Oleh: Pater Darmin Mbula, OFM
Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)
Jam Terbang Tinggi (JTT) dalam konteks Refugee Day dalam novel fiksi Salt to the Sea mencerminkan kedewasaan moral pemimpin spiritual religius untuk memahami bahwa keadilan, perdamaian, dan ekologi integral hanya dapat terwujud ketika kita mendengar suara para pengungsi sebagai saksi sejarah ketidakadilan dan penjaga harapan akan kemanusiaan yang utuh serta pembela bonum commune.
Refugee Day dalam konteks Salt to the Sea mengajarkan bahwa penderitaan manusia, termasuk trauma perang dan kekerasan seksual, bukan sekadar rumor apalagi horor dibumbui humor, melainkan luka nyata yang menghancurkan hidup dan martabat manusia sebagai buah cinta Ilahi.
Ketika pemimpin dengan jam terbang tinggi meremehkan penderitaan korban, kita diingatkan betapa pentingnya empati dan keberanian untuk mendengar kebenaran, sebagaimana novel Salt to the Sea mengangkat suara-suara yang selama ini dibungkam sejarah.
Di negeri ini, seorang pejabat publik dan pemimpin spiritual religius dengan dingin menyebut pemerkosaan, kekerasan seksual dan atau bunuh diri, perdagangan manusia, hanyalah rumor atau horor bahkan humor semata, sebuah kata yang disuarakan tanpa rasa takut akan kegelapan yang menyelimuti kebenaran cinta.
Namun, cinta akan kebenaran yang sebenarnya tak terucapkan, terpendam di dalam bisu mereka yang tenggelam di laut lepas, di antara gelombang yang menyembunyikan jeritan tanpa suara dan luka yang tak pernah terobati.
Mereka yang mati dan menghilang membawa rahasia terberat, saksi sunyi dari kekejaman yang tak pernah terungkap, sementara dunia terus berpaling, membiarkan kabut dusta menutupi wajah-wajah yang seharusnya didengar dan dihormati.
Dalam hening yang kelam itulah terpendam cerita pilu, yang tak pernah sampai ke bibir, tapi tetap mengalir dalam darah dan sejarah negeri yang terluka, Indonesia tanah airku yang kucintai.
Salt to the Sea adalah novel fiksi sejarah karya Ruta Sepetys yang berlatar belakang Perang Dunia II, khususnya tragedi tenggelamnya kapal Wilhelm Gustloff pada tahun 1945, salah satu bencana maritim paling mematikan dalam sejarah peradaban manusia, namun jarang dinarasikan dalam ruang belajar publik.
Hari Pengungsi Sedunia
Hari Pengungsi Sedunia yang diperingati setiap 20 Juni bukan hanya tentang menghormati para pengungsi, tetapi juga menjadi momentum reflektif atas ketidakadilan sosial dan ekologis yang makin merajalela di abad ke-21.
Krisis iklim, konflik bersenjata, eksploitasi sumber daya, serta ketimpangan global telah memaksa jutaan manusia untuk meninggalkan tanah air mereka tanpa jaminan keselamatan atau martabat hidup.
Naomi Klein dalam bukunya This Changes Everything: Capitalism vs. The Climate (2014) menunjukkan bagaimana kapitalisme global berkontribusi pada kerusakan ekologis yang mendalam dan memperparah migrasi paksa.
Dalam dunia yang semakin tidak adil, pengungsi menjadi wajah nyata dari dampak sistem ekonomi-politik yang menindas dan tidak berkelanjutan.
Lebih jauh, pengungsi kerap mengalami perendahan martabat, dilihat sebagai beban atau ancaman alih-alih korban dari sistem yang gagal melindungi kehidupan.
Hannah Arendt dalam karya klasiknya The Origins of Totalitarianism (1951) mengingatkan bahwa hilangnya kewarganegaraan membuat manusia kehilangan “hak untuk memiliki hak”, sebuah bentuk perampasan kemanusiaan paling mendasar.
Dalam konteks ini, Hari Pengungsi Sedunia mengajak kita untuk menolak sikap apatis dan menggugah kembali komitmen global pada keadilan, keberlanjutan, dan penghormatan atas martabat manusia, apapun latar belakang atau status hukum mereka.
