Oleh: Pater Darmin Mbula, OFM
Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)
Melalui pendekatan spiritualitas Fransiskan yang menekankan kesederhanaan, solidaritas, dan kesatuan dengan semua ciptaan, sekolah Fransiskan membentuk jiwa-jiwa muda yang peka terhadap penderitaan kaum miskin dan kerusakan bumi.
Dengan ekologi integral dan pembelajaran mendalam (deep learning) yang humanis-ekologis, sekolah Fransiskan selain mentransfer pengetahuan juga mentransformasi kesadaran menjadi aksi nyata yang berpihak pada keadilan sosial ekologis.
Dalam dunia yang dilukai oleh rezim pohon korup dan ketimpangan struktural, sistemik dan masif, kebun sekolah Fransiskan menjadi benih perlawanan yang sunyi namun radikal menumbuhkan harapan dari tanah, cinta dari kebun, dan keadilan sosial ekologis dari akar.
Kemiskinan ekstrem bukan hanya tentang kekurangan materi dan pendapatan, tetapi juga hasil dari relasi yang timpang antara manusia, sesama, dan alam.
Dalam pendekatan holistik, kemiskinan dilihat sebagai bentuk ketidakadilan sosial ekologis ketika sebagian besar kekayaan dan sumber daya dikendalikan oleh segelintir orang bermodal besar dan juga sebagai ketidakadilan ekologis, di mana kelompok miskin paling terdampak oleh krisis lingkungan seperti kekeringan, polusi, dan perubahan iklim.
Dalam perspektif Laudato Si’ (Paus Fransiskus, 2015), penderitaan kaum miskin dan penderitaan bumi adalah dua wajah dari satu luka yang sama: eksploitasi berlebihan dan kehilangan kesadaran akan keterhubungan semua ciptaan.
Kebun sekolah Fransiskan merupakan pendekatan konkret dan spiritual untuk membentuk kesadaran akan keadilan sosial dan ekologis. Berdasarkan spiritualitas St. Fransiskus dari Assisi yang hidup dalam kesederhanaan dan harmoni dengan alam, kebun sekolah bukan hanya sarana belajar menanam, tetapi menjadi ruang transformatif tempat siswa mengalami langsung proses kehidupan: menabur, merawat, dan berbagi hasil bumi.
Kebun ini dapat menjadi bentuk praktik solidaritas, di mana hasil panen bisa dibagikan kepada yang membutuhkan, sekaligus menjadi sarana refleksi bahwa bumi menyediakan cukup bagi semua, asal tidak dirusak oleh keserakahan.
Dalam terang pemikiran Ilia Delio dan
Richard Rohr, kebun Fransiskan adalah praktik cinta yang berakar pada spiritualitas inkarnasional Tuhan hadir dalam tanah, benih, dan relasi antar-manusia.
Anak-anak tidak hanya belajar sains atau keterampilan berkebun, tetapi juga membentuk kesadaran kritis: mengapa masih banyak orang lapar di dunia yang subur? Mengapa bumi rusak, dan siapa yang menderita karenanya?
Dengan demikian, kebun sekolah Fransiskan menyatukan dimensi spiritual, sosial, ekologis, dan edukatif mengajarkan bahwa memulihkan bumi dan membebaskan kaum miskin bukan dua tugas terpisah, tetapi satu misi cinta yang tak terpisahkan.
Kemiskinan Ekstrem
Kemiskinan ekstrem di abad ke-21 tidak lagi hanya diukur secara angka statistik dari keterbatasan pendapatan, tetapi juga dari keterbatasan akses terhadap sumber daya alam, pendidikan, air bersih, kesehatan, dan lingkungan hidup yang layak.
Ketika kelompok tertentu terus mengalami keterasingan dari tanah, air, dan udara bersih, maka kemiskinan yang mereka alami menjadi cerminan ketidakadilan sosial sekaligus ekologis.
Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ (2015) menegaskan bahwa krisis lingkungan dan krisis sosial adalah satu realitas kompleks yang tidak dapat dipisahkan disebutnya sebagai “ekologi integral.”
Ketidakadilan sosial-ekologis muncul ketika kelompok kaya dan berkuasa mengeksploitasi sumber daya tanpa batas, sementara masyarakat miskin menderita akibat dampaknya: polusi, krisis air, kekeringan, dan bencana alam.
