Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Jenazah Korban Banjir Bandang di Nagekeo Ditempatkan di Luar Rumah
Regional NTT

Jenazah Korban Banjir Bandang di Nagekeo Ditempatkan di Luar Rumah

By Redaksi15 September 20252 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Peti Jenazah Ermelindis Co'o Tu (37) korban banjir bandang ditempatkan di luar rumah (Foto: Patrianus Meo Djawa/ VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, VoxNTT.com – Isak tangis keluarga pecah saat jenazah Ermelindis Co’o Tu (37) tiba di kampung halamannya di Desa Sawu, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Minggu, 14 September 2025 malam.

Wanita malang itu akhirnya meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Aeramo sejak dirujuk dari Puskesmas Mauponggo pada Rabu, 9 September 2025.

Ia tercatat sebagai korban meninggal dunia ke-6 akibat banjir bandang di Mauponggo. Sementara itu, tiga korban lainnya hingga kini masih dalam pencarian oleh Tim Basarnas dan TNI.

Jenazah Ermelindis dibawa menggunakan kendaraan milik RSUD Aeramo. Setiba di rumah duka, peti jenasah tidak langsung dimasukkan ke dalam rumah, melainkan disemayamkan di luar rumah di atas susunan kursi.

Hal ini dilakukan karena adanya ketentuan adat yang mewajibkan ritual “Roka Re” sebelum jenasah diperkenankan masuk ke dalam rumah.

“Menempatkan jenasah orang yang meninggal dunia karena kecelakaan di luar rumah sudah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat Kecamatan Mauponggo,” ujar Krispin Koro (53), salah satu keluarga korban.

“Nanti setelah acara Roka Re dibuat, baru peti dibawa masuk ke dalam rumah,” tambahnya.

Ermelindis sendiri sempat bertahan hidup hampir sepekan pasca banjir bandang yang menerjang rumah pondok yang mereka huni di bantaran Kali Lowo Koke, Desa Sawu, pada Senin sore, 8 September 2025. Dari enam penghuni pondok, hanya dua orang yang selamat, yakni Yosevina Meli dan putrinya yang masih balita.

Ermelindis pertama kali dievakuasi oleh Florianus Marianus Sopi Bela (50). Ia mengisahkan kondisi mengenaskan korban saat ditemukan.

“saat kita bantu waktu itu sudah dalam keadaan kaki terlipat ke kepala, badan terjepit dari banjir dengan kayu rangka rumah,” ujar Florianus.

Hingga saat ini pihak keluarga belum memberikan informasi kepastian waktu pemakaman Ermelindis.

Penulis: Patrianus Meo Djawa

Banjir Nagekeo Kabupaten Nagekeo Nagekeo
Previous ArticleTunjangan DPRD NTT Naik, Dinilai Tak Peka terhadap Rakyat Miskin
Next Article Bukit Tanarara Jadi Titik Awal Etape 4 Tour de EnTeTe di Tanah Sumba

Related Posts

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026
Terkini

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Jaringan Masyarakat Sipil Audiensi dengan Komisi V DPRD NTT Bahas Kasus Perdagangan Orang

5 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.