Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Cerdas Berpikir Humanis dalam Deep Learning
Gagasan

Cerdas Berpikir Humanis dalam Deep Learning

By Redaksi27 Juni 20258 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Cici AI)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Pater Darmin Mbula, OFM

Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)

Cerdas berpikir humanis dalam deep learning berarti mengembangkan dan menggunakan kecerdasan buatan dengan mempertimbangkan nilai-nilai etika, keadilan, dan kemanusiaan, bukan sekadar efisiensi teknis.

Pendekatan ini menempatkan manusia sebagai pusat perhatian, memastikan bahwa teknologi mendukung martabat, hak, dan keberagaman manusia dalam setiap proses pengambilan keputusan.

Menyelamatkan martabat berpikir manusia berarti mengembalikan kemampuan individu untuk berpikir secara mandiri, kritis, dan bermoral di tengah gempuran teknologi yang kian mendikte cara kita menerima, mengolah, dan merespons informasi.

Dalam pandangan Franklin Foer melalui World Without Mind, hal ini hanya bisa dicapai jika manusia tidak menyerahkan sepenuhnya kendali intelektualnya kepada algoritma dan kecanggihan mesin.

Manusia  secara sadar menciptakan ruang untuk refleksi, diskusi tatap muka, membaca mendalam, dan mempertahankan kebebasan intelektual.

Martabat berpikir bukan sekadar soal kecerdasan teknis, melainkan soal keberanian untuk berbeda, kemampuan menyerap kompleksitas, serta komitmen pada kebenaran dan nilai-nilai kemanusiaan.

Oleh karena itu, menyelamatkan martabat berpikir berarti membebaskan pikiran dari dominasi digital yang seragam, dan kembali menjadikan manusia sebagai subjek berpikir yang utuh—bukan hanya sebagai konsumen data, tetapi penjaga nilai dan nurani.

Dunia Tanpa Otak Manusia

Dunia tanpa otak manusia akan menjadi sebuah realitas yang hampa dari kesadaran, kreativitas, dan peradaban sebagaimana kita kenal.

Otak manusia merupakan pusat dari segala bentuk pemikiran, emosi, dan inovasi, sehingga tanpanya, tidak akan ada bahasa, seni, ilmu pengetahuan, atau teknologi.

Menurut Antonio Damasio dalam bukunya Descartes’ Error: Emotion, Reason, and the Human Brain (1994), otak tidak hanya bertanggung jawab atas rasionalitas, tetapi juga sangat berkaitan dengan emosi dan kesadaran diri, yang membentuk dasar dari perilaku manusia.

Tanpa otak, tidak akan ada subjek yang mampu memahami makna dunia, menciptakan budaya, atau bahkan menyadari keberadaannya sendiri.

Dengan demikian, dunia tanpa otak manusia bukan hanya tanpa manusia, tetapi juga tanpa segala bentuk makna yang biasa kita asosiasikan dengan kehidupan dan kemajuan.

Matinya akal sehat menggambarkan kondisi di mana manusia kehilangan kemampuan berpikir kritis, mempertimbangkan nilai moral, dan mengambil keputusan secara rasional—bukan karena kecanggihan teknologi seperti AI yang membuat manusia semakin culas, melainkan karena manusia sendiri menyerahkan otonomi berpikirnya kepada sistem yang tidak bernurani.

Dalam konteks ini, buku World Without Mind: The Existential Threat of Big Tech karya Franklin Foer mengkritik bagaimana dominasi perusahaan teknologi besar seperti Google dan Facebook justru menggerus kebebasan berpikir dan mempersempit ruang kontemplatif individu.

Foer menekankan bahwa ancaman sesungguhnya bukan terletak pada kecerdasan buatan itu sendiri, melainkan pada manusia yang dengan sukarela melepas akal sehat dan kendali intelektual kepada mesin, sehingga dunia bergerak menuju homogenitas pikiran dan kehilangan jiwa humanistiknya.

Menurut Franklin Foer dalam bukunya World Without Mind: The Existential Threat of Big Tech, kehilangan jiwa humanitas manusia terutama disebabkan oleh dominasi perusahaan teknologi besar yang mengontrol informasi, membentuk preferensi, dan mereduksi kebebasan berpikir individu.

Foer menyoroti bahwa raksasa digital seperti Google, Facebook, dan Amazon secara sistematis menciptakan sistem yang mendorong efisiensi dan kenyamanan di atas refleksi dan kebebasan intelektual, sehingga manusia perlahan kehilangan ruang untuk berpikir mandiri dan kritis.

Ketergantungan terhadap algoritma yang memfilter dunia berdasarkan data perilaku mempersempit keragaman pandangan dan mendorong konformitas massal.

