Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Menulis Masalah Sebagai Perwujudan Diri
Gagasan

Menulis Masalah Sebagai Perwujudan Diri

By Redaksi27 November 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Sipri Kantus
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

(Tentang Guru dan Sedikit Tips Menulis)

Oleh: Sipri Kantus
Penulis Buku PIKIRAN-PIKIRAN ALTERNATIF: Esai-Esai tentang Pendidikan dan Literasi, Kemelut Sosial-Kemanusiaan, dan Moderasi Beragama

Selama saya menjadi guru kurang lebih 5 tahun lamanya, saya selalu berhadapan dengan masalah. Beberapa esai tentang pendidikan dan literasi dalam buku saya Pikiran-Pikiran Alternatif (April 2025) merupakan hasil dari pergumulan dengan masalah. Menulis itu adalah satu bentuk bersikap. Terpenting tentang menyikapi masalah.

Mengenang perayaan Hari Guru kemarin, saya ingat lagi satu problem besar terkait keengganan untuk menulis. Problem itu ada pada tanya: apa yang harus saya tulis? Tentu tentang tema atau topik. Untuk saya pertanyaan ini memang penting, namun tidak harus berhenti pada tanya. Tema itu bak hamparan luas di hadapan kita. Dunia atau lingkungan tempat kita berada di dalamnya sungguh merupakan tema besar. Dunia atau lingkungan ini tidak pernah berhenti sebagai tema belajar. Dia tidak pernah berhenti mengajar. Kita berada dalam kemajemukan itu, pada hamparan tema belajar yang perlu disikapi.

Dalam kemajemukan, saya mengidentifikasi diri di antara yang lain: peristiwa, aneka konteks, dan tentunya manusia, serta alam. Sepertinya inilah kodrat kita sebagai manusia yang tidak bisa dielak, berada dalam kemajemukan. Berada bersama yang lain, dalam lingkungan tertentu. Kita menentukan perwujudan diri dalam lingkungan yang plural, dalam kenyataan hidup yang saling terhubung, mempengaruhi satu dengan yang lain.

Identitas diri/individualitas ditempa dan dibentuk dari sejauh mana kita dipengaruhi dan mempengaruhi dalam sebuah lingkungan tersebut. Karenanya, jati diri sebetulnya hasil sulaman dari sebuah perjalanan, yang berarti berjumpa dan menentukan diri untuk membuat keputusan, memilih yang baik atau buruk. Keduanya punya konsekuensi tersendiri.

Memilih yang baik tidak berarti yang buruk tidak bermakna. Sebab dalam keburukan yang mungkin menyebabkan penderitaan, saya belajar untuk memeluk kebaikan. Di situ, keburukan adalah data penting yang menegaskan penerimaan akan kebaikan sebagai pilihan utama.

Sebagai manusia biasa tentu kita berjumpa dengan masalah. Seperti keburukan, masalah juga bermakna. Menulis justru lahir di tengah dan di hadapan masalah. Menulis lahir dari kemampuan kita memproblematisasikan masalah, mempermasalahkan masalah. Sebuah teks dihasilkan dari bergumul dengan masalah, dinilai dari aneka perspektif, lalu ditawarkan aksi atau langkah sebagai alternatif solutif.

Menulis itu berdialog dengan masalah.
Maka bersyukurlah kalau pikiran anda dibantah. Sebab ketika pikiran anda dibantah atau ditanggapi itu berarti pikiran itu punya pengaruh (demikian RG.) Dan sejatinya, ilmu dan perspektif itu bertumbuh dalam bantahan, secara langsung atau pun tak langsung. Menulis itu ada dalam proses dialog dengan masalah dengan sejumlah sanggahan sebagai alternatif solutif.

Namanya pikiran alternatif. Tentunya bukan pilihan utama. Tetapi pikiran-pikiran ini tetap lahir dari sebuah bantahan akan peristiwa faktual dalam aneka ranah. Meski dia alternatif, dia punya identitas tersendiri untuk ditawarkan kepada pembaca. Dia bukan pengulangan total tanpa inovasi. Alternatif berarti sebentuk bantahan terhadap yang mainstream dengan perspektif yang bisa dipertanggungjawabkan.

Pikiran-pikiran alternatif yang mengisi seluruh halaman buku saya menawarkan keberanian untuk berpikir sendiri, mandiri berpikir. Itu satu upaya untuk mengambil bagian dalam upaya memberi makna.

Jika Anda berani menulis dari pikiran sendiri, anda tidak hanya menawarkan makna. Lebih dari itu anda mewartakan diri anda yang sudah bebas dari tirani perspektif mainstream, dari ketidakpercayaan diri, dari ketakutan akan kesalahan, dari kecemasan akan kualitas, dan terlebih dari kemalasan berpikir. Berani berpikir, menulis, dan menuangkan gagasan melahirkan indentitas diri Anda di depan sebuah isu atau masalah. Jadi menulis itu sebuah metode belajar, terutama belajar untuk menemukan diri.

Selamat terus mengabdi bagi para guru di seluruh republik. Jangan biarkan kisah berakhir dalam ruang wicara. Menulislah untuk selalu dikenang. Menulis untuk mencapai kedalaman. Dengan itu kita menjadi teladan dan inspirasitor bagi generasi yang tengah ditindas oleh penjajahan digital yang sering hadir dalam pesan singkatserentak menawarkan kedangkalan.

Sipri Kantus
Previous ArticleDiduga Terlibat Penipuan, Perwakilan BNI Life Datangi Korban di Ruteng Tanpa Hasil Jelas
Next Article Perpisahan

Related Posts

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.