Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Sabda dari Mulut Tuan
Sastra

Sabda dari Mulut Tuan

By Redaksi1 November 20256 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Alfan Lamatokan

Ruangan kamar dalam keadaan hening. Buku-buku berserakan di atas meja, ada yang sudah terbuka dan ada yang masih tertutup. Sepertinya terdapat beberapa buku yang baru selesai dibaca dan dibiarkan begitu saja.

Di atas kursi duduk seorang imam tua yang sedang membaca Alkitab mengenakan jubah yang tampak kumal. Alkitab tersebut sudah lama dengan bagian sampul luar sudah terobek.

Kepala tengahnya botak, janggutnya  panjang sampai ke leher dan berkumis. Matanya terus melotot di depan Alkitab itu dengan kacamatanya, tanpa sedikitpun memedulikan nyamuk yang terus berbunyi dan bergerak menghisap darahnya.

Dia terlihat sangat mendalami Sabda Allah yang dia baca. Sabda Allah telah merasuki hati dan pikirannya, bahkan menghisap darahnya. Sabda Allah ini seperti makanannya sehari-hari.

Imam tua itu sudah 55 tahun hidup membiara dalam Serikat Sabda Allah. Dia sudah melalui begitu banyak cobaan dan tantangan dalam mempertahankan imamatnya. Dia tahu sangat sulit mempertahankan imamatnya. Sudah begitu banyak Sabda yang telah dia wartakan.

Semakin tua dirinya semakin banyak hal yang tidak bisa dilakukan dalam pastoralnya. Saat di rumah pastoran, dia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar untuk membaca Alkitab dan buku-bukunya sambil menunggu tamu-tamunya yang datang tidak terduga meminta peneguhan kepadanya.

“Selamat pagi tuan!”, seorang ibu guru  memberi salam sambil mengetuk pintu.. Lalu masuk dan duduk berhadapan dengan pater. Ibu ini selalu merasa kesepian sehingga sering kali mengunjungi Pater. “Ada apa pagi hari begini ke sini? Apakah ada masalah lagi?” kata  Pater.

“Pater saya mau cerita tentang suami saya. Saya punya suami selingkuh lagi Pater. Sudah berulang-ulang saya mendapati dia berbuat seperti ini dan saya tidak bisa bersabar lagi. Saya sakit hati dan saya mau bercerai saja.” Kata ibu itu dengan raut wajah sedih.

Pater tetap memperhatikan ibu itu. Pater terlihat sangat tenang. “Ibu jangan cepat-cepat mengambil keputusan. Kalian berdua sudah menerima sakramen perkawinan suci. Perkawinan Gereja Katolik bersifat satu dan kekal. Semua harus dibicarakan dengan baik-baik.

Komunikasi menjadi hal yang penting di sini. Coba ingat kata-kata Yesus dalam injil Matius 19:6 “demikianlah mereka bukan lagi dua melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan oleh Allah janganlah diceraikan manusia”.

Harus ingat dan simpan dalam hati kalimat Yesus ini ibu. Ibu pulang dan bicarakan baik-baik dengan suami.” Kata pater dengan tenang. Ibu itu lalu kembali ke rumahnya dengan perasaan lega setelah mendapatkan peneguhan dari Pater.

Saat siang hari datang seorang pemuda yang sedang mabuk berdiri di depan kamar Pater. Dari depan pintu kamar dia berteriak “Woi Pater! Buka pintunya! Saya mau bertemu! Sekarang juga cepat!” Pater langsung mengenali suara orang itu karena sering menjadi teman minumnya dan langsung membukakan pintu. Pemuda itu menyerobot masuk dan langsung duduk di atas kursi.

”Tuanku aku haus sabdamu, tolong berikan aku minum cintamu, agar aku dapat tidur dengan kebijaksanaanmu!” Kata pemuda itu dengan kaki kananya diletakan di atas kursi.

“Saudaraku jangan lama-lama berada dalam nafsu alkoholmu. Nikmat tetapi hanya sesaat dan tidak sehat. Ingatla kalimat rasul Paulus kepada jemaat di Efesus 5:18 “dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh”, pulanglah saudaraku penuhilah dirimu dengan Roh dan jangan melampauinya!” Kata pater dengan nada yang tetap tenang. Pemuda itu lalu kembali pulang. Jalannya sempoyongan sambil menyebut kembali ayat yang Pater sampaikan tadi.

Tidak lama setelah pemuda itu pergi datang lagi seorang anggota DPRD. Dia tampan, wajahnya cerah, kelihatannya masih muda, dan sudah berkeluarga. Dia mengetuk pintu dengan sopan. “Selamat sore Pater!.” “Silahkan masuk!” Pater sudah tahu siapa yang datang sehingga langsung dipersilahkan untuk masuk.