Akibatnya, kapasitas manusia untuk merenung, berdialog secara mendalam, dan mempertahankan identitas personal yang menjadi inti dari jiwa humanitas, terkikis oleh arus otomatisasi dan homogenisasi yang dikendalikan oleh kekuatan korporasi teknologi.

Beberapa contoh konkret dari kehilangan jiwa humanitas seperti yang dikemukakan Franklin Foer dalam World Without Mind dan tampak dalam kehidupan sehari-hari:
Ketergantungan pada algoritma pencarian: Banyak orang sekarang lebih memilih “bertanya pada Google” daripada merenung, berdiskusi, atau membaca buku untuk menemukan jawaban.

Hal ini mempercepat akses informasi, tetapi mengikis proses berpikir kritis dan mendalam.

Filter bubble di media sosial: Platform seperti Facebook dan Instagram menyajikan konten yang disesuaikan dengan preferensi pengguna, membuat kita terus-menerus terpapar pada pandangan yang seragam. Ini menumpulkan dialog antarpendapat dan menghambat empati terhadap perspektif berbeda.

Penurunan budaya membaca panjang (long-form reading): Orang lebih tertarik membaca judul atau ringkasan artikel (clickbait) daripada membaca esai, buku, atau berita analitis yang panjang dan reflektif, karena terbiasa dengan konsumsi cepat ala media digital.

Penggunaan AI dalam pengambilan keputusan pribadi: Aplikasi kencan seperti Tinder atau algoritma rekomendasi Netflix dan Spotify “memilihkan” pasangan atau hiburan bagi kita, menggeser peran intuisi, eksplorasi, dan penilaian pribadi yang seharusnya manusiawi.

Obsesi terhadap produktivitas dan data: Aplikasi pelacak aktivitas dan produktivitas mendorong manusia untuk “menjadi mesin” yang efisien, mengorbankan waktu untuk kontemplasi, relasi sosial yang mendalam, atau sekadar menikmati waktu hening tanpa tujuan praktis.

Contoh-contoh ini menunjukkan bagaimana teknologi, tanpa disadari, bisa menggerus kualitas kemanusiaan ketika manusia menyerahkan terlalu banyak kendali kepada sistem otomatis dan kehilangan ruang untuk berpikir dan merasa secara utuh.

Otonomi Berpikir

Menurut Franklin Foer dalam World Without Mind, cara strategis manusia untuk memulihkan martabat otaknya di era AI adalah dengan merebut kembali otonomi berpikir dan memperjuangkan kebebasan intelektual.

Ia menekankan pentingnya kesadaran bahwa manusia bukan sekadar pengguna pasif teknologi, melainkan makhluk berpikir yang harus menjaga ruang untuk refleksi, keragaman ide, dan kebebasan memilih informasi.

Salah satu langkah konkretnya adalah dengan mengurangi ketergantungan pada algoritma dalam mengakses berita dan hiburan, serta memilih sumber informasi yang mendalam dan tidak disaring oleh kepentingan korporat.

Foer juga mendorong penggunaan teknologi secara sadar mengatur waktu layar, membatasi personalisasi berlebihan, dan menciptakan momen “offline” untuk berpikir tanpa gangguan digital.

Lebih jauh, Foer menyarankan agar masyarakat memulihkan budaya literasi dan dialog sebagai benteng melawan hilangnya humanitas.

Ini bisa dilakukan dengan menghidupkan kembali kebiasaan membaca buku, menulis secara reflektif, dan berdiskusi secara tatap muka, aktivitas yang merangsang kemampuan analisis, empati, dan nuansa berpikir.

Ia percaya bahwa menjaga pluralisme intelektual, seperti dengan membaca berbagai pandangan dan mempertahankan media independen, akan memperkuat kapasitas individu dalam menghadapi banjir informasi digital.

Selain itu, regulasi terhadap perusahaan teknologi juga diperlukan agar kontrol terhadap alur informasi tidak dimonopoli oleh segelintir entitas.

Dengan demikian, menurut Foer, manusia bisa kembali menjadi subjek berpikir yang bebas dan bermartabat di tengah derasnya arus otomatisasi dan kecerdasan buatan.

Dalam World Without Mind, Franklin Foer menekankan pentingnya berdiskusi dan bercakap-cakap secara tatap muka sebagai pilihan cerdas di era AI, karena interaksi langsung ini menjaga kualitas kemanusiaan yang tidak dapat digantikan oleh algoritma.

Percakapan tatap muka menciptakan ruang bagi empati, nuansa emosi, dan interpretasi makna yang lebih dalam—sesuatu yang sering kali hilang dalam komunikasi digital yang cepat dan dangkal.

