Mbay, VoxNTT.com – Isak tangis keluarga pecah saat jenazah Ermelindis Co’o Tu (37) tiba di kampung halamannya di Desa Sawu, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Minggu, 14 September 2025 malam.
Wanita malang itu akhirnya meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Aeramo sejak dirujuk dari Puskesmas Mauponggo pada Rabu, 9 September 2025.
Ia tercatat sebagai korban meninggal dunia ke-6 akibat banjir bandang di Mauponggo. Sementara itu, tiga korban lainnya hingga kini masih dalam pencarian oleh Tim Basarnas dan TNI.
Jenazah Ermelindis dibawa menggunakan kendaraan milik RSUD Aeramo. Setiba di rumah duka, peti jenasah tidak langsung dimasukkan ke dalam rumah, melainkan disemayamkan di luar rumah di atas susunan kursi.
Hal ini dilakukan karena adanya ketentuan adat yang mewajibkan ritual “Roka Re” sebelum jenasah diperkenankan masuk ke dalam rumah.
“Menempatkan jenasah orang yang meninggal dunia karena kecelakaan di luar rumah sudah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat Kecamatan Mauponggo,” ujar Krispin Koro (53), salah satu keluarga korban.
“Nanti setelah acara Roka Re dibuat, baru peti dibawa masuk ke dalam rumah,” tambahnya.
Ermelindis sendiri sempat bertahan hidup hampir sepekan pasca banjir bandang yang menerjang rumah pondok yang mereka huni di bantaran Kali Lowo Koke, Desa Sawu, pada Senin sore, 8 September 2025. Dari enam penghuni pondok, hanya dua orang yang selamat, yakni Yosevina Meli dan putrinya yang masih balita.
Ermelindis pertama kali dievakuasi oleh Florianus Marianus Sopi Bela (50). Ia mengisahkan kondisi mengenaskan korban saat ditemukan.
“saat kita bantu waktu itu sudah dalam keadaan kaki terlipat ke kepala, badan terjepit dari banjir dengan kayu rangka rumah,” ujar Florianus.
Hingga saat ini pihak keluarga belum memberikan informasi kepastian waktu pemakaman Ermelindis.
Penulis: Patrianus Meo Djawa

