Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Masa Penantian dan Wajah Dunia yang Terluka: Manggali Asa, Merajut Mimpin Allah di Dunia
Gagasan

Masa Penantian dan Wajah Dunia yang Terluka: Manggali Asa, Merajut Mimpin Allah di Dunia

By Redaksi6 Desember 20257 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Yohanes Andriko
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Fr. Yohanes Andriko

Novis SVD, Tinggal di Novisiat Sang Sabda Kuwu, Ruteng

Kita semua hidup dalam suatu dunia yang ‘berpanoroma kian global’. Ungkapan ini mau menggambarkan dunia yang semakin hari semakin tidak tersembunyi atau tertutup bagi siapapun.

Banyak hal tampaknya mudah dan gampang tersingkapkan.

Tak dapat dielakkan, proses globalisasi merambat dalam pelbagai aspek kehidupan manusia.

Berkat ilmu pengetahuan yang berkembang pesat dari abad ke abad, kita bisa ‘menikmati’ teknologi- teknologi yang semakin canggih dan yang tak pelak telah banyak membantu dan mempermudah pekerjaan manusia.

Namun, globalisasi bak pedang bermata dua; di satu sisi membawa dampak positif, tetapi di lain sisi membawa dampak negatif.

Globalisasi banyak melahirkan hal-hal yang baru bagi manusia. Akan tetapi, satu kenyataan miris yang tidak bisa dipungkiri adalah manusia sekarang cenderung dikuasai oleh mesin pintar dan manusia seakan-akan tidak bisa hidup serta tidak dapat melakukan sesuatu tanpa kehadiran mesin pintar.

Mesin pintar mentransformasi segala kehidupan manusia. Di tengah segala hal yang indah dan canggih, manusia terlena dengan kenikmatan, sehingga dampak negatif lainnya datang silih berganti dalam kehidupan manusia.

Salah satu implikasi konkret dari dampak negatif teknologi untuk konteks zaman ini adalah konflik-konflik yang terjadi antara negara yang satu dengan negara yang lain.

Teknologi yang canggih bagaikan bumerang bagi negara yang miskin. Negara miskin semakin miskin, karena kurang atau tidak menguasai teknologi, bahkan ‘diperbudak’ teknologi (dalam arti tertentu).

Sementara, negara kaya dan maju akan semakin ‘mentereng’ dalam kekayaan dan kemajuannya oleh karena tidak gagap teknologi.

Agak sempit, kita coba melihat dinamika yang terjadi tahun ini dalam bingkai ‘dunia’ Gereja Katolik. Tahun 2025 ditandai dengan pelbagai macam tantangan global, seperti konflik geopolitik yang belum mencapai kata usai, krisis iklim, dan ketidakstabilan ekonomi.

Di tengah situasi tidak karuan ini, dunia (Gereja Katolik) juga akan memasuki masa penantian akan kelahiran Yesus Kristus Sang Raja Damai. Dalam masa penantian ini, Gereja terasa seperti menunggu badai reda tanpa kepastian: kapan hal itu terjadi?

Ketidakpastian ini menciptakan kecemasan global di mana orang menantikan perdamaian dan keadilan yang tampaknya masih jauh panggang dari api.

Fenomena ini menimbulkan perdebatan hangat di pelbagai kalangan,  di antaranya di kalangan atau pihak intelektual, pemerintahan dan tidak luput pula Gereja.

Tulisan ini pada dasarnya membahas tentang realita di dunia sekarang ini yang dikuasai oleh teknologi (mesin pintar) dan dikaitan dengan konteks khusus masa penantian kelahiran Yesus Kristus di tengah situasi yang bisa dikatakan pelik.

Masa Penantian dalam Dunia yang Terluka: Harapan Niscaya Menang atas Pesimisme
Masa penantian kelahiran Yesus Kristus dan dunia yang terluka adalah dua sisi yang tak terpisah di tahun 2025 ini.

Gereja Katolik sejagat menantikan kelahiran (kedatangan) Yesus Kristus, Sang Pembawa Damai.

Namun, penantian ini bagaikan sebuah pengharapan yang boleh dipandang seolah-olah menyakitkan, melelahkan, dan membosankan.

Seolah-olah, kita terjebak: antara bersukacita merayakan pengharapan dalam penantian akan datangnya Raja Damai ataukah harus pesimis melihat realitas dunia kini dengan ketidakpastian dan ketak-menentuannya, imbas konflik-konflik yang tak kunjung reda, sebagai contoh misalnya.

Menjadi sebuah pertanyaan yang masih mengganjal di benak penulis: apakah kedatangan Sang Pembawa Damai yang dinanti-nantikan di saat-saat ini sungguh dapat membawa secercah harapan bagi umat manusia?

