Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»NTT Luncurkan Musik Keren: Ikhtiar Menjadikan Kelompok Rentan Subjek Pembangunan
NTT NEWS

NTT Luncurkan Musik Keren: Ikhtiar Menjadikan Kelompok Rentan Subjek Pembangunan

By Redaksi15 Mei 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Gubernur NTT, Melki Laka Lena, meluncurkan Musrenbang Inklusif Kelompok Rentan atau Musik Keren, Rabu pagi, 14 Mei 2025 (Foto: Dio Cenfin/ Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, VoxNTT.com — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi meluncurkan Musrenbang Inklusif Kelompok Rentan atau Musik Keren, sebagai bagian dari penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2026 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029.

Di tengah dominasi pendekatan top-down dalam perencanaan pembangunan di Indonesia, inisiatif ini menjadi langkah progresif yang menandai niat serius Pemprov NTT untuk membalik arah pembangunan: dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk semua rakyat—terutama mereka yang selama ini termarginalkan.

Gubernur NTT, Melki Laka Lena, dalam peluncuran program tersebut menegaskan, Musik Keren bukan sekadar simbol atau panggung retorika.

“Forum ini menjadi titik balik. Kelompok rentan tidak boleh lagi sekadar objek belas kasihan, melainkan aktor utama dalam pembangunan,” kata Melki, sembari menyebut kelompok perempuan, anak, lansia, penyandang disabilitas, masyarakat adat, hingga pengidap HIV sebagai bagian dari masyarakat yang harus dilibatkan secara setara.

Politik Anggaran yang Lebih Demokratis

Musik Keren adalah upaya konkret untuk mendorong politik anggaran yang lebih demokratis.

Aspirasi dari kelompok rentan, dihimpun baik secara daring maupun luring dari 22 kabupaten/kota, menjadi dasar formulasi kebijakan.

Prosesnya difasilitasi Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) dengan dukungan Pemprov dan Program SKALA. Hasilnya: lebih dari 200 usulan terjaring—dengan penyandang disabilitas menyumbang porsi aspirasi terbanyak (45%), disusul forum anak (28%) dan perempuan (10%).

Aspirasi tersebut meliputi isu krusial seperti akses pendidikan inklusif, layanan kesehatan yang adil, perlindungan sosial, peluang ekonomi, serta perlindungan hukum terhadap kekerasan berbasis gender dan perdagangan orang.

Seluruh usulan akan diintegrasikan ke dalam dokumen RKPD dan RPJMD serta menjadi indikator pembangunan inklusif dalam sistem pemantauan dan evaluasi daerah.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi NTT, Alfonsus Theodorus, menyebut Musik Keren sebagai mekanisme yang menjamin partisipasi bermakna dari kelompok rentan.

“Ini adalah bentuk koreksi terhadap praktik pembangunan yang selama ini terlalu teknokratis dan sering abai pada suara-suara yang paling terdampak kebijakan,” ujarnya.

Suara yang Selama Ini Sunyi

Simbolisme peluncuran bukanlah puncak, tetapi justru permulaan dari pembongkaran struktur eksklusivitas dalam perencanaan pembangunan.

Mario Lado dari Komunitas Tuli Kupang menyuarakan harapan itu dengan lugas.

“Inklusi bukan bantuan atau belas kasihan. Inklusi adalah hak kami. Maka libatkan kami dalam setiap keputusan yang menyangkut hidup kami,” kata Mario, yang juga menyoroti pentingnya kehadiran juru bahasa isyarat (JBI) dalam setiap forum Musrenbang tahun ini.

Pernyataan Mario menjadi pengingat penting: bahwa inklusi bukan sekadar menyisipkan agenda kelompok rentan ke dalam rencana pembangunan, tetapi memastikan mereka hadir dan didengar sejak awal—dalam ruang-ruang pengambilan keputusan.

Dari Pinggiran ke Pusat

Peluncuran Musik Keren adalah batu loncatan penting dalam perjalanan panjang menuju pembangunan yang adil.

Tantangannya kini adalah konsistensi implementasi. Apakah kabupaten/kota akan mengadopsi mekanisme serupa? Apakah usulan yang telah dihimpun benar-benar diakomodasi, bukan hanya disimpan dalam dokumen seremonial?

Jika pemerintah daerah sungguh-sungguh, Musik Keren bukan hanya menjadi irama baru dalam tata kelola pembangunan NTT, melainkan simfoni sosial yang menempatkan semua suara—termasuk yang selama ini terpinggirkan—dalam harmoni yang setara. [VoN]

Emanuel Melkiades Laka Lena Gubernur NTT Melki Laka Lena Musik Keren Musrenbang Inklusif Kelompok Rentan
Previous ArticleGubernur NTT Buka Musrenbang RKPD dan RPJMD, Tekankan Sinkronisasi Pusat-Daerah
Next Article Pemuda Katolik NTT Audiensi dengan Kemensos, Bahas Sinergi Program Sosial

Related Posts

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.