Oleh: Fransiskus Bustan
Dosen Universitas Nusa Cendana
Proses suksesi kepemimpinan, terkhusus proses pemilihan rektor, di lingkungan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang semakin hari semakin menarik perhatian dan menjadi topik tukar tutur banyak kalangan masyarakat di seputar wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam beberapa hari terakhir.
Dinamika perbincangan tentang proses pesta demokrasi yang sedang bergulir di lingkungan Undana mencuat ke permukaan karena sosok yang sudah mendaftarkan diri sebagai kandidat dan bagaimana rumusan visi yang mereka usung sudah tersebar secara meluas dalam sejumlah media lokal di NTT.
Salah satu berita menarik yang menjadi topik perbincangan hangat sebagian kalangan akademisi di kawasan NTT, terutama kelompok pemerhati bahasa dan budaya lokal, adalah rumusan visi kandidat dalam proses suksesi kepemimpinan Undana yang menggunakan bahasa Inggris sebagai media komunikasi.
Memang tidak ada aturan menyangkut bahasa apa yang mesti digunakan kandidat dalam rumusan visinya, namun penggunaan bahasa Inggris dalam rumusan visi yang diusung kandidat menyedot perhatian khusus kalangan pemerhati bahasa dan budaya lokal, termasuk yang bergelut dalam dunia linguistik.
Seperti dilansir sejumlah media lokal di kawasan NTT, salah seorang kandidat yang sudah mendaftarkan diri meracik dan mengemas visinya dalam bahasa Inggris dengan menawarkan gagasan World Class University (WCU).
Sesuai konteks situasi yang melatari penggunaannya, gagasan itu bertujuan mendongkrak Undana menjadi universitas kelas dunia.
Sasaran yang ingin dicapai di balik adalah Undana berada dalam posisi yang sejajar dengan beberapa universitas kelas dunia seperti Oxford University di Inggris dan Harvard University di Amerika Serikat yang sudah sekian lama menyemat predikat atau atribut tersebut karena kualitasnya dalam bidang pengajaran dan penelitian.
Seandainya visi itu dapat tewudud dalam rentang waktu beberapa tahun masa jabatannya, jika terpilih sebagai Rektor Undana, maka bukan tidak mungkin nama Undana akan mendunia.
Dengan demikian, meskipun secara fisik Undana tidak kemana-mana, namanya niscaya harum di mana-mana di seluruh penjuru dunia ibarat harumnya cendana.
Mengapa? Karena Undana berada dalam satu barisan dengan Oxford University di Inggris dan Harvard University di Amerika Serikat sebagai universitas kelas dunia.
Bukan cuma itu. Kota Kupang juga akan dihingari oleh komposisi penduduk mancanegara yang bercorak multietnik, dan multikultural, dan multilingual karena dihuni bangsa-bangsa sedunia yang datang mengenyam pendidikan di Undana. Roda perekonomian juga ikut menggeliat karena raupan PAD terus meningkat jumlahnya dari waktu ke waktu.
Terlepas dari indah dan mulianya guratan makna yang terkandung di balik gagasan dimaksud, ditilik dari perspektif linguistik terapan, penggunaan bahasa Inggris yang termuat dalam visi tersebut adalah salah satu manifestasi imperialisme linguistik atau imperialisme bahasa berupa pengaruh atau dominasi satu bahasa atas bahasa lain, terutama bahasa lokal, yang mewarnai realitas kehidupan bangsa Indonesia.
Pengaruh imperialisme linguistik atau dominasi bahasa menyebabkan bahasa lokal akan mengalami keterpinggiran yang berakibat pada kepunahan dan kematian bahasa lokal karena kurangnya penghargaan dari pemiliknya sendiri.
Sebagai dampak lebih lanjut, nama bahasa lokal yang kita junjung selama ini hanya termuat dalam dokumen-dokumen usang dan berdebu karena jarang disentuh.
Kebermaknaannya sebagai pemarkah identitas kita sebagai anggota suatu guyub tutur hanya menjadi kenangan sejarah masa lalu.
Karena itu, dalam upaya pemertahanan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia, disarankan agar menyikapi imperialisme linguistik, termasuk imperialisme bahasa Inggris, secara arif dan bijaksana dengan tidak menggunakan bahasa asing jika sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia.
Kita boleh ingin tampil beda dengan tujuan menarik perhatian mitra tutur dalam komunikasi publik, namun nafas dan jiwa kita mesti tetap Indonesia.
Manifestasi imperialisme linguistik bahasa Inggris yang mewarnai suksesi kepemimpinan di lingkungan Undana adalah sepenggal contoh yang menggambarkan bahwa dominasi bahasa Inggris sudah merasuki relung kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia.
Secara tidak tersadari, dominasi bahasa semacam itu meleceti secara tidak langsung salah satu makna Sumpah Pemuda yang dikumandangkan pada tahun 1928 tentang kebermaknaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
Kita boleh belajar bahasa dan budaya asing seperti bahasa dan budaya Inggris guna memperluas cakrawala pandangan dan pemahaman kita tentang dunia, tetapi kita mesti tetap jadi orang Indonesia, apalagi jika kita masih hidup dalam rahim bahasa dan budaya Indonesia.
Kita boleh menguber mimpi menggapai kelas dunia melalui penggunaan bahasa Inggris, tetapi kita tidak boleh mengubur masa depan bahasa Indonesia sebagai salah satu pemarkah identitas kita sebagai bangsa Indonesia.
Semoga tulisan ini bermanfaat sebagai sebuah kado sederhana yang menjadi bahan refleksi dan introspeksi bagi kita semua dalam merayakan HUT Kemerdekan RI ke-80 yang sebentar lagi kita akan rayakan.

