Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Guru Bukan Lumbung Kesalahan
Gagasan

Guru Bukan Lumbung Kesalahan

By Redaksi25 November 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi Guru
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Fransiskus Venansi

Ketua BEM Stipas St. Sirilus Ruteng

Opini ini lahir dari situasi dunia Pendidikan di Indonesia yang semakin hari semakin memojokan guru dan memposisikan guru sebagai sumber segala masalah ketertinggalan kualitas Pendidikan Indonesia di mata dunia.

Judgement terhadap guru ini juga tidak pernah direfleksikan sejauh mana Negara memperhatikan kesejahteraan guru di Indonesia!

Dalam dunia pendidikan, guru sering dipandang sebagai tokoh sentral yang bertanggung jawab atas keberhasilan maupun kegagalan proses pembelajaran.

Namun, fenomena yang kerap muncul adalah kecenderungan menyalahkan guru ketika terjadi masalah, baik menyangkut akademik, kedisiplinan siswa, maupun dinamika kelas.

Opini ini ingin menegaskan bahwa guru bukan lumbung kesalahan, karena pendidikan adalah tanggung jawab bersama, bukan beban individu.

Ketika siswa tidak mencapai nilai yang memuaskan, sebagian orang tua langsung mencurigai metode mengajar guru. Jika ada konflik antarsiswa, guru kembali dianggap lalai mengawasi.

Bahkan ketika kebijakan sekolah tidak sejalan dengan harapan masyarakat, yang sering menjadi sasaran kritik adalah guru, padahal ia tidak selalu terlibat dalam proses pengambilan keputusan.

Pola pikir seperti ini tidak hanya tidak adil, tetapi juga merusak semangat pendidik dalam menjalankan tugasnya.

Guru adalah manusia yang bekerja dalam batas kemampuan—bukan mesin serba bisa. Mereka menghadapi ragam karakter peserta didik, latar belakang keluarga yang berbeda, serta keterbatasan sarana dan aturan sekolah.

Dengan kompleksitas seperti ini, menempatkan guru sebagai pihak yang paling bersalah dalam setiap situasi adalah bentuk simplifikasi yang keliru terhadap persoalan pendidikan.

Pendidikan yang baik seharusnya dibangun melalui kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Jika siswa menunjukkan perilaku negatif, guru memang bertanggung jawab mendidik, tetapi orang tua juga memiliki tanggung jawab besar dalam pembentukan karakter di rumah.

Menyalahkan guru sepenuhnya sama saja mengabaikan peran keluarga yang sangat menentukan perkembangan seorang anak.

Guru bukan lumbung kesalahan karena mereka bekerja dalam kondisi yang sering kali penuh tekanan. Tuntutan kurikulum, beban administratif, dinamika kelas, dan ekspektasi masyarakat yang tinggi membuat profesi ini semakin menantang.

Alih-alih mendapatkan dukungan, guru justru sering menjadi target salah paham ketika hasil belajar siswa tidak sesuai harapan.

Selain itu, guru tidak selalu memiliki kontrol terhadap semua faktor yang memengaruhi keberhasilan pembelajaran.

Kondisi psikologis siswa, akses belajar di rumah, lingkungan pergaulan, serta perkembangan teknologi—semua ini berpengaruh kuat terhadap proses belajar.

Menganggap guru sebagai satu-satunya penentu keberhasilan membuat persoalan pendidikan terlihat seolah-olah sederhana padahal kenyataannya sangat kompleks.

Perlu pula diingat bahwa guru sudah menjalankan tugas profesionalnya dengan usaha terbaik meski tidak selalu terlihat. Mereka merancang pembelajaran, memeriksa tugas, menyiapkan media, mendampingi siswa bermasalah, hingga menyusun laporan yang melelahkan.

Mengabaikan semua kerja ini hanya karena satu kegagalan kecil adalah tindakan yang tidak proporsional.

Menghentikan budaya menyalahkan guru tidak berarti menghapus evaluasi terhadap kinerja mereka. Kritik tetap perlu, tetapi harus bersifat membangun dan berimbang.

Guru berhak mendapatkan bimbingan, pelatihan, dan dukungan, bukan tudingan sepihak yang menjatuhkan. Pendidikan akan berkembang lebih baik bila evaluasi dilakukan secara adil dan dialogis.

Guru sejatinya adalah mitra dalam mendidik. Ketika masyarakat memahami peran guru secara realistis dan memberi ruang bagi mereka untuk berkembang, maka ekosistem pendidikan menjadi lebih sehat.

Guru bukan objek untuk dipersalahkan, melainkan subjek yang perlu dihargai kontribusinya sebagai pembentuk masa depan generasi muda.

Pada akhirnya, mengakui bahwa guru bukan lumbung kesalahan berarti menerima kenyataan bahwa pendidikan adalah usaha bersama. Ketika ada masalah, solusi harus dicari melalui kerja sama dan komunikasi, bukan lewat tuduhan.

Guru, dengan segala dedikasi dan perjuangannya, pantas mendapatkan penghargaan, dukungan, serta kepercayaan agar mereka dapat terus menjalankan peran mulianya sebagai pendidik umat manusia.

Fransiskus Venansi
Previous ArticleGuru: Menabur Benih di Ladang Suci
Next Article Menjadi Guru yang Dirindukan Murid

Related Posts

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.