Labuan Bajo, VoxNTT.com – Ketika bel sekolah berbunyi menandakan waktu pulang, kebanyakan siswa bersorak gembira untuk beristirahat atau bersantai di rumah. Namun tidak bagi Indorcus Nanco, siswa kelas XII SMA Negeri 1 Komodo.
Indro, begitu ia biasa disapa, langsung bergegas pulang ke rumahnya di Golo Koe, Kelurahan Wae Kelambu, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.
Setelah mengganti seragam dan bersiap-siap, Indro berangkat menuju tempat ia berdagang makanan dan minuman di kawasan wisata Labuan Bajo.
Setiap hari, selepas sekolah, ia menjajakan kopi, minuman ringan, dan makanan instan di beberapa titik wisata, mulai dari Bukit Silvia hingga kawasan Waterfront Marina.
“Saya jualan aneka minuman dingin di siang dan sore hari kopi panas hingga Pop Mie di malam hari,” ujar Indro kepada VoxNtt.com, Selasa, 26 Agustus 2025.
Indro lahir dari keluarga sederhana. Ayah dan ibunya, Maksimus Nanjo dan Rosalina Jenina, bekerja sebagai petani di Golo Karot, Kelurahan Tangge, Kecamatan Lembor.
Sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara, Indro menyaksikan betapa berat perjuangan kedua orang tuanya dalam mencukupi kebutuhan keluarga dan pendidikan anak-anak mereka.
Kesadaran itu membuatnya tidak ingin hanya berpangku tangan.

Modal Awal dari Tukang Bangunan
Indro memulai usaha dagangnya pada pertengahan 2023, beberapa bulan setelah ia mulai bersekolah di SMA. Ia menggunakan uang hasil kerja bangunan untuk membeli perlengkapan dagang pertamanya.
Saat masih duduk di bangku SMP Negeri VII Lembor, Indro kerap ikut ayahnya menjadi tukang bangunan saat libur sekolah.
Dari pengalaman itu, ia mulai bisa mengerjakan pekerjaan bangunan sendiri, terutama pengecoran.
Hingga suatu hari, ia dipercaya oleh salah satu keluarga di Golo Koe untuk mengerjakan pagar rumah mereka.
“Hasil dari kerja pagar tembok itulah saya manfaatkan sebagai modal awal untuk berdagang makanan dan minuman ini,” kata Indro.
Uang tersebut digunakannya untuk membeli dua termos air, kopi asli Manggarai, gula, minuman sachet, serta ongkos ojek ke lokasi dagangnya.
“Pada masa awal itu, saya bisa meraup keuntungan perhari antara Rp10 ribu hingga Rp30 ribu. Itu laba bersih,” ungkapnya.
Lambat laun, usaha Indro berkembang. Ia menambah jenis minuman yang dijual, dari hanya kopi dan minuman sachet menjadi minuman ringan seperti Fanta, Coca Cola, dan Sprite dalam kemasan krat.
Dulu, ia berjualan dengan cara berkeliling atau mendatangi calon pembeli. Kini, ia memiliki lokasi tetap berjualan di bawah tenda kecil miliknya sendiri.
Keberhasilan juga membawanya pada perubahan signifikan dalam hidupnya. Ia tak lagi harus naik ojek karena sudah bisa membeli sepeda motor dari hasil jualannya.
“Puji Tuhan, dari hasil berdagang makanan dan minuman ini, saya sudah bisa beli motor sendiri. Cash,” ungkapnya.

