Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»Kasus Stunting di Manggarai Kembali Naik, Dinkes Akan Evaluasi Pola Penanganan
KESEHATAN

Kasus Stunting di Manggarai Kembali Naik, Dinkes Akan Evaluasi Pola Penanganan

By Redaksi4 November 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, Jefrin Haryanto saat diwawancarai awak media di ruangan kerjanya (Foto: Berto Davids/VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, VoxNTT.com – Kasus stunting di Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menunjukkan angka yang memprihatinkan sepanjang tahun 2025.

Meski sempat menurun di awal tahun, angka stunting sebelum bulan Agustus kembali naik ke angka 9 persen dan meningkat lagi menjadi 13 persen pada Oktober 2025.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, Jefrin Haryanto mengatakan, pihaknya sedang mengkaji faktor utama dan pola penanganan yang paling efektif terhadap stunting di wilayah tersebut.

Menurutnya, kasus stunting di Manggarai perlu dikaji secara mendalam agar karakteristiknya bisa dipahami dan menghasilkan solusi yang tepat.

“Saya masih melihat stunting ini faktor apa sebenarnya, apakah ada hubungannya dengan faktor ekonomi atau sosial, karena itu harus dikaji mendalam supaya pola penanganannya kita dapat,” kata Jefrin pada Selasa, 4 November 2025.

Ia menyebutkan, Kecamatan Ruteng masih mencatat angka stunting tertinggi, disusul Rahong Utara dan Wae Ri’i.

“Kondisi terakhir Kecamatan Ruteng masih tertinggi, diikuti Rahong Utara dan Wae Ri’i. Tiga Kecamatan ini juara bertahan stunting. Karena itu kita mau supaya sasaran ini mendapat pola penanganan yang pas,” tambahnya.

Jefrin juga menyoroti pola penanganan stunting selama ini yang dinilai belum efektif.

Ia menilai, pendekatan yang dilakukan masih bersifat monoton dan tidak menimbulkan perubahan signifikan.

“Selama ini obat yang sering kita pakai kan cuman telur dan susu, begitu ada stunting kasih telur dan susu, muncul lagi kemudian hari kasih lagi telur dan susu, padahal semestinya tidak harus begitu terus,” ungkapnya.

Karena itu, lanjut Jefrin, pemerintah daerah akan lebih dulu memahami akar persoalan stunting agar intervensi yang dilakukan tidak sia-sia.

“Kita harus tahu dulu soalnya ada di mana. Jangan sampai penyebabnya lain, intervensinya lain,” ujarnya.

Selain faktor ekonomi dan sosial, Jefrin juga menyoroti pola asuh dan cara menyusui yang belum optimal.

Ia menilai air susu ibu (ASI) memiliki peran vital dalam pencegahan stunting karena mampu memenuhi kebutuhan nutrisi, meningkatkan kekebalan tubuh, serta mendukung pertumbuhan anak secara optimal.

Namun, masih banyak ibu yang belum memahami pentingnya pemberian ASI eksklusif dan cara menyusui yang benar.

“Contohnya makanan pendamping ASI, itu kan rasa dan aromanya berbeda mengalahkan ASI, sehingga kebanyakan anak kalau sudah ketagihan konsumsi itu sangat susah jika kembali ke ASI lagi, padahal makanan itu tidak ada proteinnya. Nah itu yang kita mau luruskan, sebenarnya ASI itu sangat penting,” tutur Jefrin.

Ia menambahkan, konseling bagi ibu hamil dan menyusui perlu lebih digalakkan agar upaya pencegahan stunting bisa dimulai sejak masa kehamilan.

Sebagaimana diketahui, masalah stunting masih menjadi tantangan besar bagi pembangunan sumber daya manusia di Indonesia.

Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, prevalensi stunting nasional mencapai 21,6 persen. Pemerintah menargetkan penurunan angka tersebut menjadi 14 persen pada 2024, yang berarti dibutuhkan penurunan sekitar 3,8 persen setiap tahunnya.

Penulis: Berto Davids

Dinas Kesehatan Manggarai Jefrin Haryanto Manggarai Stunting Stunting Manggarai
Previous ArticlePegawai BPN Nagekeo Alami Kekerasan Verbal, Pelaku Diduga Tuntut Ganti Rugi Proyek Waduk Lambo
Next Article Politisi Demokrat Soroti Rendahnya Retribusi Sampah di Manggarai, Potensi Rp1,5 Miliar Bisa Hilang Tiap Tahun

Related Posts

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Rumah Warga di Cibal Barat Ambruk Diterpa Hujan dan Angin Kencang

5 Maret 2026

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026
Terkini

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Jaringan Masyarakat Sipil Audiensi dengan Komisi V DPRD NTT Bahas Kasus Perdagangan Orang

5 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.