Oleh: Pater Darmin Mbula, OFM
Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)
Dalam rangka memperingati 60 tahun dokumen Konsili Vatikan II Gravissimum Educationis tentang pendidikan Kristen, Paus Leo XIV menerbitkan surat apostolik berjudul Disegnare Nuove Mappe di Speranza (Merancang Peta Harapan Baru).
Melalui surat ini, Paus menegaskan kembali bahwa pendidikan adalah tindakan iman pengharapan dan cinta kasih (IPK), yang harus menjangkau semua orang, terutama yang miskin dan terpinggirkan.
Dokumen tersebut mengajak Gereja dan lembaga pendidikan Katolik untuk membuka jalan baru pendidikan yang humanis, spiritual, dan ekologis, agar sekolah menjadi ruang pembaruan bagi dunia yang dilanda krisis makna dan relasi.
Judul Sekolah Orang Miskin sebagai Tindakan Cinta dalam Merancang Peta Harapan Baru mengandung makna yang sangat penting karena merangkum inti visi pendidikan Katolik kontemporer yang ditegaskan oleh Paus Leo XIV: pendidikan bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi tindakan cinta kasih yang menghadirkan harapan nyata bagi mereka yang paling miskin dan terpinggirkan.
Dalam ungkapan “merancang peta harapan baru”, tersirat bahwa sekolah dipanggil untuk menjadi medan misi cinta yang kreatif dengan menembus batas sosial, ekonomi, dan digital guna membuka jalan bagi keadilan, damai dan kemanusiaan baru. Judul ini hendak memadukan tiga poros utama ajaran Paus Leo XIV: cinta kasih sebagai dasar pendidikan, kemiskinan sebagai pusat perhatian pastoral, dan harapan sebagai arah transformasi dunia.
Dengan demikian, judul tersebut bukan hanya tema akademik, melainkan juga seruan profetis agar pendidikan di era phygital menjadi ruang di mana cinta dan solidaritas menjelma dalam praksis yang membebaskan.
Pendidikan Holistik, Humanis dan Ekologis
Menurut Paus Leo XIV, pendidikan memiliki kedudukan yang maha penting karena menjadi jalan utama bagi manusia untuk belajar mencintai dan menemukan dirinya sebagai pribadi yang utuh di hadapan Allah, sesama, dan ciptaan.
Dalam surat apostolik Disegnare Nuove Mappe di Speranza (Merancang Peta Harapan Baru), Paus menegaskan bahwa “to educate is an act of hope” mendidik adalah tindakan harapan, sebab melalui pendidikan manusia dibentuk untuk mengenali martabatnya, memahami makna hidup, dan menumbuhkan cinta yang menghidupkan.
Pendidikan yang sejati tidak hanya mentransfer pengetahuan, melainkan mengasah hati dan nurani agar manusia mampu merespons dunia dengan kebijaksanaan dan cinta kasih. Maka, pendidikan adalah wujud nyata cinta Allah yang mengundang setiap orang untuk tumbuh menjadi pribadi yang mampu mencintai dan dicintai.
Lebih lanjut, Paus Leo XIV menegaskan bahwa pendidikan yang holistik dan humanis harus menyentuh seluruh dimensi manusia: intelektual, moral, afektif, sosial, dan spiritual.
Ia memperingatkan bahwa pendidikan modern sering terjebak dalam logika produktivitas dan kompetensi, padahal pendidikan sejati mengukur nilainya berdasarkan martabat, keadilan, damai dan kemampuan untuk melayani kebaikan bersama.
Artinya, pendidikan yang humanis menolak reduksi manusia menjadi sekadar sumber daya, melainkan memandangnya sebagai citra Allah yang utuh.
Dalam visi ini, belajar menjadi manusia berarti belajar mengintegrasikan akal dan hati, logika dan empati, refleksi dan tindakan sehingga proses belajar menjadi ziarah menuju kemanusiaan yang semakin penuh.
Paus Leo XIV mengaitkan pentingnya pendidikan dengan dimensi ekologis kehidupan: manusia yang terdidik secara sejati akan mencintai bukan hanya sesamanya, tetapi juga ciptaan.
Dalam semangat Laudato Si’ dan pendidikan ekologis integral, ia menegaskan bahwa pendidikan harus menanamkan relasi harmonis dengan bumi, rumah bersama kita.
Pendidikan yang mencintai berarti membangkitkan kesadaran bahwa setiap tindakan manusia berdampak bagi seluruh kehidupan; karena itu, mencintai berarti menjaga, merawat, dan melindungi ciptaan.