Dalam buku The Shock Doctrine (2007), Naomi Klein menjelaskan bagaimana kapitalisme global sering memanfaatkan bencana untuk memuluskan privatisasi sumber daya dan menyingkirkan masyarakat lokal dari akses hidupnya.
Fenomena ini memperparah kemiskinan ekstrem karena rakyat miskin bukan hanya kehilangan hak ekonomi, tetapi juga hak ekologis.
Dari perspektif spiritual dan teologis, Leonardo Boff, seorang teolog pembebasan, dalam bukunya Cry of the Earth, Cry of the Poor (1997), menulis bahwa penderitaan alam dan penderitaan orang miskin adalah satu jeritan yang sama.
Kemiskinan ekstrem adalah cerminan dari relasi yang rusak antara manusia dengan sesama, dengan bumi, dan dengan Sang Pencipta. Maka, solusi terhadap kemiskinan tidak bisa lepas dari rekonsiliasi dengan alam: memperlakukan bumi bukan sebagai objek eksploitasi, tetapi sebagai rumah bersama.
Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah paling rentan terhadap perubahan iklim, walaupun mereka hanya menyumbang sebagian kecil dari emisi global.
Ini memperjelas bahwa kemiskinan ekstrem adalah produk dari sistem yang timpang: masyarakat miskin menderita karena keputusan politik dan ekonomi global yang tidak adil.
Planetary Social Thought (2021) oleh Nigel Clark dan Bronislaw Szerszynski memperluas hal ini, bahwa krisis planet memerlukan pemikiran sosial yang tidak lagi memisahkan antara “masalah manusia” dan “masalah bumi.”
Untuk menjawab kemiskinan ekstrem sebagai ketidakadilan sosial ekologis, dibutuhkan pendekatan integral yang menyentuh struktur ekonomi, budaya, dan spiritual. Laudato Si’, Cry of the Earth, Cry of the Poor, dan karya-karya pemikir ekologis lainnya menekankan pentingnya pendidikan ekologis, solidaritas global, serta transformasi gaya hidup.
Ini bukan hanya tugas negara atau lembaga, tetapi juga komunitas, sekolah, dan individu yang mulai dari hal kecil seperti mengelola kebun komunitas, berbagi pangan, dan membangun gaya hidup berkelanjutan. Kemiskinan ekstrem tidak akan selesai tanpa memulihkan kembali keadilan bagi bumi dan semua makhluk yang tinggal di dalamnya.
Berkebun di Sekolah
Berkebun di sekolah dengan pendekatan Deep Learning memadukan pengalaman langsung siswa dalam berkebun seperti merancang, menanam, dan mengamati dengan pembelajaran mendalam yang mendorong keterampilan berpikir kritis, reflektif, dan lintas disiplin.
Garden-based learning atau pembelajaran berbasis taman menekankan keterlibatan aktif dan pengalaman nyata dalam pembelajaran berbagai mata pelajaran seperti sains, matematika, dan lingkungan hidup. Pendekatan ini tidak hanya membangun pengetahuan konseptual, tetapi juga hubungan emosional dan pemahaman kontekstual terhadap alam.
Integrasi berkebun ke dalam kurikulum melalui Deep Learning memungkinkan siswa belajar secara menyeluruh: dari sains ekologi hingga keterampilan sosial.
Metode ini mendorong keterlibatan aktif, pemahaman mendalam, dan pengamatan kritis. Sebagai contoh, program Edible Schoolyard karya Alice Waters di Berkeley memadukan berkebun dan memasak ke dalam pelajaran sekolah, mengaitkan pengetahuan akademis dengan praktik nyata tentang makanan, kesehatan, dan lingkungan.
Salah satu buku akademis penting adalah Why Garden in Schools? oleh Lexi Earl dan Pat Thomson (2021), yang mengeksplorasi landasan teori dan praktik sekolah berkebun dengan pendekatan kritis dan kontekstual, serta panduan praktis untuk pengajar.
Illène Pevec juga memberikan wawasan mendalam melalui bukunya Growing a Life: Teen Gardeners Harvest Food, Health, and Joy, menggambarkan dampak keterlibatan siswa remaja dalam program berkebun terhadap kesejahteraan dan kesadaran lingkungan.
Untuk kerangka Deep Learning dalam pendidikan, buku Deep Learning: Engage the World Change the World oleh Michael Fullan, Joanne Quinn, dan Joanne McEachen menyediakan dasar teori dan praktik untuk membangun budaya pembelajaran mendalam di sekolah.
