Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»Jumlah ODGJ di Manggarai Terus Meningkat, Capai 892 Orang hingga Juni 2025
KESEHATAN

Jumlah ODGJ di Manggarai Terus Meningkat, Capai 892 Orang hingga Juni 2025

By Redaksi23 Agustus 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Estimasi ODGJ di Kabupaten Manggarai mengalami penambahan 100 sampai 150 orang per tahun (Foto: Ilustrasi)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, VoxNTT.com – Estimasi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur menunjukan tren peningkatan tiap tahun dengan estimasi penambahan 100 hingga 150 orang.

Hingga Juni 2025 jumlah ODGJ di wilayah itu mencapai 892 orang, dihimpun dari 25 UPTD Puskesmas.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, drg. Bertholomeus Hermopan menjelaskan, sebaran jumlah ODGJ di wilayah Kabupaten Manggarai menurut data dari UPTD Puskesmas menunjukkan variasi jumlah yang cukup signifikan.

“Estimasinya mungkin 100 sampai 150 orang,” ujarnya, Jumat 22 Agustus 2025.

Menurut drg. Bertholomeus, Puskesmas Cancar mencatat jumlah tertinggi dengan 77 orang, diikuti oleh Puskesmas Beamese dan Puskesmas Dintor yang masing-masing 56 orang.

Puskesmas Lao 53 orang, Puskesmas Wangko 52 orang, dan Puskesmas Timung 48 orang.

Wilayah lain seperti Puskesmas Reo memiliki 47 orang, Puskesmas Wae Codi 46 orang, serta Puskesmas Bangka Kenda dengan 45 orang.

Jumlah ODGJ di puskesmas lain seperti Puskesmas Nanu sebanyak 38 orang, Puskesmas Wae Mbeleng 35 orang, serta Puskesmas Narang, Iteng, Langke Majok, dan Ketang yang masing-masing melaporkan 30 orang.

Selain itu, kata drg. Bertolomeus, Puskesmas Pagal mencatat 26 orang, Puskesmas Watu Alo 23 orang, dan Puskesmas Langgo di Satarmese sebanyak 17 orang.

Wilayah dengan jumlah ODGJ terendah adalah Puskesmas Anam dan Loce, masing-masing 13 orang, diikuti Puskesmas Lemarang 11 orang, dan Puskesmas Wae Kajong dengan 9 orang.

Ia pun menjelaskan, hingga saat ini penanganan ODGJ di Manggarai masih sebatas pemberian obat-obatan karena belum tersedianya fasilitas rehabilitasi atau tenaga psikiater.

“Pemerintah hanya bisa bantu dari sisi farmakologis, penanganan yang menyeluruh masih menjadi tantangan besar,” ungkap drg. Bertholomeus.

Terpisah, Vikep Ruteng, RD. Dyonysius menegaskan, pelayanan gereja tidak hanya ditujukan kepada umat yang sehat secara fisik dan rohani, tetapi juga bagi mereka yang menderita sakit, termasuk yang mengalami gangguan kejiwaan.

Umat penyandang gangguan jiwa, kata RD. Dyonsius, merupakan bagian dari tubuh Gereja yang memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan sakramental dan pastoral.

“Semoga gereja dan para imam dapat merancang pendekatan pelayanan yang lebih utuh, manusiawi dan inklusif untuk ODGJ,” katanya.

Sementara itu, Direktur Ayo Indonesia, Tarsi Hurmali, mengungkapkan dengan tren peningkatan setiap tahun satu-satunya klinik rehabilitasi, Renceng Mose, hanya mampu menampung 30 pasien. Ini menunjukkan perlunya pendekatan baru yang tidak hanya mengandalkan institusi.

Ia menjelaskan, sejak 2024, Ayo Indonesia telah mengembangkan program kesehatan jiwa berbasis komunitas di 16 desa dan 3 kecamatan, mencakup pelatihan kader, pendampingan ODGJ dan keluarga, hingga pembentukan TPKJM tingkat kecamatan.

“Pemulihan ODGJ harus melibatkan komunitas. Gereja juga punya peran penting sebagai tempat yang menghadirkan kasih, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menjadi ruang pemulihan,” ujar Tarsi.

Penulis: Berto Davids

Dinkes Manggarai drg. Bertholomeus Hermopan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Manggarai Yayasan Ayo Indonesia
Previous ArticleRestu Ayah Terbayar di Kargo Peti Jenazah
Next Article Kejati NTT Temukan Masalah Teknis dalam Pembangunan 2.100 Rumah Eks Pejuang Timor-Timur

Related Posts

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Rumah Warga di Cibal Barat Ambruk Diterpa Hujan dan Angin Kencang

5 Maret 2026

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.