Dengan demikian, pendidikan menurut Leo XIV bukan hanya proses pembentukan pikiran, melainkan proses pembangkitan cinta: cinta kepada Tuhan, kepada sesama, dan kepada bumi yang menumbuhkan manusia menjadi pribadi yang holistik, humanis, dan ekologis.
Menurut Paus Leo XIV, pendidikan demi damai dan kebaikan hanya dapat tumbuh dari kontemplasi ciptaan, yaitu kemampuan melihat dunia bukan sekadar sebagai sumber daya, tetapi sebagai tanda kehadiran Allah yang mengundang manusia untuk bersyukur, menghormati, dan merawatnya.
Dalam surat apostolik Disegnare Nuove Mappe di Speranza, Paus menegaskan bahwa pendidikan Katolik harus “menumbuhkan kesadaran relasional yang lahir dari keterpesonaan akan keindahan ciptaan dan kesadaran akan tanggung jawab terhadapnya,” sebab dari kontemplasi itu mengalir damai sejati, damai yang bersumber dari harmoni antara manusia, sesama, dan bumi.
Pendidikan yang demikian melatih siswa untuk melihat keterhubungan semua makhluk, menumbuhkan empati dan solidaritas, serta membentuk hati yang lemah lembut dan terbuka terhadap kebaikan.
Dengan kontemplasi ciptaan, pendidikan menjadi ruang suci tempat manusia belajar mencintai, berdamai, dan berbuat baik bukan karena kewajiban, melainkan karena penghayatan akan kasih Allah yang hidup dalam segala ciptaan.
Sekolah Orang Miskin
Dalam dokumen “Drawing New Maps of Hope”, Paus Leo XIV menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya menjadi hak istimewa bagi sebagian orang: Where access to education remains a privilege, the Church must push open doors and invent new paths, because ‘losing the poor’ is equivalent to losing the school itself.
Dari pernyataan ini dapat dipahami bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan Katolik memiliki kewajiban mendasar untuk memastikan bahwa orang miskin dan mereka yang termarjinalkan tidak diabaikan.
Dengan demikian, “sekolah orang miskin” bisa dipahami sebagai sekolah yang menjangkau mereka yang kurang beruntung, bukan sebagai nama formal, tetapi sebagai gagasan bahwa sekolah adalah untuk semua, terlebih mereka yang paling membutuhkan.
Paus Leo XIV menekankan bahwa pendidikan Katolik harus mengukur dirinya bukan dari efisiensi atau profil kompetensi semata, tetapi dari martabat manusia, keadilan, dan pelayanan kepada kebaikan bersama: …education measures its value] on the basis of dignity, justice, and the ability to serve the common good.
Dalam kerangka ini, sekolah yang benar-benar melayani orang miskin akan memfokuskan pada pembentukan pribadi yang utuh agar mereka tidak sekadar dibekali kemampuan teknis, tetapi diakui sebagai wajah, kisah, panggilan. Dengan begitu, gagasan “sekolah orang miskin” menjadi penting: sekolah yang hadir untuk mereka, dan bukan hanya sekadar untuk yang sudah memiliki akses.
Dokumen tersebut mengaitkan pendidikan dengan tindakan cinta dan harapan bagi mereka yang terpinggirkan: Paus Leo XIV menulis bahwa to educate is an act of hope.
Dengan menyebut demikian, maka sekolah bagi orang miskin menjadi wujud nyata dari tindakan cinta karena melalui pendidikan, orang yang sebelumnya terpinggirkan bisa diangkat, diberi harapan baru, diberi kesempatan untuk merealisasikan diri secara holistik, humanis dan ekologis.
Dalam konteks ini, sekolah bukan hanya institusi teknis, melainkan ruang pastoral dan evangelisasi Gereja dimana cinta Kristiani diwujudkan dalam relasi, pendampingan, inklusi.
Dokumen ini menekankan bahwa pendidikan Katolik perlu muncul sebagai “laboratorium” kreatif dan inklusif di tengah tantangan zaman (digitalisasi, fragmentasi sosial, migrasi, kemiskinan) bukan sebagai tempat eksklusif atau elitis.
Paus Leo XIV menulis: We are aware of the difficulties: hyper-digitalization can fragment attention; the crisis of relationships can wound the psyche; social insecurity and inequalities can extinguish desire.
