Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Boka Ngere Ki, Bere Ngere Ae: Falsafah Kehidupan Masyarakat Ende Lio
Gagasan

Boka Ngere Ki, Bere Ngere Ae: Falsafah Kehidupan Masyarakat Ende Lio

By Redaksi27 November 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Oland Leba
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Oland Leba

Guru di SMAK St. Josef Freinademetz

Setiap masyarakat dalam suatu kebudayaan selalu memiliki filosofi-filosofi kehidupan yang berguna untuk mempersatukan, mempererat dan mempertahankan persatuan dalam kebudayaannya.

Filosofi tersebut biasanya diwakili dalam kata-kata adat dan simbol-simbol kebudayaan yang sudah disepakati secara bersama oleh anggota kebudayaan secara turun-temurun.

Berkaitan dengan hal ini, masyarakat dalam kebudayaan Ende Lio memiliki banyak filsofi-filosofi menarik, salah satu di antaranya adalah filosofi tentang persatuan dalam mencapai sebuah tujuan, filosofi itu berbunyi: Boka Ngere Ki, Bere Ngere Ae.

Secara etimologis semua kata dalam kalimat “Boka Ngere Ki, Bere Ngere Ae” berasal dari bahasa Lio.

Kata Boka berarti tumbang atau jatuh, kata Ngere berarti seperti, kata Ki berarti alang-alang, kata Bere, berarti mengalir, dan kata Ae berarti air, secara sederhana kalimat tersebut dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yakni, Tumbanglah seperti rumpunan alang-alang dan mengalirlah seperti air.

Makna Boka Ngere Ki, Bere Ngere Ae

Kalimat Boka Ngere Ki yang berarti tumbanglah seperti rumpunan ilalang, memiliki makna tentang pentingnya persatuan dan persaudaraan, baik dalam situasi suka maupun duka.

Tumbanglah seperti alang-alang mengajak semua orang Lio untuk tidak boleh membiarkan sesamanya mengalami kesendirian dalam kesedihan.

Semua orang harus berpartisipasi dalam kedukaan dan bersama-sama untuk mencapai kebahagiaan serta selalu ada kesepakatan bersama dalam mengambil keputusan (menjunjung tinggi nilai keadilan).

Seperti rumpunan alang-alang yang selalu tumbang secara bersama jika diterpa angin, maka begitu juga dengan manusia agar tidak membiarkan sama saudaranya memikul kemalangan itu sendiri, melainkan agar tetap bersama.

Kalimat Bere Ngere Ae yang berarti mengalirlah seperti air memiliki makna persatuan dan menghilangkan semua perbedaan. Seperti air yang mengalir menuju lautan yang sama, begitupula manusia walaupun berbeda dan unik tetapi semuanya memiliki satu tujuan dan cita-cita yang sama.

Tumbanglah seperti rumpunan alang-alang dan mengalirlah seperti air, pada intinya memiliki makna utama yakni, tentang pentingnya persatuan dalam hidup bersama, hidup berkomunitas, saling menghargai setiap perbedaan dan terus menciptakan keadilan.

Simbol kebersamaan dan kekuatan hidup bersama dalam kebudayaan Ende Lio dapat juga diperhatikan dalam tarian gawi, yang mana semua orang harus memegang erat sama saudaranya dan mulai menari (simbol kebersamaan).

Tanggapan Penulis

Corak dan filosofi dalam kebudayaan Ende Lio di atas merupakan kharakter dari filsafat timur, yakni lebih mengarah pada relasi antara sesama manusia dan pentingnya nilai-nilai hidup bersama dalam suatu komunitas.

Ajaran tentang pentinganya relasi antara sesama manusia dapat ditemukan dalam pemikiran-pemikiran Konfusius (552- 479).

Dalam relasi antarmanusia konfusius menekankan keadilan (jen), yang berarti memperoleh dan menikmati apa yang menjadi haknya.

Dengan kata lain jen adalah relasi antar-sesama manusia berdasarkan pengakuan akan kesamaan hak dan martabat sebagai manusia.

Keadilan merupakan salah satu wujud dan cita-cita dari hidup bersama, jika tanpa ada keadilan, maka tidak ada persatuan, dalam hal ini dalam filosofi di atas jika tidak ada keadilan, maka Boka Ngere Ki dan, Bere Ngere Ee, juga tidak akan tercapai.

Apabila keadilan itu tidak ada dalam kehidupan masyarakat berbudaya, martabat manusia dan hak-haknya akan dilecehkan serta timbulah budaya yang penuh dengan permasalahan dan jauh dari perdamaian dan kesejahteraan.

Dalam filosofi di atas, variabel yang digunakan berasal dari alam, Ki (alang-alang) dan Ee (air).

Penggunaan istilah ini menyiratkan suatu kedekatan antara masyarakat Ende Lio dengan alam, sehingga patut disetujui jika selain menekankan pentingya relasi antarmanusia, masyarakat Ende Lio juga dekat dan mencintai alam.

Filosofi kehidupan dalam kebudayaan Ende Lio ini, persis seperti komunisme China, yang mana tujuan komunisme China adalah menata suatu relasi yang baik antara sesama manusia dan antara manusia dengan alam.

Oland Leba SMAK St. Josef Freinademetz
Previous ArticleSPBU Langkas–Cancar Terbakar Usai Disambar Petir
Next Article Diduga Terlibat Penipuan, Perwakilan BNI Life Datangi Korban di Ruteng Tanpa Hasil Jelas

Related Posts

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.