Foer melihat bahwa dalam dunia yang semakin terdikte oleh efisiensi dan kecepatan informasi, manusia justru perlu memperlambat ritme untuk merawat kapasitas berpikir reflektif dan keterhubungan sosial yang otentik.

Tatap muka adalah tempat di mana gagasan diuji, perbedaan dihargai, dan kebenaran tidak datang dari algoritma, melainkan dari dialog antar manusia yang rasional dan beradab.

Foer menganggap percakapan langsung sebagai benteng terakhir melawan keculasan intelektual yang muncul ketika manusia terlalu bergantung pada kecerdasan buatan untuk membuat keputusan moral, sosial, bahkan politik.

Dalam tatap muka, manusia tidak bisa sembunyi di balik avatar atau algoritma, mereka dituntut untuk hadir secara utuh, bertanggung jawab atas ucapan dan sikapnya.

Ini mengasah akal sehat, membangun kepercayaan, dan memelihara kepekaan terhadap kompleksitas manusia lainnya.

Berbeda dengan interaksi digital yang sering dikendalikan oleh bias data atau kecenderungan untuk hanya memperkuat opini sendiri, diskusi langsung membuka peluang bagi transformasi pemahaman dan kompromi yang lebih sehat.

Oleh karena itu, menurut Foer, menghidupkan kembali kebiasaan berdiskusi secara tatap muka bukan sekadar nostalgia terhadap masa lalu, tetapi strategi masa depan untuk menyelamatkan martabat berpikir manusia.

Dalam dunia yang semakin dikendalikan oleh logika mesin, hanya melalui dialog langsunglah manusia dapat mempertahankan posisinya sebagai makhluk berpikir dan bermoral.

Ini adalah cara untuk memastikan bahwa kecerdasan manusia tidak hanya tajam secara teknis, tetapi juga hangat secara etis bukan menjadi cerdas yang culas, melainkan cerdas yang humanis.

Cerdas Humanis

Cerdas humanis dalam konteks deep learning mengacu pada kemampuan mengembangkan kecerdasan buatan yang tidak hanya canggih secara teknis, tetapi juga berakar pada nilai-nilai kemanusiaan seperti empati, etika, dan tanggung jawab sosial.

Yoshua Bengio, salah satu pionir deep learning, dalam berbagai wawancaranya dan tulisan ilmiahnya (misalnya dalam Deep Learning, 2016, bersama Ian Goodfellow dan Aaron Courville), menekankan bahwa pengembangan AI harus selalu disertai kesadaran etis dan refleksi filosofis tentang dampaknya terhadap manusia.

Ia percaya bahwa AI yang tidak dikembangkan dengan prinsip humanistik dapat memperparah ketimpangan sosial, memperkuat bias, dan menggerus kepercayaan publik terhadap teknologi.

Oleh karena itu, cerdas humanis dalam deep learning berarti menjadikan manusia sebagai pusat, bukan hanya objek, dari kemajuan teknologi.

Dalam praktiknya, pendekatan cerdas humanis menuntut agar sistem deep learning dirancang dengan mempertimbangkan keadilan, transparansi, dan inklusivitas.

Ini sejalan dengan pemikiran Shoshana Zuboff dalam bukunya The Age of Surveillance Capitalism (2019), yang mengkritik bagaimana AI dan data pribadi dieksploitasi oleh korporasi besar demi keuntungan semata, tanpa memperhatikan hak dan martabat individu.

Zuboff menegaskan bahwa teknologi tidak netral, dan pengembangan deep learning harus tunduk pada norma-norma demokratis yang menjamin keadilan dan partisipasi semua pihak.

Dengan demikian, menjadi cerdas humanis dalam deep learning bukan hanya soal menciptakan sistem yang efisien, tetapi juga yang adil dan bisa dipercaya oleh masyarakat luas.

Lebih jauh lagi, pendekatan ini mengajak para ilmuwan, insinyur, dan pembuat kebijakan untuk tidak hanya fokus pada “apa yang bisa dilakukan oleh AI,” tetapi juga “apa yang seharusnya dilakukan oleh AI” dalam konteks nilai-nilai kemanusiaan.

Ini menuntut dialog antardisiplin antara ilmu komputer, filsafat, sosiologi, dan etika agar teknologi tidak berkembang secara liar dan membahayakan martabat manusia.

Maka, cerdas humanis dalam deep learning berarti menyeimbangkan antara inovasi teknologi dan tanggung jawab moral, agar AI benar-benar menjadi alat untuk memperkuat kemanusiaan, bukan menggantikannya atau melemahkannya.

Pater Vinsensius Darmin Mbula Vinsensius Darmin Mbula
Previous ArticleMendesain Tugas dan Proyek Autentik dalam Deep Learning
Next Article Menyulam Dialog Antaragama dalam Semangat Hijrah Sosial

Related Posts

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.