Ruteng, VoxNTT.com – Antrean Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), terjadi pada Sabtu, 2 Agustus 2025.
Pantauan VoxNtt.com, antrean panjang tersebut terjadi di dua SPBU, yakni SPBU Mbaumuku dan SPBU Mena.
Akibatnya, sopir dump truck yang telah menunggu berjam-jam untuk mengantre BBM jenis solar terpaksa harus tidur dalam mobil karena harus menunggu giliran keesokan harinya.
“Terpaksa harus tidur demi dapat solar. Sejak kemarin kami sudah antre, pagi ini juga katanya solar belum muncul,” ucap Dedi seorang sopir dump truck.
Dedi mengaku beberapa kali antre, bahkan harus keliling ke SPBU Mano dan Carep untuk mendapatkan solar, tetapi stok hanya tinggal sedikit.
Terpaksa Dedi pun harus menunggu hingga esok hari karena tidak kebagian stok solar. Rekan-rekan Dedi juga rela tidur dalam mobil demi menunggu giliran pengisian.
“Bukan hanya saya. Banyak juga teman-teman yang tidur dalam mobil, kami parkir berjejer ini mungkin ada sekitar 5 sampai 6 mobil yang sopirnya rela tidur dalam mobil,” aku Dedi.
Hal senada juga dikeluhkan Anton Mali, sopir angkutan yang mengaku sudah mengantre sejak pagi dan rela menunggu berjam-jam.
“Jam 08.00 pagi saya sudah antri tetapi stok solar juga tidak cukup kata mereka. Rasanya jenuh dan capeh kalau antre terus,” keluh Anton.
Antrean tidak hanya 7 atau 8 kendaraan tetapi mengular kurang lebih 4 kilometer sehingga menimbulkan kemacetan parah, khususnya sepanjang jalur SPBU Mena.
Mereka berharap pihak SPBU memastikan agar permintaan solar berjalan lancar supaya tidak terjadi antre dan distribusi dari Pertamina juga diharapkan berjalan secara merata ke tiap-tiap SPBU.
Pihak SPBU yang dikonfirmasi wartawan belum menjawab pasti soal penyebab antrean panjang dan stok solar yang tersedia di SPBU.
Tak hanya itu, pihak PT Pertamina Patra Niaga Reo juga menolak untuk memberi keterangan kepada media.
“Mohon maaf saya tidak diberi izin oleh manajemen untuk memberikan klarifikasi ke media,” ujar singkat Fuel Terminal Manager PT Pertamina Patra Niaga Reo, Muhamad Agung Endriyanto.
Sebelumnya bukan hanya solar, antrean panjang BBM jenis pertalite juga terjadi pada bulan Juni lalu di SPBU Mbaumuku.
Antrean kendaraan roda dua dan roda empat mengular hingga puluhan meter, mulai dari area SPBU hingga ke pertigaan jalan menuju pusat Kota Ruteng.
Para pengendara terpaksa menunggu hingga berjam-jam di bawah terik matahari untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite
Saat itu Pengawas SPBU Mbaumuku, Aven Jalut menjelaskan, antrean panjang terjadi disebabkan karena distribusi BBM dari PT Pertamina Patra Niaga Reo dilakukan secara bertahap atau split delivery.
Kondisi tersebut menyebabkan kekurangan stok BBM di SPBU, sehingga tidak mampu memenuhi tingginya permintaan masyarakat.
“Penyaluran bertahap ini sangat mempengaruhi distribusi, apalagi dalam waktu bersamaan semua SPBU juga melakukan permintaan maksimal. Ini bagian dari upaya pemerataan, namun dampaknya terasa di lapangan,” ungkap Aven waktu itu.
Selain penyaluran yang dilakukan bertahap, keterlambatan mobil tangki pengangkut BBM juga memperburuk situasi.
“Kadang keterlambatan ini disebabkan pengisian yang lambat di Depot Reo, sehingga mobil tanki telat sampai ke Ruteng,” katanya.
Penulis: Berto Davids

