Oleh: Pater Darmin Mbula, OFM
Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)
Terbang Sejati Ekaristis (TSE) memadatkan makna: jam terbang sejati yang dibentuk oleh pengalaman spiritual mendalam (sejati), yang berakar pada dan diarahkan oleh kekuatan visi Ekaristis, mendorong aksi nyata demi ekologi keadilan.
Jam Terbang Sejati (JTS) merupakan simbol dari kedewasaan dan kematangan yang diperoleh melalui pengalaman perjumpaan spiritual dan refleksi mendalam.
Dunia Profesional dan Profetis
Jam terbang sejati dalam dunia profesional dan profetis mencerminkan integrasi antara pengalaman yang mendalam, keahlian yang terasah, dan ketajaman moral dalam membaca tanda-tanda zaman.
Dalam dunia profesional maupun profetis, seseorang yang memiliki jam terbang sejati tidak hanya dinilai dari seberapa lama ia berkarya, tetapi seberapa dalam ia memahami proses, kegagalan, dan makna dari setiap perjalanan.
Malcolm Gladwell dalam Outliers menekankan bahwa keunggulan profesional bukanlah hasil bakat semata, melainkan buah dari ribuan jam latihan dan keterlibatan nyata dalam medan hidup yang kompleks.
Seperti yang dijelaskan oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers (2008), keunggulan seseorang sering kali dicapai setelah melewati 10.000 jam latihan yang terarah, suatu bukti bahwa kemahiran sejati tidak bisa dipisahkan dari konsistensi dan ketekunan.
Dalam konteks profetis, Walter Brueggemann dalam The Prophetic Imagination menegaskan bahwa pemimpin yang berpengaruh lahir dari kepekaan batin yang dibentuk oleh penderitaan, kontemplasi, dan komitmen terhadap ekologi keadilan, yang hanya bisa ditempa melalui perjalanan panjang dan pengolahan spiritual yang jujur.
Ekologi Keadilan
Prinsip utama dari ekologi keadilan adalah keterhubungan integral antara keadilan sosial dan kelestarian lingkungan, di mana kerusakan alam sering kali berdampak paling parah pada kelompok miskin dan terpinggirkan.
Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ menegaskan bahwa “tidak ada dua krisis terpisah, satu lingkungan dan satu sosial, melainkan satu krisis kompleks yang bersifat sekaligus sosial dan ekologis.”
Oleh karena itu, solusi terhadap krisis ekologi harus mencakup pembelaan terhadap kaum lemah dan reformasi struktural yang menegakkan keadilan bagi manusia dan seluruh ciptaan.
Konsep jam terbang dalam kepemimpinan religius-spiritual mencerminkan kedalaman pengalaman yang bukan hanya terasah oleh waktu, tetapi juga oleh keterlibatan nyata dalam pergulatan sosial, humanis, dan ekologis.
Seorang pemimpin yang memiliki jam terbang tinggi tidak sekadar memahami ajaran iman secara doktrinal, melainkan telah menjalani dan merasakannya di tengah ketidakadilan sosial—menyatu dengan derita umat, kerusakan lingkungan, dan jeritan kaum kecil.
Dalam semangat ekologi integral seperti yang dikatakan Paus Fransiskus dalam Laudato Si’, pemimpin seperti ini tidak melihat alam dan manusia secara terpisah, tetapi sebagai satu kesatuan ciptaan yang harus diperjuangkan secara menyeluruh.
Dengan demikian, jam terbang sejati seorang pemimpin religius bukan hanya soal lamanya waktu berkarya, tetapi teruji dalam kesetiaannya merawat martabat manusia dan bumi secara bersamaan, dengan hati yang mendalam dan spiritualitas yang membumi.
Visi Ekaristi
Keterhubungan fundamental antara jam terbang sejati, ekologi keadilan, dan vidi Ekaristi terletak pada pengalaman spiritual yang teruji dalam keterlibatan konkret membela martabat manusia dan merawat ciptaan.
