Mbay, VoxNTT.com – Wunibaldus Wedo kembali berulah. Pria asal Rendu, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo, itu terpaksa diusir dari Aula Pondok SVD Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo oleh anggota TNI.
Ia diusir karena aksinya yang tiba-tiba masuk dan mendekati Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Nagekeo saat proses pembayaran ganti rugi tanah terdampak Waduk Lambo berlangsung, Rabu, 5 November 2025 siang.
Dua anggota TNI berseragam lengkap, masing-masing bernama Albert dan Rudi, bersama beberapa anggota Polri berpakaian sipil, langsung mengamankan situasi guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Isiden ini terjadi di sela-sela kegiatan pencairan uang ganti rugi tanah terdampak Waduk Lambo. Suasana yang awalnya tenang berubah ricuh setelah Wunibaldus bersama kelompoknya masuk ke aula dan memaksa bertemu dengan Kepala BPN Nagekeo, Mochamad Sauki.
Aksi spontan Wunibaldus yang “nyelonong” ke dalam ruangan membuat proses pembayaran sempat terhenti.
Anggota TNI, Albert dan Rudi, segera membatasi gerak Wunibaldus yang berupaya mendekati Kepala BPN yang sedang duduk di meja sisi selatan aula bersama sejumlah pegawai lainnya.
Albert kemudian menghadang Wunibaldus dan menanyakan kapasitasnya dalam acara tersebut, sebab kegiatan itu hanya dihadiri oleh pihak yang mendapat undangan resmi dari BPN.
“Kalau Bapak tidak ada undangan, tolong keluar dulu. Kegiatan ini hanya untuk mereka yang memiliki surat undangan,” ujar Albert kepada Wunibaldus.
Namun Wunibaldus bersikukuh ingin bertemu dengan Kepala BPN untuk menanyakan alasan dirinya tidak diundang bersama penerima ganti rugi lainnya.
“Saya hanya ingin berkoordinasi dengan beliau (Kepala BPN Nagekeo) untuk tahu alasan kami tidak diundang,” kata Wunibaldus.
Dalam aksinya, Wunibaldus sempat menunjukkan layar ponselnya kepada Kepala BPN. Saat itu, ia sedang melakukan panggilan video dengan seseorang yang kemudian diketahui bernama Johanes Gore Jemu alias Hans Gore, seorang advokat.
Meski demikian, Kepala BPN tetap tenang dan tidak merespons permintaan Wunibaldus agar berbicara langsung dengan Hans Gore. Akhirnya, Hans hanya dapat berbicara dengan Albert, anggota TNI yang sedang bertugas menjaga keamanan di lokasi.
Kepada Albert, Hans mengaku bahwa aksi tersebut sengaja dilakukan karena Kepala BPN Nagekeo selama ini dianggap menghindar dari kelompok Wunibaldus.
“Selama ini dia (Kepala BPN Nagekeo) selalu menghindar dari kami, Om Albert. Makanya kami sengaja datang untuk bertemu. Dia kabur terus, tidak pernah ada di kantor,” ujar Hans melalui panggilan video.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala BPN Nagekeo, Mochamad Sauki menegaskan, ia sama sekali tidak bermaksud menghindari Wunibaldus dan kelompoknya.
Ia menjelaskan, kegiatan di Pondok SVD hari itu memang khusus untuk proses pembayaran ganti rugi tanah terdampak Waduk Lambo.
“Kegiatan ini fokus pada pembayaran ganti rugi. Jadi tidak ada maksud untuk tidak melayani pihak lain,” ujarnya singkat.
Meskipun sempat diwarnai ketegangan, situasi akhirnya dapat dikendalikan setelah Wunibaldus Wedo dan para pendukungnya diminta meninggalkan lokasi oleh aparat TNI dan Polri.
Penulis: Patrianus Meo Djawa

