Oleh: Yosti Ritan
Malam
aku titipkan sepasang mimpi
ambil pekatnya jadikan mawar
aku selipkan sepasang mimpi
ambil rasanya jadikan sepi
aku titipkan sepasang doa
ambil syukurnya jadikan sujud
“TUHAN, milik-Mulah malam ini”
Jejak
di lorong-lorong sepi
ada sisa-sisa jejak abadi
ada yang merangkak
ada yang tertatih
ada yang berjalan
ada yang berlari
sambil menitip kenangan
untuk kembali pada suatu masa
di mana tak ada lagi yang mengejar
Ayah
Kilau mentari pagi menyusuri sela-sela selimutku
Mengundang harapan untuk bangun dari mimpi
Aku bangun melihat ayah sedang menerka musim
Matanya sudah cukup tua dimakan waktu
Namun ia mampu menerka musim pada sisa embun
Aku harap tidak juga dengan nasibku
Rumah
Hiruk pikuk rumah ayah dan ibu tak lagi terdengar
Kemarin kakakku pergi membawa serta harapan ibu
Adikku juga baru pergi membawa harapan ayah
Sedangkan aku masih betah sekali di rumah
Kata tetangga “kapan pergi?”
“nanti” aku belum mampu membawa harapanku sendirian
Ujud
Seteguk anggur manis kuteguk dalam doa
Serangkai kata kuresap dalam hati
Sambil mengeja ujud dalam doa
Mengemis Tuhan hadirkan yang tiada
Keburuh waktu menjadikan fana

