Oleh: Laurensius G.S. Hayon
Siswa SMA Katolik St. Josef Freinademetz Tambolaka, Sumba Barat Daya
Hari demi hari berlalu, musim berganti, dan perlahan, kesepian yang selama ini memelukku mulai berganti kulit. Tak terduga, sebuah plot twist dalam hidupku terjadi.
Momen itu adalah Temu Raya Taruna di Puspas, Katikuloku, Sumba Tengah. Semua taruna Keuskupan Weetabula berkumpul. Di sana, selama tiga hari, kami mengalami pendewasaan iman.
Namun, ada satu momen yang jauh lebih menggetarkan: aku sempat dekat dan berbincang dengan dua gadis, sebut saja Maria dan Tin. Mereka berdua selalu menjadi teman yang hangat untuk berbagi cerita.
Suatu waktu, saat makan siang, kejadian tak terduga itu terjadi. Aku tengah duduk santai di bawah rindangnya pohon alpukat, menikmati ketenangan.
Tiba-tiba, Maria datang dan duduk tepat di sampingku. Kami berbincang, tertawa membahas lelucon ringan, masa depan, dan banyak hal lainnya.
Itu adalah momen paling kuingat: kami hanya duduk berdua, berbagi bekal, dan bercerita.
Maria kemudian menatapku dengan mata berbinar. “Kakak,” katanya lembut, “bisakah engkau memberikan semua nama media sosialmu? Entah itu Facebook, Instagram, atau bahkan nomor WhatsApp-mu.”
Dalam hati, aku berbisik, Jangan-jangan ia sedang menaruh rasa padaku.
Selesai ia mengungkapkan permintaannya, aku memberanikan diri. Aku balas bertanya, dengan nada menggoda, “Bagaimana dengan hatiku? Ingin juga engkau memintanya?”
Ia terdiam, memasang wajah sedikit cemberut. Aku sadar, situasinya sepertinya tidak memungkinkan untuk bercanda lebih jauh. Dengan tawa kecil, aku cepat-cepat meralat, “Hahaha, aku cuma bercanda!” Ia pun tersenyum, dan kami melanjutkan makan bersama. Tentu saja, beberapa orang usil yang mengenal kami sesekali mengganggu, menambah riuh suasana.
Setelah makan siang, kami bersiap untuk Sayonara, berpisah setelah hari-hari yang kami lalui bersama dalam iman. Aku mencarinya ke sana kemari karena aku belum menepati janjiku memberikan nama media sosialku. Aku menemukannya di tengah keramaian. Aku menghampirinya.
“Maria, ini nama IG-ku,” kataku sambil menyodorkan secarik kertas. Aku hanya membawa kertas, tanpa pulpen.
Ia tersenyum. Dengan berani, aku berkata, “Ambil saja di tas kecilku.”
Setelah ia selesai menulis, ia mengembalikan pulpen itu padaku. Namun, Aku menolaknya. “Ambil saja. Anggap saja itu kenangan terakhir untuk kita berdua.”
Maria tampak sedikit tersipu, atau mungkin malu karena seorang pria memberinya pulpen, bukan sesuatu yang romantis seperti gelang, kalung, atau seikat bunga. Dalam perjalanan pulang, wajah Maria terus terbayang. Aku bertanya pada diriku, Benarkah ia menyimpan rasa untukku, ataukah ini hanya cerita singkat seperti bersama Ina dulu?
Waktu terus berjalan. Akhirnya, aku menemukan nama Instagramnya dan mengirimkan pesan. “Selamat pagi, Adik.”
Dia membalas, “Pagi juga, Kakak.”
Dari situ, aku menjalankan siasat yang mulus—sebut saja, siasat penaklukan hati. Siasat itu berjalan begitu lembut, mungkin semulus pasir putih di pantai, sangat modus namun indah. Setelah kurang lebih satu hingga dua bulan, aku memberanikan diri mengungkapkan perasaan itu.
Aku ingat betul, 13 September 2025. Kami sedang melakukan kemah, dan malam itu adalah malam api unggun. Aku memanfaatkan, atau lebih tepatnya, kesempatan dalam kesempitan. Aku meminta Maria meluangkan waktu sekitar lima menit agar aku dapat menelepon dan mengungkapkan isi hatiku.
Awalnya, rencanaku nyaris gagal karena ponselnya harus digunakan ibunya, yang kebetulan seorang guru, untuk membuat video PPG. Di situ, aku merasa semua rencana yang telah tersusun rapi akan musnah. Namun, setelah kami makan malam, ia kembali meneleponku.
“Kira-kira, apa yang ingin Kakak bicarakan?” tanyanya.