Tak Lupakan Sekolah dan Adik
Meski aktif berdagang, Indro tetap menomorsatukan pendidikan. Ia mengatur waktu agar belajar tetap berjalan seiring aktivitasnya mencari nafkah.
“Sebab untuk kepentingan sekolah, yang paling dibutuhkan itu adalah pikiran untuk mengingat yang diajarkan guru dan membaca buku. Saya bisa membaca sambil jualan,” kata dia.
“Sedangkan berdagang ini yang utama yang dibutuhkan adalah tenaga atau fisik. Jadi, puji Tuhan, saya bisa menjaga keseimbangan keduanya, antara membaca buku untuk sekolah dan menjaga fisik atau tenaga untuk berdagang,” lanjutnya.
Indro juga menggunakan sebagian penghasilannya untuk membantu biaya sekolah adiknya yang saat ini duduk di kelas X SMK Nggorang.
Hadapi Cibiran demi Masa Depan
Selain berdagang, Indro juga menerima tawaran menjadi tukang bangunan saat sekolah sedang libur. Namun, pilihannya bekerja sambil sekolah sempat mendapat cibiran dari orang-orang sekitarnya.
Indro tak ambil pusing. Ia tahu persis apa yang sedang ia kerjakan dan untuk tujuan apa ia melakukannya.
“Sekolah adalah bagian dari persiapan orang tua untuk masa depan saya. Sebagai anak, saya tidak boleh sia-siakan. Tapi, pada saatnya, orang tua saya pasti tidak lagi mampu bekerja. Saat itu nanti, saya harus sudah mandiri. Dan saya persiapkan itu sejak dini,” tutupnya.
Ayah Indro, Maksimus Nanjo, mengaku bangga sekaligus terharu melihat semangat anaknya yang tidak ingin menjadi beban bagi keluarga.
“Perasaan saya bangga, terharu dan sedih juga karena dia tidak ingin membebani kami orang tuanya,” ujar Maksimus saat dikonfirmasi VoxNtt.com, Rabu, 27 Agustus 2025.
Menurut Maksimus, Indro ingin mandiri dan membantu biaya sekolah adiknya, termasuk uang asrama. Ia juga menyampaikan bahwa anaknya tak pernah sekalipun mengeluh.
“Kami sebagai orangtua juga ikut bangga akan semangat dan kegigihan dalam mencari uang untuk kebutuhannya,” ungkap Maksimus.
Sahabat Indro, Petrus Anus Salut mengatakan, apa yang dilakukan Indro menjadi inspirasi besar bagi anak muda di sekitarnya.
“Pendapat saya aktivitas Indro di luar lingkungan sekolah itu sangat menginspirasi bagi kami anak muda apalagi seorang pelajar yang dimana begitu banyak sekali kesibukan atau tugas yang di berikan oleh guru,” ujarnya.
Petrus menyebut Indro pandai membagi waktu antara belajar dan berdagang, dan tidak pernah malu dengan apa yang ia kerjakan.
“Selagi pekerjaannya itu halal untuk apa dia malu dan minder,” tegas Petrus.

Dapat Pujian Wali Kelas
Wali kelas Indro, Sofia Semian mengungkapkan, Indro adalah siswa yang penurut, sederhana, dan selalu siap membantu teman-temannya.
“Sebagai wali kelas, saya menyampaikan bahwa anak ini pribadi yang pendiam, tidak omong banyak dan penurut. Berperilaku sopan, sederhana dan selalu ada dengan teman-temannya,” ujar Sofia saat dikonfirmasi VoxNtt.com, Kamis, 28 Agustus 2025.
Sofia menjelaskan, aktivitas berjualan yang dilakukan Indro di luar jam sekolah sedikit banyak memengaruhi kondisi fisiknya. Ia mengaku sering melihat Indro tampak lelah dan mengantuk, meskipun tetap menunjukkan wajah ceria.
“Sofia mengakui, aktivitas Indro sedikitnya agak berpengaruh, karena dia kelihatan capeh dan lelah, selain itu sering kelihatan ngantuk dan wajah yang ceria,” tulis Sofia.
Meski demikian, sebagai wali kelas, ia terus memberikan motivasi kepada Indro agar tetap semangat menjalani usaha sambil tetap menjaga kesehatan dan tanggung jawab akademiknya.
“Tapi kemarin saya panggil dia, untuk beri spirit, tetap berjualan, jaga kesehatan, ingat tidak boleh alpa, dan harus kerja tugas untuk semua bidang studi,” kata Guru Agama Katolik SMAN 1 Komodo itu.
Lebih lanjut, Sofia menyampaikan bahwa pihak sekolah memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan positif Indro. Salah satu bentuk dukungan tersebut terlihat saat apel bendera hari Senin, di mana Indro dipanggil ke depan untuk memperkenalkan usahanya di hadapan ribuan siswa.
“Dukungan dari SMAN 1 Komodo, kemarin apel hari Senin, anaknya dipanggil ke depan, di hadapan seribu dua ratus siswa-siswi, namun dia terlambat ikut apel, untuk diperkenalkan tentang usahanya, di luar jam sekolah,” ujar Wali Kelas XII K itu.
Menurut Sofia, upaya memperkenalkan usaha Indro di hadapan siswa lainnya bertujuan untuk memotivasi mereka agar berani melakukan hal positif dan produktif sejak dini.
Penulis: Sello Jome

