Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Kupon Gosok Bukan Solusi, Saatnya Anak-anak Melek Finansial
Gagasan

Kupon Gosok Bukan Solusi, Saatnya Anak-anak Melek Finansial

By Redaksi1 Juli 20256 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Cici AI)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Pater Darmin Mbula, OFM

Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)

Fenomena kupon gosok merupakan sebuah bentuk promosi di mana anak-anak membeli kupon dengan harga murah, biasanya sekitar 1.000 rupiah, dengan janji atau iming-iming hadiah menarik di balik lapisan gosok pada kupon tersebut.

Kupon ini sangat menggoda karena menawarkan kesempatan untuk mendapatkan berbagai hadiah seperti makanan ringan,  mainan, gadget, atau barang-barang lainnya tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Namun, seringkali hadiah yang dijanjikan sulit didapat atau peluangnya sangat kecil, sehingga anak-anak cenderung terus membeli kupon tersebut berulang kali dengan harapan bisa menang.

Fenomena ini bisa menimbulkan kecanduan dan pengeluaran yang tidak disadari oleh anak-anak,  seperti yang dilakukan oleh Trum, Etni, Etna, Tesa, Betran,  Endak bukan nama sebenarnya, serta menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua mengenai pengelolaan uang jajan dan nilai-nilai konsumtif yang terbentuk sejak dini.

Scratch Card

Kupon gosok, atau sering disebut juga dengan istilah scratch card, adalah salah satu bentuk permainan berhadiah yang menawarkan peluang instan untuk menang setelah menggosok bagian tertentu dari kupon tersebut.

Dalam perspektif sosio-ekonomi masyarakat, kupon gosok sering kali dipandang sebagai bentuk harapan instan bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Aktivitas ini, walaupun tampak sebagai hiburan ringan, sebenarnya mencerminkan fenomena ekonomi masyarakat yang mencoba mencari jalan pintas untuk memperbaiki kondisi finansialnya.

Menurut Pierre Bourdieu dalam bukunya Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (1984), pilihan-pilihan konsumsi, termasuk partisipasi dalam permainan seperti kupon gosok, sangat dipengaruhi oleh modal ekonomi dan budaya seseorang.

Dalam hal ini, masyarakat dengan keterbatasan ekonomi cenderung mencari alternatif hiburan atau penghasilan yang berisiko rendah secara finansial, tetapi menjanjikan imbal hasil besar meskipun probabilitasnya kecil.

Lebih jauh, kupon gosok juga mencerminkan ketimpangan struktural dalam distribusi kesempatan ekonomi.

Dalam The Culture of the New Capitalism (2005), Richard Sennett menyoroti bagaimana masyarakat modern mengalami ketidakpastian ekonomi yang tinggi, dan dalam kondisi tersebut, praktik spekulatif seperti kupon gosok menjadi semakin populer.

Bagi banyak orang, terutama mereka yang merasa terpinggirkan dari arus utama perekonomian, kupon gosok tidak hanya permainan, tetapi simbol dari “peluang” yang masih tersisa.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana sistem ekonomi neoliberal menciptakan ruang bagi praktik-praktik yang semu memberi harapan, padahal secara statistik lebih banyak merugikan.

Namun demikian, kupon gosok tetap bertahan karena daya tarik psikologisnya—harapan, kejutan, dan ilusi kontrol atas nasib—yang semuanya sangat menggoda dalam kondisi sosial ekonomi yang tidak pasti.

Tengkorak

Dalam konteks kupon gosok, kemunculan gambar tengkorak sering kali menandakan bahwa pembeli tidak mendapatkan hadiah apapun.

Tengkorak ini menjadi simbol visual yang langsung dikenali sebagai tanda kekalahan atau ketidakberuntungan, sehingga secara instan menghilangkan harapan sang pembeli untuk memperoleh hadiah yang diidamkan.

Ketika anak-anak atau pembeli lain melihat tengkorak muncul di kupon mereka, perasaan kecewa dan frustrasi seringkali langsung muncul karena harapan yang telah dibangun sebelumnya sirna seketika.

Dari perspektif neuroscience, tengkorak sebagai simbol ketidakberuntungan bekerja dengan memicu respon emosional negatif di otak, terutama di area yang terkait dengan pengolahan rasa sakit emosional dan kekecewaan, seperti amigdala dan korteks prefrontal.

Ketika seseorang menerima sinyal visual yang diasosiasikan dengan kegagalan atau kehilangan, otak secara otomatis merespons dengan perasaan negatif yang mendalam, yang bisa menimbulkan stres dan rasa frustasi.

Simbol tengkorak, karena keterkaitannya yang kuat dengan kematian dan bahaya dalam berbagai budaya, memiliki kekuatan untuk menimbulkan reaksi emosional yang intens dan instan.

Selain itu, mekanisme ini juga berperan dalam membentuk perilaku konsumen yang terkadang sulit dikendalikan. Kekecewaan yang ditimbulkan oleh kemunculan tengkorak justru dapat memicu dorongan kompulsif untuk terus membeli kupon lain dengan harapan “beruntung” di percobaan berikutnya.