Ketika garden-based learning digabungkan dengan kerangka Deep Learning, sekolah dapat menciptakan pengalaman pendidikan yang kontekstual, reflektif, dan bermakna.
Siswa tidak hanya menguasai konsep, tetapi juga terlibat dalam eksplorasi real-world, mengamati pertumbuhan tanaman, merencanakan proyek, dan merefleksikan pembelajaran secara kolaboratif. Model ini menjanjikan pembelajaran yang humanis dan berorientasi ekologi, mempersiapkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sadar lingkungan dan kreatif.
Alasan mendasar dan contoh konkret terkait pentingnya berkebun di sekolah menurut Lexi Earl dan Pat Thomson, sebagaimana dipaparkan dalam buku Why Garden in Schools? Earl dan Thomson mengamati bahwa kebangkitan kembali minat terhadap kebun sekolah sangat dipicu oleh kekhawatiran soal kesehatan anak-anak, pengetahuan tentang makanan, dan kurangnya bermain di luar serta hubungan dengan dunia alam.
Mereka menyoroti bahwa kebun sekolah bukan solusi sederhana untuk semua masalah, melainkan fenomena kompleks yang menuntut pemahaman mendalam terhadap alasan “mengapa kebun sekolah itu penting”.
Penulis mendesain kerangka analisis yang mencakup empat aspek utama dalam pembangunan atau evaluasi kebun sekolah: konteks sosial yang lebih luas, kebijakan publik, keseluruhan sekolah, serta kurikulum formal dan informal.
Kerangka ini menjadikan kebun sekolah sebagai fenomena yang dipandang dari berbagai perspektif tidak hanya sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai institusi dalam ekosistem pendidikan dan masyarakat.
Mereka memperingatkan terhadap pendekatan “satu solusi untuk semua,” mengajak pendidik untuk memahami masalah lokal (seperti kesehatan siswa, keterasingan dari alam, atau kurikulum yang kering) dan menyesuaikan kebun sebagai sebuah respons kontekstual, bukan sekadar proyek tambahan.
Lexi Earl dan Pat Thomson menekankan bahwa kebun sekolah bukan hanya “taman” melainkan laboratorium sosial dan ekologis yang memerlukan pertimbangan struktural, budaya, dan kebijakan. Dengan pendekatan kritis dan berbasis contoh konkret, mereka mendorong pendidik dan peneliti untuk merancang kebun sekolah yang berkelanjutan, relevan, dan terintegrasi secara mendalam dalam pendidikan modern.
Kebun sekolah adalah ruang edukatif di lingkungan sekolah yang digunakan untuk kegiatan berkebun oleh siswa sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Kebun ini tidak sekadar menjadi tempat menanam tanaman, tetapi juga menjadi media pembelajaran kontekstual lintas mata pelajaran seperti sains, matematika, seni, dan pendidikan karakter.
Kebun sekolah memungkinkan siswa belajar langsung dari alam, melalui praktik menanam, merawat, dan memanen tanaman, sambil mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kerja sama, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Menurut Lexi Earl dan Pat Thomson, kebun sekolah adalah respons terhadap berbagai masalah kontemporer, seperti krisis kesehatan anak, keterasingan dari alam, serta kurangnya pendidikan holistik di sekolah.
Mereka menyatakan bahwa kebun sekolah tidak hanya bersifat praktis tetapi juga simbolik, mencerminkan nilai-nilai komunitas, keberlanjutan, dan pendidikan yang berpihak pada pengalaman nyata.
Buku ini menawarkan pendekatan kritis dan mendalam tentang bagaimana kebun dapat dimaknai dan diterapkan di berbagai konteks sekolah.
Tokoh lain yang penting dalam gerakan kebun sekolah adalah Alice Waters, pendiri proyek Edible Schoolyard di Amerika Serikat.
Waters menekankan bahwa kebun sekolah memberikan pendidikan yang sehat, menyenangkan, dan membangun kesadaran pangan sejak dini.
Bagi Waters, kebun sekolah tidak hanya menanam sayur, tetapi menanam nilai: tanggung jawab, kesabaran, dan kebersamaan.
Proyek ini telah menjadi inspirasi global untuk mengintegrasikan kebun ke dalam kurikulum sekolah secara menyeluruh.
