Ruteng, VoxNTT.com – Umat Katolik Paroki St. Fransiskus Assisi Karot merayakan peringatan 800 tahun penerimaan Stigmata oleh St. Fransiskus Assisi dengan penuh sukacita dan kekhusyukan. Perayaan Ekaristi tingkat paroki ini digelar di Gereja St. Padre Pio, Kenda-Kaweng, Rabu, 17 September 2025, bertepatan dengan ritual adat Manggarai “Hese Ngando” untuk peresmian gereja baru stasi tersebut.
Hese Ngando merupakan ritus peresmian tiang sentral bangunan, penyanggah utama yang menghubungkan atap dengan keseluruhan struktur gereja.
Prosesi adat menyambut kehadiran Pastor Paroki RP. Bonivantura Y. Lelo, OFM dan Pastor Rekan RP. Hupertus H. Hormat, OFM, bersama unsur DPP-DKP Paroki St. Fransiskus Assisi. Dalam nuansa gembira dan penuh syukur, Pater Bovan didaulat sebagai penerima utama dalam ritual adat tersebut.
Dalam sambutannya, Pater Bovan menegaskan bahwa momen peresmian tiang sentral gereja baru ini memiliki makna spiritual yang mendalam.
“Peresmian tiang central gereja ini sungguh bertepatan dengan peringatan 800 tahun St. Fransiskus Assisi, yang menerima stigmata berupa luka suci yang menyerupai luka Yesus di kayu Salib, saat bertapa dan berdoa di Gunung La Verna. Maka peresmian tiang induk gereja Stasi St. Padre Pio Kenda-Kaweng ini, selain merupakan simbol persatuan, juga sangat penting kita melihat makna pengorbanan di dalamnya seperti pengorbanan St. Fransiskus Assisi,” katanya.
Ia pun mengajak umat untuk melanjutkan proses pembangunan gereja secara bersama-sama.
“Sebagai saksi ritus ini, kami mengajak agar kita semua bersatu hati, menyelesaikan pembangunan gereja ini sampai selesai,” kata Pater Bovan.
Dalam homilinya, Pater Bovan kembali menggarisbawahi nilai spiritual dari peringatan 800 tahun ini.
Ia menyampaikan pesan peneguhan kepada seluruh umat yang hadir dalam misa tersebut.
“Momentum hari ini, di mana kita bergembira menyambut gereja baru harus juga momentum refleksi bahwa semua pengorbanan kita, keringat darah kita bertujuan untuk bermegah dalam Kristus, bukan untuk diri kita sendiri,” ujar Pater Bovan.
Ia melanjutkan, perjalanan iman umat tak selalu mulus, dan perjuangan membangun gereja telah membuktikan komitmen kolektif umat dalam memikul salib bersama.
Pater Bovan pun memberikan peneguhan spiritual dan dorongan untuk terus menjaga semangat persatuan.
“Yakinlah, St. Fransiskus Assisi yang kita rayakan penerimaan Stigmata pada hari ini dan St. Padre Pio selalu bersama dalam ziarah kita. Mari kita pikul semua beban bersama-sama sampai akhir,” katanya.
Ia menambahkan, makna Stigmata yang diterima St. Fransiskus bukan hanya sebagai simbol penderitaan, tetapi juga sebagai tanda kasih.
“Peristiwa Stigmata St. Fransiskus Assisi harus menjadi simbol kasih untuk semua kita yang berlindung dalam naungannya. Bersaksi tentang penderitaan Kristus yang diwartakannya untuk membawa pengampunan, kesembuhan, dan perdamaian,” kata Pater Bovan.
Sementara itu, Ketua Panitia Kegiatan, Stefanus Jedaut, menyampaikan apresiasi atas partisipasi umat serta dukungan dari pastor paroki dan semua pihak yang terlibat.
Ia secara khusus mengapresiasi penampilan koor yang mengiringi misa.
“Apresiasi tulus untuk Padre Pio Choir (PPC) yang mengiringi perayaan ekaristi 800 Tahun St. Fransiskus Assisi dengan lagu-lagu liturgis yang indah dan semarak,” ujarnya.
Turut hadir dalam perayaan ini RP. Filipus Tulus, SVD sebagai konselebran misa, seluruh jajaran DPP-DKP Paroki St. Fransiskus Assisi Karot, Dewan Stasi Watu Alo, para kepala sekolah dari jenjang SD hingga SMA/SMK, Kepala Puskesmas Kenda, Kepala Desa Kenda, serta para tokoh adat setempat.
Kontributor: Sipri Kantus