Proses ini mirip dengan pola kecanduan di mana otak berusaha mencari imbalan positif (hadiah) meskipun sering kali yang didapatkan hanyalah kekecewaan.

Dengan demikian, simbol tengkorak dalam kupon gosok bukan hanya sekadar tanda visual, melainkan juga mempengaruhi perilaku dan emosi pembeli secara mendalam berdasarkan dasar neuroscience.

Dampak Buruknya

Fenomena kupon gosok, yang sering dijumpai dalam berbagai bentuk promosi, telah menjadi bagian dari budaya konsumtif di abad ke-21.

Bagi generasi muda, terutama mereka yang belum memiliki kontrol finansial yang kuat, kupon gosok dapat menumbuhkan kebiasaan berjudi terselubung.

Richard Layard dalam bukunya Happiness: Lessons from a New Science (2005) menekankan bahwa perilaku konsumtif yang berlebihan dan ketergantungan pada hadiah instan dapat menurunkan kebahagiaan jangka panjang, karena individu cenderung mengejar kepuasan sesaat daripada nilai-nilai hidup yang lebih bermakna.

Dampak psikologis juga tidak bisa diabaikan. Kupon gosok dirancang untuk memberikan sensasi “hampir menang”, yang menurut B.F. Skinner dalam teori penguatan variabelnya, bisa memicu perilaku kompulsif dan adiktif.

Ini menciptakan ilusi kontrol dan meningkatkan risiko kecanduan berjudi sejak usia muda. Ketika hal ini dikombinasikan dengan paparan media sosial dan gaya hidup instan yang populer di kalangan generasi Z dan milenial, maka terbentuklah pola pikir “untung-untungan” dalam meraih kesuksesan, yang bertentangan dengan nilai kerja keras dan perencanaan jangka panjang.

Lebih jauh lagi, dari sisi ekonomi dan etika, kupon gosok menumbuhkan budaya konsumsi impulsif yang melemahkan literasi keuangan generasi muda.

Menurut Jean Twenge dalam iGen (2017), generasi saat ini cenderung lebih rentan terhadap tekanan sosial dan pengaruh eksternal dalam mengambil keputusan, termasuk keputusan keuangan.

Promosi seperti kupon gosok seringkali dimanipulasi untuk menargetkan kelompok ini, membuat mereka menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak bernilai nyata.

Dalam jangka panjang, hal ini berkontribusi pada terbentuknya generasi yang tidak kritis terhadap mekanisme pasar dan mudah terjebak dalam sistem ekonomi yang eksploitatif.

Edukasi Literasi Keuangan

Untuk menghapus kupon gosok secara strategis demi melindungi anak-anak dari dampak psikologis dan sosiologisnya, langkah pertama yang harus diambil adalah melalui regulasi pemerintah yang ketat.

Pemerintah perlu menerbitkan undang-undang atau peraturan yang secara eksplisit melarang praktik pemasaran berbasis undian seperti kupon gosok, terutama yang menyasar anak-anak dan remaja.

Menurut Philip Kotler dalam bukunya Marketing Management (2016), regulasi yang kuat diperlukan untuk menyeimbangkan kepentingan bisnis dengan perlindungan konsumen, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak yang belum memiliki kemampuan menilai risiko secara matang.

Langkah kedua adalah edukasi literasi keuangan dan media kepada anak-anak sejak dini. Sekolah dan lembaga pendidikan harus menyisipkan materi tentang risiko jebakan promosi konsumerisme, termasuk kupon gosok, ke dalam kurikulum.

Seperti dikemukakan oleh Neil Postman dalam bukunya The Disappearance of Childhood (1982), dunia modern yang penuh dengan informasi dan iklan mengikis batas antara anak-anak dan orang dewasa, sehingga anak-anak memerlukan bimbingan ekstra untuk menavigasi godaan-godaan tersebut.

Pendidikan kritis ini akan membentuk generasi yang lebih sadar terhadap manipulasi pasar dan lebih kuat secara psikologis dalam menghadapi tekanan konsumerisme.

Terakhir, peran orang tua dan komunitas sangat penting dalam menghapus budaya kupon gosok. Orang tua harus menjadi contoh dalam perilaku konsumtif yang sehat dan tidak memperlihatkan partisipasi dalam aktivitas berbasis keberuntungan yang tidak edukatif.

Komunitas lokal, termasuk organisasi keagamaan dan sosial, juga bisa menginisiasi kampanye publik untuk menolak promosi semacam itu.

Erik Erikson dalam Childhood and Society (1950) menekankan pentingnya lingkungan sosial dalam membentuk identitas dan perilaku anak-anak.

Dengan dukungan sosial yang luas, budaya kupon gosok bisa perlahan dihapuskan dan digantikan dengan nilai-nilai produktif dan mendidik bagi generasi masa depan.

Pater Vinsensius Darmin Mbula Vinsensius Darmin Mbula
Previous ArticleJelang HUT ke-80 RI, Desa Ranggu Gandeng PBVSI Mabar Selenggarakan Turnamen Bola Voli
Next Article Gubernur NTT: Polri Harus Terus Berbenah

Related Posts

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.