Ruteng, VoxNTT.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Manggarai Timur dari Daerah Pemilihan (Dapil) Borong-Ranamese, Budi Abdul Syukur, menyuarakan keprihatinannya terkait absennya seorang dokter spesialis anestesi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Borong.
Dokter spesialis anestesi tersebut diketahui tidak akan masuk kerja sejak tanggal 5 hingga 14 September 2025 tanpa keterangan yang jelas. Kondisi ini dinilai Budi sangat memprihatinkan karena berdampak langsung terhadap pelayanan medis, terutama bagi pasien yang membutuhkan penanganan anestesi dalam situasi darurat.
“Kepergian dokter spesialis anestesi tanpa alasan yang jelas ini sangat disayangkan. Apalagi, ia memegang peran vital dalam tindakan medis yang sifatnya urgen,” ujar politisi fraksi Gerindra tersebut kepada wartawan, Jumat, 5 September 2025.
Ia menambahkan, dokter spesialis anestesi yang bertugas di RSUD Borong menerima gaji besar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) II Manggarai Timur, sehingga diharapkan dapat menunjukkan tanggung jawab penuh dalam menjalankan tugasnya.
“Gaji yang diterima itu bukan kecil, puluhan juta rupiah per bulan. Maka sudah seharusnya yang bersangkutan bekerja dengan penuh tanggung jawab, bukan meninggalkan tugas begitu saja,” tegasnya.
Atas situasi ini, Budi mendesak Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas, untuk segera memanggil Direktur RSUD Borong beserta dokter yang bersangkutan guna memberikan klarifikasi atas ketidakhadiran tersebut.
Ia menilai, ketidakpastian semacam ini tidak boleh dibiarkan karena berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat.
Sebelumnya, RSUD Borong melalui Dinas Kesehatan telah menerbitkan surat resmi pada Selasa, 2 September 2025, yang menyatakan bahwa rumah sakit tidak dapat menerima rujukan pasien dari Puskesmas maupun fasilitas kesehatan terdekat selama 5 hingga 14 September 2025.
Surat tersebut ditandatangani oleh Kepala RSUD Borong, dr. Kresensia Nensy. Dalam keterangannya, disebutkan bahwa layanan medis bagi pasien yang membutuhkan tindakan operatif, seperti operasi sesar (SC) dan bedah lainnya, serta pasien dengan kasus interna, anak, obstetri, ginekologi, dan pasien yang memerlukan perawatan intensif tidak dapat dilayani selama periode tersebut.
Menanggapi kekhawatiran publik, pihak RSUD Borong akhirnya memberikan klarifikasi terkait kabar mundurnya dokter spesialis anestesi dan terapi intensif.
“Untuk alasan ini beliau izin karena urusan penting, bukan selesai penugasan,” kata Humas RSUD Borong, Meilani Galis, dalam keterangan yang diperoleh VoxNtt.com, Sabtu, September 2025.
Meilani juga meluruskan informasi yang tercantum dalam surat sebelumnya. Ia menyebut bahwa penutupan layanan operasi dan perawatan intensif hanya berlangsung selama tiga hari, bukan sembilan hari sebagaimana tertera dalam surat awal.
“Perlu kami koreksi terkait durasi waktu ketiadaan pelayanan. Layanan operasi dan perawatan intensif hanya ditutup sementara mulai 5 sampai 7 September 2025,” pungkasnya.
Ia menegaskan, selama periode tersebut, pasien dengan kebutuhan tindakan operasi, termasuk bedah sesar (SC), serta pasien dengan kasus interna, obstetri, dan ginekologi tetap akan mendapatkan pelayanan medis seperti biasa di RSUD Borong.
Lebih lanjut, Meilani memastikan bahwa pihak rumah sakit telah mendapatkan kepastian kehadiran dokter anestesi pengganti. Dengan demikian, layanan medis di RSUD Borong akan kembali berjalan normal mulai 8 September 2025.
“Kami sudah mendapat kepastian dokter anestesi dengan keahlian yang sama yang akan menggantikan sementara dokter anestesi kita yang izin di RSUD Borong,” bebernya.
Klarifikasi ini diharapkan mampu menepis keresahan masyarakat yang sempat muncul terkait keberlangsungan pelayanan medis, terutama bagi pasien dengan kondisi kritis yang membutuhkan penanganan segera.
Kontributor: Isno Baco

