Oleh: Albertus Cangkung
Guru Sejarah di SMAN 3 Cibal
Di lembah masa yang tersimpan rapi,
kita pernah menulis janji di antara bintang.
Kala itu, malam terasa begitu muda,
dan waktu seolah tak pernah tergesa.
Kau menggenggam tanganku,
mengatakan cinta yang tumbuh dari doa,
bukan dari kebetulan semata.
Namun semesta diam menarik garis takdir,
menyisakan jarak yang tak bisa kita lawan.
Cinta itu dulu seperti gelombang laut,
menghempas keras ke pantai harapan,
mengukir buih di setiap mimpi yang kita bangun.
Tapi angin berubah, arah pun berbeda,
membawa kita ke pelabuhan sendiri-sendiri.
Aku melihatmu dari jauh,
menyusun langkah di jalan yang baru,
sedang aku belajar merelakan,
bahwa mencintai kadang berarti melepaskan.
Waktu berlalu seperti sungai yang tak berhenti,
membawa serpihan kenangan di arusnya.
Ada tawa di antara air mata,
ada doa yang tetap kupanjatkan tanpa suara.
Kita bukan lagi “kita”,
tapi bukan berarti aku menyesal pernah menjadi bagianmu.
Karena di hatiku, cinta itu masih hidup
bukan untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang.
Kini, kita menari di kisah yang baru,
membangun bahagia dengan warna berbeda.
Kau mungkin telah menemukan rumah
di hati yang bukan milikku,
dan aku pun belajar bersyukur,
bahwa cinta sejati tak harus berakhir dengan kepemilikan.
Ia cukup hadir, memberi arti,
lalu pergi tanpa menghapus makna.
Dalam setiap senja yang membisu,
kadang wajahmu datang seperti bayangan,
mengingatkanku pada janji yang pernah kita tulis
di antara debur waktu dan cahaya bintang.
Aku tersenyum bukan karena masih luka,
tapi karena aku tahu,
cinta yang pernah ada, tetaplah suci,
meski tak lagi bertaut dalam genggam.
Takdir memutus tali, tapi tak menghapus rasa.
Karena cinta sejati tak selalu jadi “kita”.
Dia menjadi cerita indah yang berharga,
mengajari hati bahwa kehilangan pun bisa damai.
Dalam diam, kita bahagia meski tak bersama.
Dan di antara jeda waktu yang sunyi,
aku masih percaya:
ada cinta yang tak lagi dimiliki,
namun tetap abadi dalam doa yang tak pernah berhenti.

