Mbay, VoxNTT.com – Kemacetan parah terjadi di lokasi bencana banjir bandang di Desa Sawu, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, pada Minggu, 14 September 2025.
Ribuan warga dari berbagai desa sekitar berbondong-bondong datang ke lokasi setelah mendengar kabar bahwa proses evakuasi material menemukan pakaian dalam wanita berupa bra.
Evakuasi dilakukan dengan menggunakan satu unit ekskavator untuk membersihkan material berupa batu dan kayu.
Saat penggalian berlangsung, warga mencium aroma tak sedap yang menyebar di sekitar area, meskipun hingga saat ini belum dapat dipastikan dari mana asal bau tersebut.
Proses pencarian difokuskan untuk menemukan tiga korban jiwa yang hingga kini masih dinyatakan hilang.
Namun, antusiasme warga yang memadati lokasi justru menghambat kinerja petugas serta pergerakan alat berat.
Kondisi semakin diperburuk oleh banyaknya kendaraan roda dua maupun roda empat yang diparkir sembarangan di sisi kanan dan kiri jalan. Hal ini menyebabkan arus distribusi bantuan dan lalu lintas umum terhambat total.
Hingga berita ini diturunkan, tidak tampak petugas dari Satuan Lalu Lintas Polres Nagekeo yang mengatur arus kendaraan. Hanya seorang anggota polisi terlihat menggunakan pengeras suara, berulang kali meminta warga untuk tidak berdiri di badan jalan.
Kasat Lantas Polres Nagekeo, Iptu Frnas Bay Meo mengatakan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Kabag Ops Polres Nagekeo untuk mengoptimalkan penempatan personel kepolisian di lokasi bencana.
“Kami akan koordinasi dengan Kabag Ops agar segera menurunkan anggota untuk mengatur lalu lintas di lokasi bencana,” tegasnya.
Diketahui, jumlah korban jiwa akibat banjir bandang di Nagekeo kembali bertambah. Memasuki hari keenam pascabencana, korban meninggal tercatat menjadi sembilan orang.
Seorang wanita bernama Ermelindis Co’o Tu (37), warga Desa Sawu, meninggal dunia di RSUD Aeramo pada Minggu, 14 September 2025, setelah menjalani perawatan intensif.
Sebelumnya, korban sempat dirawat selama dua malam di Puskesmas Mauponggo sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Aeramo dan menghembuskan napas terakhirnya.
Penulis: Patrianus Meo Djawa