Seperti diungkapkan Paus Fransiskus dalam Laudato Si’, pemimpin dan umat yang dibentuk oleh Ekaristi dipanggil untuk hidup dalam “pertobatan ekologis,” yang hanya mungkin jika ditopang oleh pengalaman panjang dalam mendengarkan jeritan bumi dan kaum miskin, buah dari jam terbang yang matang secara rohani dan sosial.
Menurut Lukas Briola dalam The Eucharistic Vision of Laudato Si’, visi Ekaristi menjadi fondasi utama bagi ekologi integral karena mengajarkan umat untuk memuji (praise) Allah melalui syukur atas ciptaan yang dianugerahkan.
Dari pujian itu tumbuh panggilan untuk pertobatan (conversion), yakni perubahan cara pandang dan hidup yang mengarah pada gaya hidup sederhana, solider dengan yang miskin, serta sadar akan tanggung jawab ekologis.
Ekaristi membentuk umat menjadi komunitas yang menghayati relasi saling merawat antara manusia, alam, dan Allah sehingga spiritualitas liturgis menjadi sumber nyata tindakan keadilan ekologis yang integral.
Bahwasanya kedalaman spiritual harus diwujudkan dalam tindakan nyata di tengah dunia, menjadikan komunitas Ekaristis sebagai pusat pembaruan relasi dengan Allah, sesama, dan seluruh ciptaan.
Visi Ekaristis menjadi orientasi pembentukan hati ekologis, dimana perayaan sakramen bukan hanya ritus, melainkan perjumpaan spiritual dengan Kristus yang memanggil untuk mencintai ciptaan secara utuh.
Dalam persekutuan itu, umat belajar menjadi komunitas yang transformatif, merawat bumi dan sesama dengan cinta yang konkret dan penuh pengharapan.
Dalam Care for Creation, Ilia Delio menegaskan bahwa jam terbang sejati para pemimpin religius-spiritual tercermin dari kesediaan mereka untuk hidup dalam keterhubungan mendalam dengan bumi dan sesama, yang lahir dari spiritualitas inkarnatif dan pelayanan nyata.
Komunitas Ekaristi, menurutnya, menjadi sumber daya rohani yang membentuk kesadaran ekologis dan komitmen keadilan, di mana cinta akan ciptaan tumbuh dari pengalaman iman yang teruji dan terwujud dalam tindakan kasih yang menyeluruh
Semua karena Cinta
Semua Karena Cinta bukan sekadar slogan, tetapi landasan spiritual dan etis bagi tindakan nyata yang menghidupkan keadilan ekologis dan martabat insani di tengah krisis global kemanusiaan.
Semua karena cinta-Nya, seorang pemimpin religius dan spiritual yang dibentuk oleh Ekaristi dan memiliki jam terbang sejati akan mampu mewujudkan keadilan, perdamaian, dan ekologi integral sebagai buah iman yang hidup.
Ilia Delio, dalam bukunya The Unbearable Wholeness of Being, menekankan bahwa cinta ilahi adalah daya evolusioner yang menggerakkan keterhubungan antara Tuhan, manusia, dan ciptaan menuju kesatuan dan kesejahteraan bersama.
Dengan cinta yang berakar dalam Ekaristi, pemimpin sejati membangun kebahagiaan berkelanjutan bukan hanya untuk manusia, tetapi juga bagi seluruh ciptaan sebagai satu keluarga kosmik.
Jam terbang sejati adalah proses panjang pembentukan diri melalui pengalaman hidup, doa, dan pelayanan yang berpuncak dalam perjumpaan dengan Kristus dalam Ekaristi.
Dalam Ekaristi, kita belajar bahwa seluruh ciptaan saling terhubung sebagai satu keluarga kosmik, di mana kasih Allah menyatukan manusia, alam, dan seluruh semesta dalam harmoni ilahi.
Semuanya karena cinta, kasih yang menjadi sumber, jalan, dan tujuan hidup, yang menggerakkan pemimpin spiritual dan setiap insan untuk hidup dalam tanggung jawab, kedamaian, dan kepedulian terhadap sesama dan bumi.