Sekolah yang menargetkan orang miskin dan terpinggirkan harus memahami tantangan ini dan merespon dengan metode, budaya dan struktur yang membuka akses, menciptakan solidaritas, dan menumbuhkan harapan di kawasan yang sering dilupakan.
Dalam spirit dokumen ini, sekolah yang melayani orang miskin bukan sekadar “menampung” mereka, tetapi mengajak mereka ikut serta aktif dalam komunitas pendidikan: guru, siswa, sekolah, keluarga, masyarakat saling terlibat dalam “choral work” pendidikan Katolik: no one educates alone.
Dengan demikian, masyarakat pendidikan di sekolah-orang-miskin adalah komunitas yang saling mendukung, di mana orang miskin tidak hanya objek bantuan, tetapi subjek pembelajaran dan pertumbuhan untuk membentuk visi baru tentang komunitas sekolah yang inklusif dan transformatif.
Sekolah Tindakan Cinta
Gagasan bahwa “sekolah sebagai tindakan cinta” ditegaskan kembali oleh Pope Leo XIV dalam surat apostoliknya yang berjudul Merancang Peta Harapan Baru (Disegnare Nuove Mappe di Speranza) dalam rangka memperingati 60 tahun dokumen konsili Gravissimum Educationis.
Pertama, surat apostolik Pope Leo XIV menegaskan bahwa pendidikan dalam konteks sekolah Katolik bukanlah sekadar transfer pengetahuan atau pelatihan teknis, melainkan sebuah tindakan cinta.
Dalam surat tersebut, Paus menyebut bahwa “to educate is an act of hope” dan bahwa sekolah harus menjadi “one of the highest expressions of Christian charity”.
Dengan kata lain, sekolah sebagai lembaga pendidikan Katolik hadir bukan hanya untuk mengantar instrumen, tetapi untuk mengangkat martabat manusia, membangun harapan, dan mewujudkan cinta yang konkret terhadap siswa dan komunitas.
Ini menghidupkan kembali semangat Gravissimum Educationis yang menyatakan bahwa pendidikan adalah hak asali manusia dan bahwa sekolah Katolik menjalankan tugas evangelisasi melalui pendidikan.
Kedua, dalam suratnya Paus Leo XIV menyoroti beberapa tantangan zaman kini, digitalisasi yang cepat, fragmentasi hubungan manusia, eksklusi sosial, kemiskinan dan migrasi yang membuat peran sekolah sebagai tindakan cinta semakin relevan dan mendesak.
Ia mengajak agar lembaga-lembaga pendidikan Katolik mengambil inisiatif baru guna “membuka pintu dan menemukan jalan baru” karena “kehilangan orang miskin berarti kehilangan hakekat sekolah itu sendiri”.
Dengan demikian, tindakan cinta dalam pendidikan berarti inklusi, perhatian terhadap yang termarjinalkan, dan pendidikan yang membebaskan tidak hanya berfokus kepada kemampuan teknis atau kompetensi semata, tetapi integritas manusia secara utuh.
Ketiga, sekolah sebagai tindakan cinta juga berarti bahwa pendidikan Katolik harus memperhatikan pembentukan seluruh pribadi, dimensi intelektual, moral, spiritual, sosial dan ekologis.
Paus menyebut bahwa pendidikan tidak boleh “fungsi pelatihan saja” atau “profil keterampilan yang dapat diprediksi” melainkan harus mengangkat pribadi sebagai “wajah, kisah dan panggilan”. Sekolah, dalam kerangka ini, bukan hanya ruang untuk “apa yang harus diketahui”, tetapi ruang untuk “siapa saya”, “apa yang saya percaya”, “apa yang saya lakukan bagi sesama dan bagi ciptaan”.
Maka tindakan cinta berarti sekolah yang ikut membentuk karakter, hati, tanggung-jawab sosial dan kesadaran ekologis menjawab panggilan universal dokumen Gravissimum Educationis untuk “perkembangan seluruh manusia” secara harmonis.
Keempat, aspek penting dari tindakan cinta dalam pendidikan adalah kerjasama dan komunitas. Dalam suratnya, Paus Leo XIV menegaskan bahwa “tidak ada yang mendidik sendirian” (“no one educates alone”) dan bahwa pendidikan Katolik adalah sebuah “kerja padu” (choral work) yang melibatkan keluarga, guru, sekolah, gereja, masyarakat.