Peringatan ini bukan hanya tentang belas kasihan, tetapi tentang tanggung jawab moral dan politik untuk memperjuangkan dunia yang lebih adil secara sosial ekologis.
Moral Eksistensial
Cerita ini mengikuti perjalanan empat tokoh muda dari latar belakang berbeda: Joana, seorang perawat asal Lithuania; Florian, prajurit Prusia dengan rahasia besar; Emilia, gadis Polandia yang sedang hamil; dan Alfred, pelaut muda Nazi yang penuh delusi.
Joana adalah seorang perawat asal Lithuania yang penuh belas kasih, tangguh, dan diliputi rasa bersalah karena keputusan masa lalunya yang meninggalkan keluarganya demi keselamatan.
Ia digambarkan sebagai sosok yang cerdas dan reflektif, selalu berusaha menyembuhkan luka orang lain meskipun ia sendiri terluka secara emosional. Karakter Joana mencerminkan kekuatan perempuan dalam menghadapi horor perang sambil tetap menjaga sisi kemanusiaannya.
Florian adalah seorang prajurit Prusia yang cerdas dan tertutup, membawa rahasia besar tentang kejahatan seni Nazi sambil berjuang menebus masa lalunya dan menemukan kembali kepercayaan pada orang lain.
Rahasia kejahatan seni Nazi yang dibawa oleh Florian dalam Salt to the Sea berkaitan dengan keterlibatannya dalam operasi pencurian karya seni berharga oleh rezim Nazi, khususnya karya seni dari Polandia dan negara-negara jajahan.
Florian sebelumnya bekerja sebagai asisten restorator seni untuk Nazi, tetapi setelah menyadari bahwa ia dimanfaatkan untuk melestarikan dan menyelundupkan karya seni curian, termasuk karya penting seperti Amber Room, ia membelot dan mencuri salah satu artefak langka sebagai bentuk perlawanan.
Rahasia ini membuatnya menjadi buronan, dan selama pelarian, ia menyembunyikan identitas serta artefak tersebut, sambil diliputi rasa bersalah dan dilema moral.
Emilia adalah gadis Polandia muda yang sedang hamil dan membawa luka mendalam akibat kekejaman perang, termasuk trauma akibat pemerkosaan oleh tentara Soviet.
Meskipun tampak rapuh, Emilia memiliki keberanian dan ketabahan luar biasa, serta naluri keibuan yang kuat yang mendorongnya untuk melindungi bayinya di tengah kekacauan pelarian.
Karakternya mencerminkan kerentanan dan kekuatan perempuan muda dalam menghadapi kekerasan perang yang tak terkatakan.
Pergolakan moral Emilia terletak pada perjuangannya untuk mempertahankan martabat dan harapan hidup di tengah rasa malu, trauma, dan keinginan melindungi anak yang lahir dari kekerasan perang.
Karakter Emilia menunjukkan ethical excellence melalui keberaniannya memilih kasih sayang dan pengorbanan, ia melindungi bayinya dan sesama pengungsi meskipun dirinya sendiri rapuh dan terluka.
Ia juga mencerminkan moral eksistensial dengan tetap mempertahankan nilai kemanusiaan dan makna hidup di tengah kekacauan perang, menjadikan pilihannya sebagai tindakan bermakna yang melampaui penderitaan pribadi.
Alfred adalah pelaut muda Nazi yang tenggelam dalam delusi kehebatan diri dan ideologi, menggunakan surat-surat imajiner kepada gadis pujaannya sebagai pelarian dari kenyataan perang yang brutal.
Ia gagal menunjukkan moral eksistensial karena memilih hidup dalam kebohongan dan kesetiaan buta terhadap sistem yang menindas, tanpa pernah benar-benar mempertanyakan makna tindakannya.
Tidak seperti tokoh lain, Alfred justru mencerminkan ketiadaan ethical excellence, menjadi simbol bagaimana kekosongan nilai dan kerapuhan identitas dapat mendorong seseorang menjadi alat dari kejahatan struktural.
Alfred berdelusi karena ia hidup dalam dunia khayalan yang dibangun dari propaganda Nazi dan surat-surat fiktif kepada kekasihnya, yang membuatnya menutup mata terhadap kekejaman perang dan kenyataan di sekitarnya.
