Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Oasis di Savana Iman Sumba
Sastra

Oasis di Savana Iman Sumba

By Redaksi4 November 20252 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Laurensius G.S. Hayon
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Laurensius G.S. Hayon

Untuk 40 tahun karya SVD di Sumba Periode Kedua. Aku berdiri di bibir waktu,
memandang langit Sumba yang masih lugu,
di bawah debu dan riuh ombak yang sendu.

Sembilan tahun berlalu, seribu benih iman ditabur, namun dua puluh dua tahun sunyi membeku, tanpa cahaya, tanpa santapan jiwa,
Natal dan Paskah tak pernah ada, hanya tanya yang menggantung di udara.

Dengar, kukisahkan dua periode,
bukan tentang kekuasaan manusia,
tapi tentang Societies Verbi Divini.

Di tahun 1921, Pater J. Van Cleef, SVD, menapaki tanah marapu, membuka gerbang, mengayunkan langkah suci, tiga kali ia kembali dalam tujuh tahun, seperti gembala yang tak lelah mengunjungi dombanya.

Hingga 1929, kabar baik itu tiba:
“Imam Katolik boleh menetap di Sumba.”
Pusat misi bergeser ke Weetabula,
di tanah netral, tempat perjuangan berdarah, dari sana, sekolah pertama bangkit, kayu dan ilalang menjadi saksi, sembilan puluh murid, cikal bakal harapan.

Dua puluh delapan tahun setelah Natal terakhir, Natal kembali dirayakan, membawa kelahiran baru di hati yang layu.

Tangan-tangan membangun paroki semi permanen, mencangkul ladang, mengolah bengkel, Weetabula pun menjadi denyut nadi,
pusat dagang yang baru.

Namun, badai tiba, sang penjajah berkuasa,
1942, periode pertama tamat.

Di tengah badai, para imam ditawan,
gereja dijarah, sepi merayap dalam dada.
Tetapi iman tak pernah mati, api suci itu dijaga oleh kaum awam, sampai tahun 1957, ketika mereka menyerahkan, Misi Sumba kepada CsSR.

Misionaris SVD pergi meninggalkan jejak basah.

Tiga puluh delapan tahun berlalu,
hingga 26 Mei 1985, SVD kembali.
Misionaris SVD datang dengan hati yang tulus dan jujur, langkah-langkah mereka menari di tanah berdebu, satu tangan memegang salib, tangan lain memegang cangkul.

Tak hanya membaptis jiwa, tapi juga membangun sekolah, mendirikan gereja, dan mencerdaskan generasi Sumba, demi masa depan yang nyata.

Kini, empat puluh tahun telah berlalu,
belasan misionaris terus berkarya,
menjadi oase di padang savana iman yang kering, bukti bahwa pengabdian tak lekang oleh zaman.

Gokat, 02 September 2025

Penulis adalah siswa kelas XII MIPA SMA Katolik St. Josef Freindemetz, Tambolaka, Sumba Barat Daya. Ia pernah juara nasional penulis puisi yang diselenggarakan oleh Tavisha Medina CEO Anterin Literasi Nasional

Laurensius G.S. Hayon
Previous ArticleMalam: Antologi Puisi Yosti Ritan
Next Article Di Ujung Mentari

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.