Oleh: Laurensius G.S. Hayon
Di Ujung Mentari
Aku termenung di ujung mentari
Menatap langit yang perlahan mulai sepi
Saat aksara dan rasaku yang tak saling bersatu
Aku masih di sini
Menyanyikan rindu yang masih basah
Merajut kenangan dari angin malam bersama dengan kegelapan malam Dia muncul dalam diam
Menguasai ruang hatiku
Kehampaan memeluk erat diriku
Kekecewaan datang merangkul diri ku
Dan berkata
Wanita itu tak baik untukmu,
jika ibaratkan ia seperti pelangi yang datang tiba-tiba dan pergi tanpa aba
Namun,jika kau tak ingin pergi dan lupakannya
Aku sang kekecewaan akan menemanimu senantiasa
Tambolaka, 13 Mei 2025
Darah Dinding dan Huruf
Aku seorang remaja dari ujung timur yang bersembahyang di kubu yang penuh bercak-bercak dosa
Aku bukan hidup dari padi namun dari Sandara kavita dengan darah yang masih lugu
Aku ditemani dengan secangkir malam yang kalem cerutu seolah tak mau kalah Ia juga merapal asap-asap kebohongan dan kemunafikan
Ratri vayu yang masyuk itu membuat mabuk 7 keliling
Aku si bhranta, terjerat rayuan sabda buta
Tambolaka, 06 Oktober 2025
Penulis adalah siswa kelas XII MIPA SMA Katolik St. Josef Freindemetz, Tambolaka, Sumba Barat Daya. Ia pernah juara nasional penulis puisi yang diselenggarakan oleh Tavisha Medina CEO Anterin Literasi Nasional