Delusinya ini menjadi pelindung psikologis yang memisahkannya dari rasa bersalah dan tanggung jawab atas tindakan yang ia lakukan sebagai bagian dari rezim yang brutal.
Contoh delusi Alfred terlihat ketika ia menulis surat-surat penuh khayalan kepada Maria, gadis pujaan yang sebenarnya tidak pernah membalas atau mungkin bahkan tidak ada, serta saat ia percaya bahwa dirinya adalah pahlawan dan masa depan Jerman, meski tindakannya justru memperkuat kekejaman Nazi.
Selain itu, Alfred seringkali mengekspresikan kebanggaan buta terhadap ideologi Nazi dan meremehkan penderitaan orang lain, menunjukkan bagaimana ia terjebak dalam ilusi kekuasaan dan kesetiaan yang tidak realistis.
Melalui sudut pandang bergantian dari keempat tokoh ini, Sepetys menghidupkan kisah pelarian pengungsi dari kekejaman tentara Soviet di Prusia Timur menuju kapal pengangkut yang dijanjikan sebagai jalan keselamatan.
Novel ini bukan hanya menyajikan gambaran realistis tentang kengerian perang dan penderitaan sipil, tetapi juga menyoroti pentingnya kemanusiaan, pengorbanan, dan harapan dalam situasi ekstrem.
Dengan gaya bahasa yang puitis namun tajam, Sepetys memperlihatkan bagaimana trauma, rasa bersalah, dan rahasia pribadi membentuk identitas setiap karakter.
Salt to the Sea bukan sekadar catatan sejarah yang diromanisasi, tetapi juga kritik terhadap pengabaian tragedi sipil dalam narasi besar perang.
Novel ini menggugah kesadaran pembaca akan sisi kemanusiaan yang kerap terlupakan, sekaligus mengajak kita untuk mengenang para korban yang tak tercatat dalam buku sejarah resmi.
Krisis Migrasi Global
Novel Salt to the Sea karya Ruta Sepetys, meskipun berlatar Perang Dunia II, memiliki relevansi yang sangat kuat dengan isu-isu kontemporer abad ke-21, terutama terkait pengungsi, migrasi gelap, ketidakadilan sosial, dan krisis ekologi struktural.
Tragedi tenggelamnya Wilhelm Gustloff yang menjadi inti cerita merupakan simbol dari penderitaan para pengungsi dan pencari suaka yang, demi keselamatan dan harapan masa depan, harus menempuh jalur berbahaya, bahkan mempertaruhkan nyawa.
Fenomena ini paralel dengan krisis migrasi global saat ini, seperti pengungsi Suriah, Rohingya, atau para migran Afrika dan Asia yang mencoba menyeberangi Laut Mediterania atau Laut Andaman.
Dalam kedua konteks, manusia didorong keluar dari tanah kelahiran mereka oleh kekerasan, penindasan, dan kemiskinan yang berakar pada struktur sosial-politik yang timpang.
Salt to the Sea juga mencerminkan bagaimana identitas dan martabat manusia bisa terhapus di tengah kekacauan sistemik.
Dalam novel, tokoh-tokoh seperti Emilia atau Florian tidak hanya berjuang melawan musuh fisik, tetapi juga melawan narasi yang mengabaikan penderitaan mereka sebagai pengungsi.
Hal yang sama terjadi pada migran masa kini yang kerap dilabeli “ilegal” atau “beban sosial”, padahal mereka adalah korban dari tatanan global yang tidak adil.
Seperti yang dikemukakan oleh Saskia Sassen dalam bukunya Expulsions: Brutality and Complexity in the Global Economy (2014), migrasi paksa di era modern sering kali bukan pilihan bebas, tetapi hasil dari kekuatan ekonomi-politik global yang mendorong jutaan orang keluar dari wilayah hidup mereka akibat konflik, perampasan tanah, atau kehancuran ekologis.
Ketidakadilan sosial dan ekologis yang menjadi akar migrasi paksa ini juga dijelaskan oleh Leonardo Boff dalam karya-karyanya tentang ekologi integral.
Boff menegaskan bahwa kehancuran ekologis tidak pernah berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan penindasan sosial dan politik terhadap kelompok rentan.
