diselamatkan dari praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme berjamaah yang selama ini merampok hak-hak sosial dan ekonomi rakyat miskin,” kata Gabriel dalam pernyataan tertulis yang diterima media, Sabtu, 3 Mei 2025.

Kompak menyoroti sejumlah nama calon Direktur Utama dan Komisaris Utama Bank NTT yang disebut-sebut terlibat dalam perkara pidana umum maupun tindak pidana korupsi.

Mereka mendesak Gubernur dan 22 kepala daerah sebagai pemegang saham agar tidak meloloskan kandidat bermasalah.

“Kalau kepala daerah masih bermain mata, berarti mereka turut melanggengkan kejahatan struktural terhadap rakyat,” tegas Gabriel.

Kompak juga menyoroti lambannya penanganan kasus Medium Term Notes (MTN) senilai Rp50 miliar yang mandek di Kejaksaan Tinggi NTT.

Selain itu, ada pula perkara kredit macet senilai lebih dari Rp100 miliar oleh PT Pundi Mas dan kasus lain yang kini ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Gedung Merah Putih.

Tak hanya itu, Kompak mendesak Jaksa Agung RI agar mencopot Kepala Kejati NTT dan Asisten Pidana Khusus karena dinilai tidak transparan dan akuntabel dalam menangani kasus strategis tersebut.

“Kami menyerukan dukungan penuh kepada KPK dan Kejaksaan Agung untuk segera mengungkap aktor intelektual di balik korupsi berjamaah ini,” ujar Gabriel.

Di tengah krisis kepercayaan publik terhadap BUMD, pernyataan Gubernur Melki menjadi titik awal penting dalam upaya membenahi tata kelola perusahaan daerah yang selama ini dinilai lebih melayani elite politik ketimbang publik.

“Reformasi Bank NTT harus dimulai dengan keberanian memutus mata rantai patronase politik,” tulis Gabriel, seraya mengajak penggiat antikorupsi dan media untuk turut mengawal proses tersebut. [VoN]

Bank NTT Emanuel Melkiades Laka Lena Gabriel Goa Kompak Kompak Indonesia Melki Laka Lena
Previous ArticleAyah, Bahu Kehidupan dan Cinta Tersembunyi
Next Article Walhi NTT Nilai Proyek Geotermal Ancam Program Hilirisasi Non-Tambang Gubernur Laka Lena

Related Posts

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Belanja Pegawai NTT Tembus 40 Persen, Gubernur dan Kepala Daerah Siap Lobi Tiga Kementerian

3 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.