Oleh: Fransiskus Bustan
Dosen Universitas Nusa Cendana Kupang
Setiap pemimpin organisasi niscaya punya mimpi, tidak terkecuali pemimpin yang berkiprah dan berkarya dalam organisasi pemerintahan sebagai organisasi jasa nirlaba.
Sesuai cakupan medan kiprah dan area karyanya, resapan asa atau harapan yang tersurat dan tersirat melalui mimpi seorang pemimpin organisasi pemerintahan bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat banyak dan rakyat kebanyakan.
Konseptualisasi resapan asa itu dimanifestasikan secara lingual melalui rumusan visi dan misi dengan diksi atau pilihan kata bercorak khas dan khusus dengan cara pengungkapan yang diracik dalam kemasan sintaksis menarik sehingga tampak gacor alias keren.
Mengapa? Karena satuan kebahasaan yang menjadi ramuan rumusan visi dan misinya tidak hanya mengandung keindahan bentuk dalam struktur mukaan, tetapi juga mengundang kenimakmatan inderawi ketika disimak.
Karena itu, tidak heran jika warga masyarakat sebagai kelompok sasaran penerima pesan seolah-olah terayun dalam buaian nuansa kehidupan sejahtera lahir dan batin ketika menyimak visi dan misi dimaksud.
Akan tetapi, banyak evidensi menunjukkan adanya kesenjangan menganga antara resapan asa dan hamparan fakta atau kenyataan di depan mata masyarakat.
Kesenjangan itu terjadi karena diksi dan cara pengungkapan dengan sintaksis kalimat menarik yang dirumuskan melalui visi dan misi hanya merupakan onggokan retorika pemoles bibir dan penyedap rasa ketika disimak karena tidak disertai sintaksis aksi yang sesuai kebutuhan masyarakat.
Karena adanya ruang kesenjangan menganga antara resapan asa dan hamparan fakta, tidak heran jika kehadirannya ketika berbicara di ruang publik sering dilirik sebelah mata oleh warga masyarakat.
Demikian pula butiran pesan bernada profetis yang dilontar dengan nada lantang di depan podium hanya dimaknai sebagai ‘omon-omon’ ibarat sebuah pementasan dagelan politik karena disisipi pantun tidak bermutu.
Kunci sukses seorang pemimpin organisasi pemerintahan, sebagaimana halnya dengan pemimpin organisasi yang lain, bukan ditentukan dengan onggokan kata-kata manis yang dirumuskan melalui visi dan misi.
Kunci sukses ditakar secara empiris melalui aksi nyata karena, seperti kata pepatah bahasa Inggris, Actions speak louder than words “Aksi berbicara lebih keras dari pada kata-kata”.
Hal itu bertalian dengan pandangan pakar linguistik penganut aliran fungsionalisme bernama Roman Jakobson yang menyatakan, Language without meaning is meaningless “Bahasa tanpa makna adalah tuna makna”.
Pernyataan ini menyiratkan kebermaknaan pesan melalui bahasa bukan terletak pada kata-kata, tetapi dalam aksi atau tindakan, sebagaimana yang sering didengungkan Jokowi Widodo, Presiden Ke-7 Indonesia.
Dalam menengarai kesenjangan antara resapan asa dan hamparan fakta yang diulas di atas, kunci sukses seorang pemimpin organisasi pemerintahan, sebagaimana halnya dengan pemimpin dalam organisasi yang lain, ditakar secara empiris dari aksi atau tindakan sebagai latar takar kinerja.
Hal itu senada dengan pandangan Gerard Hendrik Hofstede, seorang Profesor Emeritus Bidang Antropologi Organisasi dan Manajemen Internasional, yang menyatakan, Organization is good, but performance is better “Administrasi boleh baik, tetapi kinerja lebih baik”.
Evaluasi kinerja mesti menjadi tolok ukur dalam menakar sukses seorang pempin organisasi pemerintahan dalam mencapai visi dan misi bukan melalui etalase bahasa melalui diksi dan sintaksis kalimat menarik.
Etalase bahasa yang begitu indah dalam rumusan visi dan misi akan menuai badai di kemudian hari dan menjadi bumerang yang memenjarakan diri jika tidak diwujudnyatakan dalam aksi.

