Oleh: Yosef Valdo Leso
Mahasiswa IFTK Ledalero
Setiap zaman memiliki gongnya sendiri. Ada gong yang dipukul untuk menandai pesta, dan ada pula gong yang dibunyikan untuk menyerukan kebersamaan.
Namun di tengah dunia yang berubah cepat dan penuh distraksi ini, gong yang paling mendesak untuk kita bunyikan kembali adalah gong belajar tanda dimulainya kebangkitan akal budi, kesadaran, dan semangat pembentukan diri yang berkelanjutan.
Bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur, gong bukan sekadar alat musik tradisional. Ia adalah simbol panggilan.
Ketika gong dipukul, orang-orang datang berkumpul: berdialog, bekerja sama, dan merayakan hidup. Maka, dalam konteks pendidikan dan kebudayaan, menghidupkan gong belajar berarti menyalakan kembali semangat belajar sebagai panggilan bersama, bukan hanya urusan ruang kelas.
Seruan ini sejalan dengan gagasan ongoing formation atau formasi berkelanjutan, yang menekankan bahwa proses belajar tidak berhenti pada masa sekolah atau pendidikan formal, tetapi berlangsung seumur hidup.
Konsep ini banyak dibicarakan dalam teologi dan pendidikan pastoral (lihat Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed, 1970), yang menegaskan bahwa manusia tidak pernah selesai dibentuk; ia selalu “menjadi” melalui pengalaman, refleksi, dan dialog dengan sesamanya.
Sayangnya, semangat seperti ini mulai memudar di tengah budaya instan dan serba cepat. Banyak orang lebih sibuk mengejar hasil ketimbang proses. Media sosial membuat kita tampak tahu banyak hal, tetapi kehilangan kedalaman berpikir.
Kita mudah puas dengan pengetahuan permukaan tanpa keberanian untuk menyelidiki lebih jauh. Padahal, inti dari ongoing formation justru terletak pada keberanian untuk berhenti sejenak, merefleksikan pengalaman, dan belajar dari hidup sehari-hari.
Menghidupkan gong belajar berarti menghidupkan kembali rasa ingin tahu yang sejati. Belajar tidak sekadar soal nilai, ijazah, atau prestasi, tetapi tentang proses membentuk diri menjadi manusia yang peka terhadap realitas.
Dalam konteks NTT, semangat ini amat penting. Di tengah keterbatasan sarana dan akses pendidikan, tekad untuk terus belajar menjadi bentuk perlawanan terhadap ketertinggalan. Orang yang mau belajar adalah orang yang menolak berhenti tumbuh.
Dalam semangat ongoing formation, setiap orang adalah pembelajar dan pembentuk (objek dan subjek).
Orang tua yang menuntun anak dengan kasih, guru yang terus memperbarui metode mengajar, petani yang belajar membaca tanda musim, atau biarawan yang setia memperdalam panggilannya semuanya adalah wujud konkret dari formasi yang terus berlangsung. Belajar bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga spiritual dan eksistensial.
Lembaga pendidikan, baik sekolah maupun perguruan tinggi, seharusnya menjadi ruang bagi semangat ini. Pendidikan tidak boleh berhenti pada hafalan dan ujian, tetapi harus membuka ruang bagi dialog dan kreativitas.
Guru perlu menjadi pembelajar sejati yang rendah hati dan terbuka terhadap pembaruan. Murid perlu didorong untuk berpikir kritis, bertanya, dan berani mengemukakan pendapat.
Hanya dengan cara ini gong belajar dapat terus berdentang di setiap ruang kelas dan hati generasi muda.
Namun tanggung jawab ini tidak berhenti di ruang sekolah. Gong belajar mesti menggema di seluruh ruang publik. Pemerintah daerah, komunitas literasi, dan media seperti Vox NTT memiliki peran penting dalam menumbuhkan budaya belajar bersama.
Gereja dan lembaga keagamaan pun dapat menjadikan ongoing formation sebagai bagian dari pelayanan pastoral, agar umat tidak hanya bertumbuh dalam iman, tetapi juga dalam kecerdasan sosial dan tanggung jawab moral. Menghidupkan gong belajar berarti menolak stagnasi dan ketidakpedulian.
Ia adalah ajakan untuk keluar dari kenyamanan “sudah tahu” menuju keberanian untuk “terus belajar”. Masyarakat yang berhenti belajar akan kehilangan arah, tetapi masyarakat yang terus membentuk diri akan menemukan harapan di setiap zaman.
Akhirnya, menghidupkan gong belajar adalah panggilan bagi kita semua di Nusa Tenggara Timur: untuk menjadi masyarakat yang reflektif, terbuka, dan solider.
Gong itu harus terus dibunyikan di rumah, di sekolah, di kebun, di biara, di ruang publik agar NTT tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kedalaman pikirannya.
Belajar bukan hanya sekedar mengumpulkan teori, belajar bukan sekedar menghafal banyaknya materi, lebih dari itu belajar merupakan proses yang terus berlanjut untuk mencari makna tentang perjalanan hidup. Jadikan Gong belajar sebagai instrumen untuk menghidupkan semangat belajar.