Kebun sekolah memiliki fungsi edukatif yang luas.
Menurut Illène Pevec dalam bukunya Growing a Life, kebun sekolah dapat meningkatkan prestasi akademik, memperbaiki kesehatan mental, dan memperkuat relasi sosial antar siswa. Anak-anak yang terlibat dalam kegiatan berkebun menunjukkan peningkatan dalam keterampilan observasi ilmiah, empati sosial, serta kesadaran lingkungan.
Pevec menyebut kebun sebagai “laboratorium hidup” yang mendukung pembelajaran aktif dan reflektif, sangat cocok untuk pendekatan pembelajaran abad ke-21.
Dengan didukung oleh berbagai pakar dan buku-buku penting, dapat disimpulkan bahwa kebun sekolah adalah ruang belajar yang strategis dan transformatif. Ia menjembatani dunia akademik dengan kehidupan nyata, menggabungkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kehidupan.
Di tengah tantangan global seperti krisis pangan, perubahan iklim, dan pendidikan yang semakin terfragmentasi, kebun sekolah hadir sebagai solusi sederhana namun bermakna demi keadilan sosial ekologis.
Kebun Sekolah Fransiskan (KSF)
Spiritualitas Fransiskan menekankan kesatuan dengan seluruh ciptaan, “semua dunia adalah sakral,” tanpa memisahkan antara yang profan dan yang suci.
Kebun sekolah Fransiskan merupakan manifestasi dari keyakinan ini; ia bukan sekadar lahan tanam, tetapi laboratorium nyata di mana siswa dipersatukan dengan alam: tanah, air, udara sebagai guru kehidupan dan spiritualitas.
Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ menyerukan “dialog antara dimensi spiritual dan alam” dan menegaskan bahwa kita adalah bagian alam, bukan penguasa atasnya.
Kebun sekolah Fransiskan mencerminkan ekologi integral ini di mana pengajaran aksi ekologis juga melibatkan transformasi spiritual, membentuk kesadaran siswa bahwa merawat bumi adalah merawat relasi mereka dengan Sang Pencipta.
Menurut Ilia Delio, “Tuhan adalah cinta yang dinamis dan evolusi adalah ekspresi dari cinta itu yang selalu baru”. Dalam konteks kebun sekolah, siswa merasakan langsung dinamika hidup pertumbuhan, kematian, kesembuhan sebagai bagian dari proses evolusi yang penuh cinta, spiritual, dan maknawi.
Richard Rohr dalam Eager to Love menyampaikan “Francis adalah penggerak spiritual yang hidup dari pengosongan diri (kenosis), cinta radikal, dan kerendahan hati yang inklusif, hidup di sisi pinggir”.
Kebun sekolah Fransiskan menjadi ruang kenosis, siswa belajar melepaskan pamrih, melayani alam dan sesama, dengan penuh cinta dan kerendahan.
Rohr menekankan bahwa spiritualitas Fransiskan adalah ortopraksis, praktik hidup, bukan sekadar dogma dengan nilai kesederhanaan, tidak kekerasan, dan hidup bersama golongan marginal.
Kebun sekolah Fransiskan mewujudkan nilai itu secara konkrit: siswa belajar menanam, merawat, dan berbagi hasil dengan masyarakat, hidup secara langsung dari iman yang diterapkan.
Rohr menyebut pendekatan ini sebagai mysticism inkarnasional, menghargai tubuh, dunia konkret, dan pengalaman sehari-hari sebagai jalan menuju keilahi.
Kebun sekolah menjadi wahana di mana siswa merasakan keterhubungan tubuh mereka dengan ciptaan; mendalami pelajaran melalui tangan, indera, dan meditasi rinci terhadap proses tumbuh-tumbuhan.
Dengan paduan spiritualitas Fransiskan, semangat Laudato Si’, wawasan Ilia Delio tentang evolusi sebagai ekspresi cinta ilahi, dan pendekatan Rohr dalam Eager to Love, kebun sekolah Fransiskan tampil sebagai “Tanda Kerajaan Allah”: ruang pendidikan yang menumbuhkan cinta, kesadaran ekologis,kesederhanaan, kerendahan, dan transformasi batin.
Ia mengajak siswa bukan hanya untuk belajar tentang alam, tetapi hidup bersama alam dan Tuhan dalam harmoni penuh perdaban cinta.