Sekolah sebagai tindakan cinta berarti saling membangun orang tua sebagai pendidik pertama, guru sebagai saksi hidup, siswa sebagai subjek yang aktif, dan masyarakat sebagai lingkungan mendukung. Ini selaras dengan Gravissimum Educationis yang menempatkan keluarga sebagai “sekolah pertama dan utama” dari seluruh pendidikan manusia.
Kelima dan terakhir, penerapan sekolah sebagai tindakan cinta dalam konteks kontemporer menuntut pembaruan gaya, metodologi dan budaya. Paus Leo XIV mencantumkan tiga prioritas: kehidupan batin (ruang diam, dialog, kesadaran hati), budaya digital yang manusiawi (teknologi melayani manusia, bukan menggantikan manusia), dan pendidikan untuk perdamaian yang “tidak bersenjata dan memutuskan sekitaran” (non-violent, membangun jembatan bukan tembok).
Jadi sekolah sebagai tindakan cinta hari ini berarti membekali siswa untuk hidup dalam dunia yang cepat berubah dengan kompetensi sekaligus tanggung-jawab, dengan kecerdasan teknologi sekaligus hati nurani, dan dengan keterampilan sosial sekaligus sikap etis yang pro-kemanusiaan dan pro-ciptaan.
Dengan demikian, surat ini mengajak seluruh komunitas pendidikan Katolik untuk “menggambarkan peta baru harapan” melalui sekolah yang hidup sebagai tindakan cinta.
Implikasi dan Dampaknya
Implikasi dan dampak dari gagasan “sekolah orang miskin sebagai tindakan cinta” berdasarkan gagasan yang dikemukakan oleh Paus Leo XIV dalam surat apostoliknya Drawing New Maps of Hope (Disegnare Nuove Mappe di Speranza) dengan perhatian khusus pada konteks era «phygital» (fisik + digital).
Gagasan “sekolah orang miskin sebagai tindakan cinta” berarti bahwa sekolah tidak hanya menyediakan akses pendidikan secara fisik bagi anak-anak miskin atau terpinggirkan, tetapi juga merefleksikan nilai kasih dalam semua aspek proses pendidikan: penerimaan, perhatian personal, pembentukan martabat, bukan sekadar pelayanan teknis.
Paus Leo XIV menegaskan: “Wherever access to education remains a privilege, the Church must push open doors and invent new pathways because to ‘lose the poor’ is equivalent to losing the school itself.”
Dalam era phygital, ini berarti sekolah harus hadir baik secara fisik maupun digital agar benar-benar menjangkau mereka yang secara ekonomi atau geografis terpinggir. Implikasi pertama adalah bahwa gap akses digital menjadi bagian dari tantangan keadilan pendidikan: jika orang miskin tidak memiliki akses internet, perangkat digital, atau literasi digital, maka “sekolah orang miskin” justru bisa gagal menjalankan tindakan cinta-nya.
Secara konseptual, tindakan cinta dalam pendidikan menghendaki bahwa guru, sekolah, dan komunitas pendidikan menjalin relasi yang lebih dari sekadar transfer pengetahuan: mereka harus peduli pada kondisi hidup siswa, mendampingi mereka, mengenali tantangan kemiskinan, dan menjadikan sekolah sebagai ruang harapan.
Dalam era phygital, dampaknya adalah bahwa interaksi digital tidak boleh menggantikan relasi manusiawi. Paus Leo XIV mengingatkan bahwa “no algorithm can replace what makes education truly human: poetry, irony, love, art, imagination, and even learning from mistakes as an opportunity for growth.”
Untuk sekolah yang melayani orang miskin, ini berarti teknologi harus dimanfaatkan sebagai alat membuka akses, bukan sebagai pengganti kehadiran guru atau komunitas-kasih; tantangannya adalah membangun ekosistem digital yang juga mengandung kehangatan, perhatian, pendampingan.
Impikasi ketiga menyangkut komunitas inklusif dan jaringan solidaritas. Paus menegaskan bahwa pendidikan adalah “choral work: no one educates alone.”
Bagi sekolah orang miskin, ini berarti bahwa tidak hanya sekolah sendiri yang bertanggungjawab: keluarga, masyarakat lokal, lembaga sosial dan digital juga harus terlibat.
Dalam era phygital, jaringan solidaritas bisa diperkuat melalui platform digital: misalnya komunitas orang tua online, mentor virtual, kelas daring yang melibatkan relawan dari seluruh dunia. Dampaknya adalah potensi akses yang lebih besar, tapi juga risiko bahwa keluarga miskin yang tidak cukup terlindungi secara digital bisa tertinggal. Sekolah harus merancang hybrid model (fisik + digital) yang memastikan inklusi nyata.
