Labuan Bajo, VoxNTT.com – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi menetapkan Desa Batu Cermin, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagai salah satu dari dua desa percontohan nasional dalam pengelolaan Dana Desa untuk ketahanan pangan. Satu desa lainnya adalah Desa Sidan di Kabupaten Gianyar, Bali.
Di tengah keterbatasan curah hujan dan sumber air, Desa Batu Cermin dinilai berhasil membangun sistem ketahanan pangan berbasis pertanian hidroponik yang adaptif dan berkelanjutan.
Budi daya selada keriting menjadi pilihan utama dalam metode tanam tanpa tanah ini, yang hanya mengandalkan air bernutrisi sebagai media tumbuh.
Kepala Desa Batu Cermin, Marianus Yono Jehanu mengatakan, inisiatif ini lahir dari usulan pemuda desa pada Musyawarah Desa 2024.
Pemerintah desa merespons cepat dengan mengarahkan Dana Desa untuk mendukung program tersebut.
“Kami tidak hanya bicara teknologi, tapi juga memberdayakan pemuda untuk membangun masa depan desa. Ini bukan sekadar produksi pangan, tapi soal kemandirian dan perubahan,” kata Yono saat bertemu Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, di Aula Gereja Wae Sambi, Senin, 23 Juni 2025.
Yono menjelaskan, Desa Batu Cermin berpenduduk 6.924 jiwa. Sebagian besar warganya bekerja sebagai pegawai negeri dan swasta, sementara hanya sebagian kecil yang masih bertani secara konvensional. Curah hujan yang tidak menentu dan minimnya sumber air menyebabkan pertanian tradisional sulit berkembang.
Langkah Awal dan Hasil Menjanjikan
Pada 2024, sebanyak enam petani milenial memulai budi daya hidroponik selada keriting dengan dukungan Dana Desa sebesar Rp36 juta. Mereka membangun satu tenda pembibitan dan dua tenda produksi.
Dalam setahun, hasil panen dijual ke hotel, restoran, kapal wisata, pasar tradisional, dan masyarakat lokal, menghasilkan omzet Rp54 juta.
Melihat tingginya permintaan, Pemerintah Desa Batu Cermin mengalokasikan Rp258 juta dari Dana Desa 2025, atau sekitar 20 persen dari total dana ketahanan pangan, melalui Badan Usaha Milik Desa (BumDes) Mitra Bersama Batu Cermin. Tahun ini, tenda produksi bertambah menjadi 20 unit dan melibatkan 14 petani milenial.
“Dari Desa Batu Cermin, kami memulai langkah kecil yang berdampak besar. Ketahanan pangan bisa dibangun dari desa, oleh desa, untuk desa,” kata Yono.
Namun, ia tidak menampik adanya tantangan seperti keterbatasan air musiman, dominasi sistem tadah hujan, serta mindset masyarakat dan kompetisi dengan produk pangan dari luar daerah.
Kunjungan Menteri dan Dorongan Kolaboratif
Dalam kunjungannya ke Batu Cermin, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, menyatakan bahwa pengembangan ketahanan pangan harus dimulai dari desa-desa, dengan pendekatan responsif terhadap tantangan lokal.
“Kunjungan kerja ini bertujuan menghasilkan kebijakan dan proyek konkret untuk memperkuat tata kelola pembangunan desa melalui ekonomi hijau, peningkatan kapasitas masyarakat, dan pemanfaatan teknologi digital,” ujar Yandri.
Ia menambahkan, program seperti Koperasi Desa Merah Putih dan Program Makan Bergizi Gratis akan mendorong terciptanya swasembada pangan di tingkat desa.
Yandri berharap, desa-desa di Manggarai Barat menjadi pelaku utama pembangunan ketahanan pangan yang tematik dan berbasis potensi lokal.
“Dengan alokasi 20 persen Dana Desa untuk ketahanan pangan, desa memiliki peran strategis dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Penulis: Sello Jome

