Kupang, VoxNTT.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menyatakan akan mengirim surat resmi kepada kementerian serta lembaga terkait di Jakarta untuk menindaklanjuti persoalan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM), baik solar maupun minyak tanah, yang tengah dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah NTT.
Meski demikian, Gubernur Melki menegaskan, pihaknya masih akan menunggu dan mengecek data lengkap mengenai tingkat kelangkaan yang terjadi di lapangan.
“Saya masih minta data lengkapnya, saya juga mau bersurat resmi kepada Dirut Pertamina, Kepala BPH Migas dan kepada Menteri ESDM. Jadi setiap kelangkaan di daerah perlu dilihat data pastinya berapa,” kata Melki, Kamis 27 November 2025.
Ia menambahkan, berdasarkan informasi awal yang diterimanya, kelangkaan tersebut diduga terjadi akibat kendala dalam proses distribusi, terutama terkait keterlambatan kapal pengangkut.
“Saya tahu dari Migas bahwa mereka bilang faktor kapal. Karena kapal terlambat datang, ada juga soal kuota,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, kehabisan stok BBM sehingga antrean panjang tak terhindarkan dan warga terpaksa membeli BBM eceran.
Di tingkat pengecer, harga BBM melonjak tajam. Penjual di pinggir jalan menjual satu botol berukuran satu liter seharga Rp50.000, lebih dari dua kali lipat dibandingkan harga sebelumnya yang hanya Rp20.000.
“Saya beli pertalite yang dijual pakai botol air mineral ukuran satu liter itu harganya Rp50.000. Ada yang jual setengah botol Rp25.000. Padahal satu botol itu sebelumnya Rp20.000. Sadis naiknya,” kata warga Kota Ruteng, Arman, kepada VoxNtt.com, Kamis, 27 November 2025.
Menurut Arman, krisis BBM sangat meresahkan masyarakat karena aktivitas ekonomi bisa lumpuh jika kondisi ini terus berlanjut.
“Bahaya kalau ini berlarut-larut. Bisa lumpuh total ekonomi,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan seorang sopir, Wilos Yoran, yang mengaku kesulitan mendapatkan pertalite dalam beberapa hari terakhir.
Ia menyebutkan, kini bukan hanya pertalite yang langka, melainkan seluruh jenis BBM di SPBU.
“Kemarin hanya susah cari pertalite, tetapi sekarang semua jenis BBM katanya habis,” ujar Wilos saat ditemui VoxNtt.com, Kamis 27 November 2025, di Pertamina Mbaumuku yang lagi mengikuti antrean.
Ia menuturkan, kelangkaan ini sangat berdampak pada pendapatannya.
“Kami ini cari sesuap nasi dari mengendarai mobil, mengantar penumpang. Kalau tidak ada bahan bakar, kami tidak bisa jalan, pendapatan kami pasti tidak ada, sedih,” tukasnya.
Warga berharap pemerintah daerah dan Pertamina segera menangani krisis ini agar aktivitas masyarakat kembali normal.
Penulis: Ronis Natom