“Ada apa saudara? Apakah rakyatmu berulah lagi? Ataukah kamu yang berulah kepada rakyatmu?” Pater berkata dengan mata melotot. “Tuan saya mau mengaku dosa saya. Saya baru saja melakukan korupsi dalam jumlah besar. Saya selalu dihantui ketakutan.” Kata bapak anggota DPRD itu dengan wajah gelisah. Pater menatap tajam ke arahnya. Dia terlihat gugup.

“Syukur jika engkau sadar dan mau mengakui kesalahanmu di hadapan Tuhan. Engkau harus ingat tindakanmu telah membuat orang yang lain susah. Engkau juga harus ingat kalimat dalam Amos 5:12 “mereka yang memeras dan menerima suap menghancurkan orang benar dan mengsampingkan orang miskin.”

Ingat dan simpan dalam hati kalimat ini saudaraku!” Pater lalu beridiri dan mengambil stolanya untuk memberikan sakramen pengakuan kepadanya. Setelah mengaku Pater berkata “Saudaraku pulanglah. Jangan lagi engkau jatuh dalam lubang dosa yang sama. Jadikan kata -kata dalam kitab nabi Yesaya 33:15 ini sebagai pedomanmu sebagai wakil rakyat “orang yang tinggal dalam keamanan kemakmuran, yaitu orang yang hidup dalam kebenaran, berbicara jujur, menolak keuntungan dari penipuan dan suap, serta menolak mendengarkan atau melihat kejahatan.” Bapak itu lalu pergi, terlihat senyum kelegaan terukir di wajahnya.

Setelah bapak itu pergi Pater masih duduk sambil membaca Alkitabnya. Saat sedang asyik membaca terdengar suara seorang wanita. Wanita itu seorang janda yang sering juga mengunjungi Pater. “Selamat sore Paterku” Kata wanita dengan nada merayu. Pater menatap janda itu datar, lalu mempersilahkan dia masuk. Wanita itu langsung duduk berhadapan dengan Pater. Mereka sangat dekat dan rapat.

“Tuan aku ini janda malang, sehari harian dirundung sepi lalu bergaul dengan duka. Aku dijauhi saat ramai. Katanya aku hama keluarga, aku suka mencumbu suami orang. Bahkan lebih kasar lagi mereka katakan aku ini wanita malam penuh kelam. Aku tahu kesepian telah mendarah daging sejak ditinggal oleh kekasihku. Aku ingin merasakan sepi ini bersamamu tuan jika ada kesempatan bagiku!”

Perempuan itu menatap genit ke arah pater. Pater tetap tenang. Dia menatap wanita itu dengan teduh dan penuh dengan kekuatan. “Cantik bisa mengandung luka, melahirkan duka lalu merawat sepi. Sepi dan sendiri sesuatu yang patut disyukuri. Saudari  memang sendiri tetapi di dalam hati ada ilahi. Ingatlah Tuhan memberikan keadilan kepada dirimu. Dia mengasihi dirimu dan memberikan kegembiraan menggantikan kesepianmu. Pulanglah saudariku, rayakanlah sepimu, pasti bahagia akan menghampirimu.”

Hidupilah Sabda Allah ini “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kasih harus membuat saudari memafkan sesama yang menjauhimu dan mendekatkan diri dengan Tuhan yang selalu ada dalam sepimu!” Pater kembali menatap ibu itu dengan tenang. Ibu itu menangis, memeluk Pater erat, dan menyeka air matanya lalu keluar meninggalkan ruangan itu.

Pater masih terus membaca Alkitab sambil menunggu mungkin ada lagi tamu yang datang. Mungkin adalagi orang yang mau mendengarkan Sabda Allah dari mulutnya.

Semakin lama, hari semakin malam tanpa ada yang datang. Pater menutup Alkitabnya melepaskan kacamatanya. Dia mengambil secarik kertas dan menulis. Hari ini sabda itu ada dan aku telah membuatnya berakar, menanamnya di telinga mereka.

Besok, lusa, atau mungkin selamanya sabda itu harus tetap menggema di telinga mereka, agar mereka paham makna sesungguhnya dari kehidupan.

Alfan Lamatokan
Previous ArticlePT Panorama Alam Flores dan Unika St. Paulus Ruteng Jalin Kerja Sama Kembangkan Jiwa Entrepreneur Mahasiswa
Next Article Aldiano, Putra Boncu Kode

Related Posts

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026

Pilu yang Tidak Pernah Sembuh

3 Februari 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.