Dengan suara sedikit bergetar, aku mengungkapkan isi hatiku. “Aku mencintaimu, menyayangimu, menyukai, dan mengakui dirimu. Aku hanya ingin mengungkapkan isi hatiku. Tak peduli setelah ini kau ingin menganggap aku musuh atau teman.”
Setelah berkata demikian, ia justru membalas perasaanku. “Sebenarnya, sudah lama aku menahan perasaan suka ini kepada Kakak, semenjak kita bertemu di Temu Raya.”
Jantungku berdebar kencang. Aku berpikir, Entah, aku diterima menjadi kekasihnya!
Namun, ia melanjutkan, “Aku bingung, bagaimana cara kita berkomunikasi ke depannya? Kita terhalang masalah jarak. Aku di Sumba Tengah dan kau di Sumba Barat Daya.”
Aku menjawab keraguan Maria. “Begini saja, kita buat komitmen. Kita hanya boleh memberi kabar setiap satu hari sekali, di jam 7.00 sampai 7.50 malam.” Aku juga memberitahunya, “Ketika ada masalah, ceritakanlah padaku.”
Aku tak melarang Maria untuk dekat dengan laki-laki lain, aku tak membatasi dirinya hanya boleh berkomunikasi denganku. Namun, ia berkata dengan tegas, “Di hatiku tak ada yang lain selain Kakak.”
Kami menghabiskan malam minggu itu dengan cerita panjang. Namun, tiba-tiba kami mengalami masalah, kami tak saling mendengar suara satu sama lain. Aku coba menutup telepon dan kembali menelepon, tetapi masalah itu tetap terulang.
“Ya sudah,” kataku pada Maria, “Aku sudah sangat lelah dan ingin tidur. Esok pagi adalah hari terakhir kami untuk kemah, jadi pasti akan banyak kegiatan. I love you, Maria.”
“I love you too,” jawabnya.
Setelah momen panjang itu, kami melewati hari-hari yang penuh drama, tragedi, dan komedi. Sampai suatu hari, aku melihat cerita Instagramnya: sebuah foto seorang lelaki.
Jujur saja, aku cemburu. Aku sebagai kekasihnya berulang kali menandainya dalam Stories IG-ku, namun ia tak pernah memposting ulang fotoku. Sementara lelaki ini begitu mudah masuk dalam cerita Instagramnya.
Banyak pertanyaan negatif berkelebat di kepalaku. Aku mulai berpikir, Apakah ia mencintai aku?
Aku mencoba bertanya pada teman-teman perempuanku. Mereka menjawab, “Menurut kami, sepertinya alasannya terlalu klasik. Sepertinya ia menyembunyikan sesuatu dari dirimu.” Namun, salah seorang teman dekatku datang dengan nasihat bijak. “Lebih baik tanyakan saja padanya. Ingat, kunci dalam suatu hubungan itu komunikasi.”
Aku mendapatkan momen itu. Kalau tidak salah, sepulang dari gereja. Aku mencoba meneleponnya. Kami berbincang begitu lama tentang masalah itu. Ia menyalahkanku, karena kami tak pernah bertemu, bahkan untuk chatting saja jarang. Ia menyalahkanku karena terlalu berpikiran negatif tentang dirinya.
Aku tahu aku salah, terlalu overthinking dalam hubungan aku dan Maria. Namun, apalah daya, aku berpikir menggunakan logika dan Ia menggunakan perasaan. Tentu saja itu tak akan sejalan sebagaimana mestinya.
Pada akhirnya, akulah yang harus mengalah. “Baiklah, aku yang salah,” kataku.
Setelah itu, aku dan Maria menghapus salah satu komitmen dan mengubahnya. Bukan lagi chatting setiap hari di jam 7.00 sampai 7.50 malam, cukup di hari Minggu saja. Kami setuju.
Namun, di saat itu, aku menawarkan sebuah solusi: “Bagaimana kalau kita berpisah sejenak, memperbaiki diri, menenangkan diri, kemudian baru melanjutkannya lagi?”
Dengan kekeh, Maria tak mau berpisah denganku. “Mau bagaimana lagi? Semesta telah mempertemukan kita, dan kini semesta ingin kita bersama.”
Aku bingung. Dilema. Bagaimana dengan cita-citaku? Aku ingin menjadi seorang Imam, namun di sisi lain, aku juga mencintai dirinya. Sejauh ini, ia adalah wanita kedua yang mengerti diriku, setelah ibuku.
Kisah kami masih terus berlanjut. Mungkin saja ini cinta monyet, atau bisa saja cinta monyet ini akan berpengaruh dan membawa dampak yang besar di kehidupan yang akan datang. Aku harap, aku bisa bersamanya hingga sampai semesta sendiri yang memisahkan aku dan Maria.