Keempat, gagasan ini menuntut kurikulum dan metodologi yang relevan bagi mereka yang hidup dalam kemiskinan atau di margin sosial.
Paus Leo XIV menekankan bahwa pendidikan Katolik harus “embrace the whole person: spiritual, intellectual, emotional, social, and physical … [and] measures its value on the basis of dignity, justice, and the ability to serve the common good.”
Sekolah orang miskin sebagai tindakan cinta dalam praktik phygital akan mengembangkan metodologi yang mengkombinasikan pembelajaran tatap muka yang memungkinkan kehadiran, relasi, pendampingan langsung – dan pembelajaran digital yang memungkinkan fleksibilitas, akses yang lebih luas, sumber daya dari luar, pembelajaran mandiri.
Dampaknya adalah bahwa sekolah harus memikirkan bagaimana teknologi mendukung siswa yang mungkin menghadapi keterbatasan (misalnya jaringan internet lemah, perangkat kurang) dan bagaimana guru dilatih untuk mendampingi secara hybrid.
Kelima, dari sisi keadilan akses, gagasan sekolah bagi orang miskin sebagai tindakan cinta berarti bahwa sekolah harus proaktif membuka akses bagi mereka yang kurang beruntung meretas hambatan ekonomi, geografis, sosial, dan digital. Paus Leo XIV mengajak agar lembaga pendidikan “push open doors and invent new paths” ketika akses masih menjadi hak istimewa.
Dalam konteks phygital, implikasinya adalah sekolah harus menyediakan perangkat atau kemitraan dengan penyedia teknologi, mengembangkan model pembelajaran daring yang ringan data atau offline-capable, membuka akses beasiswa atau dukungan bagi siswa kurang mampu, dan menyediakan pelatihan literasi digital. Dampaknya jalan akses makin terbuka namun juga melekat tantangan sumber daya dan keberlanjutan.
Keenam, dari perspektif pembentukan karakter dan pelayanan sosial, sekolah orang miskin sebagai tindakan cinta membawa dampak bahwa siswa tidak hanya dibekali keterampilan teknis, tetapi juga dibentuk menjadi agen perubahan yang peduli terhadap sesama dan ciptaan.
Paus menyatakan bahwa pendidikan Katolik harus mengembangkan “a culture of encounter,” solidaritas sosial dan tanggungjawab ekologis. Dalam era phygital, ini berdampak pada bahwa pembentukan karakter bisa diperkuat lewat kegiatan online dan offline: misalnya proyek digital pelayanan masyarakat, kolaborasi antar sekolah global, program mentoring virtual untuk siswa miskin di wilayah terpinggir.
Dampaknya: siswa miskin merasa diakui, diberdayakan, bukan hanya diterima sebagai objek bantuan.
Dari sudut kesinambungan dan inovasi pedagogis, sekolah orang miskin sebagai tindakan cinta menuntut inovasi dan pembaruan memakai teknologi namun meneguhkan bahwa inti adalah manusia dan cinta.
Paus Leo XIV menulis bahwa sekolah Katolik bukan tempat membentuk “profil keterampilan yang dapat diprediksi” atau “profil algoritma,” melainkan “wajah, kisah, dan panggilan” setiap manusia.
Dalam konteks phygital, implikasinya adalah sekolah harus terus memperbaharui infrastrukturnya (digital + fisik), melatih guru untuk menjadi pendampingi digital-manual, merancang kurikulum hybrid yang responsif terhadap perubahan teknologi dan sosial.
Dampaknya: jika berhasil, sekolah bagi orang miskin bisa menjadi model tindakan cinta yang relevan untuk abad ke-21 tidak hanya menyelamatkan siswa dari keterbatasan sosial, tetapi mengangkat mereka ke partisipasi aktif dalam masyarakat digital dan fisik dengan martabat.
Dengan demikian, gagasan sekolah orang miskin sebagai tindakan cinta menurut Paus Leo XIV dalam era phygital memberikan sejumlah implikasi dan dampak konkret: akses inklusif digital-fisik, relasi yang bermartabat, komunitas inklusif dan jaringan solidaritas digital, metodologi hybrid yang menghidupi whole-person, justisi akses teknologi, karakter-pelayanan yang diperkuat digital, dan inovasi pedagogis yang menegaskan manusia di tengah teknologi.