Kemiskinan ekstrem bukan sekadar kekurangan materi, tetapi kondisi sistemik yang menyebabkan sekelompok orang kehilangan akses terhadap sumber daya dasar seperti pangan, air bersih, pendidikan, dan tanah.
Dalam perspektif Laudato Si’, kemiskinan adalah konsekuensi dari “model pembangunan yang merusak bumi dan meminggirkan manusia. Di sinilah pentingnya melihat kemiskinan sebagai ketidakadilan sosial ekologis di mana hubungan yang terputus antara manusia, sesama, dan alam.
Spiritualitas Fransiskan menempatkan kaum miskin dan ciptaan dalam posisi sentral. St. Fransiskus hidup dalam solidaritas radikal, bukan hanya dengan manusia miskin, tapi juga dengan saudara angin, air, dan bumi.
Eager to Love, Richard Rohr menjelaskan bahwa kemiskinan spiritual Fransiskus adalah cara untuk menyatu dengan penderitaan dunia baik manusia maupun ciptaan tanpa jarak atau dominasi. Melalui perspektif ini, kebun sekolah Fransiskan menjadi tempat praktik kesadaran akan keterhubungan dan keadilan ekologis.
Kebun sekolah Fransiskan bukan hanya ruang menanam, tetapi ruang belajar yang memperlihatkan relasi antara kelimpahan alam dan kemiskinan manusia.
Anak-anak belajar dari proses menanam: bahwa tanah yang diberi perhatian akan menghasilkan pangan; bahwa kerja sama dan kesabaran menciptakan keberlimpahan. Kebun menjadi laboratorium keadilan: tempat siswa merenungkan pertanyaan sosial, seperti Mengapa ada yang kelaparan di tengah kelimpahan pangan? Sebagaimana ditantang oleh Ilia Delio, teolog Fransiskan yang menulis tentang kesatuan kosmis dan spiritualitas evolusioner.
Dalam studi tentang food justice, para ahli seperti Eric Holt-Giménez menegaskan bahwa ketimpangan akses terhadap pangan disebabkan oleh sistem pertanian yang dikuasai industri, bukan oleh kelangkaan.
Kebun sekolah Fransiskan menjawab ini dengan menciptakan ruang pangan yang mandiri, berbasis komunitas, dan adil. Anak-anak tidak hanya belajar menanam, tetapi juga berbagi hasil kebun dengan warga sekitar praktik nyata solidaritas dan redistribusi sumber daya yang bersumber dari spiritualitas kasih dan keadilan sosial ekologis.
Dalam Laudato Si’, Paus Fransiskus menyebutkan bahwa membuang makanan merampas hak orang miskin; menangani kemiskinan dan menangani lingkungan hidup adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Ketika alam dirusak, kelompok miskin adalah yang pertama dan paling menderita.
Dengan merawat kebun, siswa belajar bahwa menjaga bumi adalah juga menjaga sesama manusia. Mereka melihat langsung bagaimana kelalaian ekologis memperparah ketidakadilan sosial ekologis membentuk empati yang bukan berdasarkan teori, tapi pengalaman konkret.
Kebun sekolah Fransiskan dapat menjadi sarana pendidikan transformatif sebagaimana dimaksud Paulo Freire, yakni pendidikan yang membebaskan melalui kesadaran kritis (conscientização). Ketika anak-anak belajar bahwa tanah bisa menjadi sumber kehidupan jika dikelola dengan adil dan penuh cinta, mereka tidak hanya menjadi petani kecil, tapi juga agen perubahan sosial ekologis.
Mereka menjadi sadar bahwa kemiskinan bukan takdir, melainkan hasil dari struktur sosial yang dapat diubah melalui solidaritas dan aksi ekologis.
Dengan menggabungkan spiritualitas Fransiskan, prinsip ekologi integral dalam Laudato Si’, dan pendekatan kritis dari para teolog dan aktivis, kebun sekolah Fransiskan menjadi simbol harapan bukan hanya menanam sayur, tetapi menanam kesadaran, keadilan, dan cinta.
Kemiskinan ekstrem bisa dibongkar melalui pendidikan yang menyentuh akar: ketimpangan sosial dan kerusakan ekologis. Dan semua itu bisa dimulai dari sebuah kebun kecil di halaman sekolah, tempat anak-anak belajar hidup dalam harmoni dengan alam dan sesama.

