Ruteng, VoxNTT.com – Pastor Paroki St. Fransiskus Assisi Karot, RP. Bonivantura Y. Lelo, OFM, akrab disapa Pater Bovan, memimpin perayaan Ekaristi Minggu Salib Suci di Gereja Paroki St. Fransiskus Assisi Karot, Minggu, 14 September 2025.
Dalam kotbahnya, Pater Bovan mengajak umat untuk merenungkan makna keselamatan melalui jalan Salib yang telah diambil oleh Yesus.
Ia menekankan bahwa jalan Salib adalah simbol dari “jalan turun”, sebuah sikap kerendahan hati dan solidaritas yang menjadi esensi ajaran Kristiani.
“Perayaan Minggu Salib Suci ini adalah ajakan untuk berani mengambil jalan turun yang mengungkapkan makna peristiwa penyelamatan melalui jalan Salib Yesus, jalan penderitaan yang telah diambil oleh Tuhan Yesus sendiri,” ujar Pater Bovan.
Mengawali kotbah, ia menyinggung kisah Nikodemus, seorang pemuka agama Yahudi yang datang menemui Yesus pada malam hari. Kisah ini, menurutnya, mengandung makna simbolik tentang perjalanan pencarian iman.
“Nikodemus datang pada malam hari bisa dipahami dalam dua makna. Pertama, ia sengaja datang pada malam hari, untuk menghindari prasangka emosional dari para imam Yahudi yang tidak suka dengan keberadaan Yesus. Yang kedua, kedatangan Nikodemus pada malam hari adalah simbol dari seseorang yang tinggal dalam kegelapan, tinggal dalam kerapuhan iman,” jelas Pater Bovan.
Kedatangan Nikodemus, lanjutnya, adalah simbol ziarah iman untuk mencari terang, yaitu Yesus sendiri.
“Kedatangannya mengungkapkan ziarah iman dalam kiblat mencari terang yaitu Yesus Sendiri,” katanya.
Ia juga mengaitkan kisah umat Israel dalam perjanjian lama yang mencari kebebasan dari Mesir, dengan misi Yesus dalam perjanjian baru.
“Yesus pun dalam kitab perjanjian baru ingin mengajak manusia menuju tanah terjanji, tetapi bukan Israel. Tanah yang dimaksudkan Yesus adalah Kerajaan Allah. Sebab itu Anak manusia harus ditinggikan supaya semua yang percaya beroleh hidup yang kekal dalam kerajaan kasih Bapa,” ucapnya.
Menurut Pater Bovan, Pesta Salib Suci merupakan penyingkapan wajah Allah yang penuh kasih.
“Allah yang tersalib melalui Yesus adalah Allah yang peduli, Allah yang solider, Allah yang merendah, Allah yang mau turun untuk mengalami penderitaan manusia. Itulah Keagungan Allah kita. Dia bukanlah Allah yang mau nyaman di Tahta-Nya,” tegasnya.
Menanggapi realitas penderitaan di dunia, Pater Bovan mengutip Injil Yohanes bahwa terang sejatinya telah datang, tetapi tidak semua manusia bersedia menerimanya.
“Terang datang kepada semua manusia, tetapi manusia lebih suka kegelapan. Allah yang mau merendah itu telah menunjukkan kasih, namun sejalan dengan itu, manusia harus terbuka untuk menerimanya. Manusia diberi kebebasan untuk menerima-Nya. Allah bukanlah pemaksa yang otoriter, sebaliknya Dia adalah Kasih. Terbuka dan menerima kehadiran-Nya itulah jawaban yang seharusnya dari manusia,” jelasnya.
Ia kemudian menekankan pentingnya keterbukaan hati sebagai bentuk kelahiran baru dalam Kristus.
“Manusia yang terbuka adalah manusia yang mau dilahirkan kembali, manusia yang mana hati dan pikirannya diterangi dan dibimbing oleh Terang Kristus sendiri,” ujarnya.
Di akhir kotbah, Pater Bovan mengajak umat untuk memilih jalan hidup yang tidak egois dan kompetitif, tetapi solider dan rendah hati.
“Jalan turun adalah tanggung jawab untuk saling mengasihi sebagai saudara. Jalan turun adalah jalan solidaritas sebagai lawan dari jalan naik yang cenderung kompetitif, perlombaan yang menyingkirkan orang lain yang tidak sanggup dari pelbagai aspek. Jalan turun adalah ziarah kerendahan hati yang memungkinkan kita hidup bersama sebagai saudara, yang memungkinkan kita jadi promotor kemanusiaan di tengah dunia, yang memungkinkan kita memulihkan diri dan sesama yang juga menjadi intisari renungan kita dalam sharing Kitab Suci di Bulan Kitab Suci Nasional tahun ini,” pungkasnya.
Kontributor: Sipri Kantus