Dalam konteks Salt to the Sea, kita melihat bagaimana perang bukan hanya merusak manusia secara fisik, tetapi juga memusnahkan lanskap tempat tinggal dan akar-akar budaya—sebuah bentuk kehancuran ekologi manusiawi.
Demikian pula di abad ke-21, perubahan iklim, deforestasi, dan bencana lingkungan memaksa jutaan orang meninggalkan tanah mereka, menjadi “migran iklim” yang tak diakui secara hukum maupun kemanusiaan.
Apa yang dilakukan Ruta Sepetys lewat novelnya adalah membalikkan narasi dominan yang sering kali melihat pengungsi dan migran hanya dari perspektif statistik atau ancaman politik.
Ia mengembalikan wajah kemanusiaan pada mereka, sama seperti yang dilakukan oleh pakar migrasi seperti Ai Weiwei dalam dokumenternya Human Flow, yang menggambarkan penderitaan dan ketabahan para pengungsi di dunia modern.
Dalam novel, pembaca diajak untuk merasakan ketakutan, harapan, dan luka batin para tokohnya, yang menggambarkan betapa kompleksnya realitas migrasi paksa.
Ini membangun empati yang mendalam, sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam kebijakan global yang lebih manusiawi.
Dengan demikian, Salt to the Sea tidak hanya relevan secara historis, tetapi juga menjadi cermin reflektif bagi krisis kemanusiaan di abad ke-21.
Novel ini memperlihatkan bahwa di balik setiap gelombang migrasi gelap atau krisis pengungsi, ada persoalan struktural yang harus diurai: ketimpangan global, kolonialisme ekonomi, dan penghancuran lingkungan.
Membaca novel ini dalam terang pemikiran-pemikiran kritis seperti milik Saskia Sassen, Leonardo Boff, atau bahkan Naomi Klein (This Changes Everything), membantu kita memahami bahwa solusi tidak cukup berhenti pada bantuan darurat, tetapi menuntut perubahan sistemik menuju keadilan sosial dan ekologis yang berkelanjutan.
Model Pastoral Orang Samaria yang Baik Hati
“Semua Karena Cinta” adalah prinsip moral yang sangat relevan dalam menghadapi tantangan migrasi global dan lokal serta krisis pengungsi yang terus berkembang akibat ketidakadilan sosial dan ekologis.
Dalam kerangka ekologi keadilan, cinta bukan hanya perasaan belas kasih, melainkan komitmen aktif untuk membela kehidupan dan martabat manusia yang terpinggirkan oleh kekuatan ekonomi, konflik, dan kerusakan lingkungan.
Model pastoral “Orang Samaria yang Baik Hati” sebagaimana diuraikan oleh Paus Fransiskus dalam Fratelli Tutti (2020), menawarkan paradigma keberpihakan tanpa syarat, yang menembus batas agama, bangsa, dan ideologi demi merawat mereka yang luka dan tertinggal di jalan sejarah.
Dalam dunia yang terpolarisasi, tindakan cinta semacam ini menjadi tanda profetik dan jalan menuju pemulihan bersama.
Paus Fransiskus menegaskan bahwa “Orang Samaria yang Baik Hati” tidak bertanya siapa yang layak ditolong, tetapi menjadikan penderitaan orang lain sebagai panggilan cinta kasih yang tidak bisa diabaikan.
Dalam konteks pastoral, cinta seperti ini mendorong Gereja dan masyarakat untuk keluar dari zona nyaman bourjuis feodalis kapitalis teknokratis—membangun jaringan solidaritas dengan pengungsi dan migran melalui kebijakan inklusif, penyambutan yang manusiawi, dan perlindungan hak-hak dasar.
Sejalan dengan pandangan teolog Gustavo Gutiérrez dalam A Theology of Liberation (1971), cinta sejati selalu berpihak pada yang miskin dan tertindas, karena di sanalah wajah Tuhan hadir dalam sejarah.
Dengan demikian jelaslah sudah Jam Terbang Tinggi seorang pemimpin spiritual religius sebaik baiknya berdampak pada “Semua Karena Cinta” bukan sekadar slogan, tetapi landasan spiritual dan etis bagi tindakan nyata yang menghidupkan keadilan ekologis dan martabat insani di tengah krisis pengungsi dan migrasi global kemanusiaan.