Menanti berarti menghadapi waktu dengan sabar, menahan diri dari keputusasaan, dan tetap percaya bahwa di balik semua keterlambatan, Tuhan sedang bekerja dalam diam. Henri J.M. Nouwen mengatakan, “menunggu dengan iman berarti mempercayai bahwa sesuatu sedang disiapakan bagi kita, bahkan ketika segala sesuatu tampak diam.”

Masa penantian kelahiran Yesus Kristus di tahun 2025 dalam situasi dunia yang terluka saat ini – hemat penulis – boleh dapat dimaknai, karena penulis yakin bahwa masih ada secercah harapan di tengah keterlukaan dunia kini. Dunia masih terluka oleh karena konflik antarnegara yang tidak usai-usai, misalnya.

Konflik-konflik besar yang masih terus diperbincangkan dan masih dipertontonkan pada pintu-pintu publik, seperti konflik antara Ukraina dan Rusia serta Israel dan Palestina, telah menyebabkan krisis kemanusiaan dan ketidakstabilan global. Selain itu, ada juga ketegangan baru, seperti bentrokan singkat antara India dan Pakistan pada Mei 2025.

Fakta aktual ini menunjukkan adanya kerapuhan tatanan global.  Adanya konflik-konflik yang terjadi – yang telah diuraikan di atas – sesungguhnya sedang mengungkapkan dengan lebih jelas fakta lain mengenai manusia bahwa kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan terus dikejar-kejar, didewa-dewakan, dan dipandang sebagai nilai tertinggi.

Orang-orang tertentu menggunakan teknologi sebagai alat untuk menyerang moral dan ajaran agama.  Akan tetapi, masa penantian menawarkan harapan bahwa perdamaian mungkin akan terwujud dari balik kenyataan memprihatinkan ini.

Masa penantian seakan memberikan jaminan akan adanya obat yang bisa menyembuhkan luka-luka dunia masa kini; akan adanya harapan kelahiran baru di tengah dunia yang ‘mati suri’.

Adanya cahaya harapan di tengah pelbagai situasi ‘gelap’ dunia ini membuat penulis beropini bahwa Yesus bukan lahir di Bethlehem, tetapi di Kalvari. Mengapa? Kalvari adalah bukit tempat Yesus disalibkan dan mengalami kematian; Kalvari merupakan lambang kematian.

Namun, Yesus wafat di Kalvari justru memberikan makna tentang kelahiran baru oleh karena kebangkitan-Nya. Artinya, dengan kematian-Nya, Kalvari bukan lagi Bukit Kematian (Tengkorak), melainkan Bukit Harapan akan Hidup Baru.

Dengan demikian, makna penantian akan kelahiran Yesus Kristus di tahun ini bukan hanya sekadar memaknai inkarnasi (Sang Sabda menjadi Manusia), melainkan metanoia (hati dan pikiran yang lahir baru dalam Sang Sabda).

Dengan pemaknaan ini, setiap orang mendapatkan kesembuhan pertama-tama di dalamnya dirinya, sebelum pada akhirnya pergi dan menyembuhkan yang lain (tindakan misi).

Harapan di Tengah Situasi Pelik: Kekuatan ‘Penantian’

Di sini, penulis ingin lebih menegaskan perihal harapan yang harus lebih kuat mengalahkan situasi dunia kini dengan segala pesimismenya. Dalam tataran tertentu, harus diakui keadaan dunia sudah tampak semakin ‘hancur’ dari tahun ke tahun dan tak dapat dipungkiri bahwa teknologi sungguh merasuki dan menguasai tatanan hidup manusia.

Meskipun kondisi dunia penuh dengan situasi yang krusial dan pelik seperti itu, masa penantian bukan penantian tanpa harapan, melainkan dipenuhi harapan yang bisa terwujud nyata dalam hidup manusia.

Dari banyak keraguan, ada banyak pihak yang menantikan perdamaian, kemajuan dalam bidang medis, dan solusi yang inovatif dan kreatif yang tercipta untuk menghadapi masalah yang masih merajalela.

Penantian ini semestinya bukan sebatas angan-angan atau subjek pasif, melainkan sebuah aksi aktif yang memicu tindakan praksis tentang tanggung jawab global, dan pencarian cara hidup yang berkelanjutan (sustainability of life) penuh dengan perdamaian dan keadilan, supaya tidak ada gap (jurang pemisah) antara negara yang terkaya dengan negara yang termiskin di dunia ini.

Ada penantian akan perubahan dinamika politik, seperti potensi pencabutan status teroris presiden Suriah oleh Amerika Serikat pada September 2025, yang digadang-gadang membuka suatu jalan yang tebuka untuk membangun dialog baru.

Dunia yang terluka memaksa manusia untuk merefleksikan kembali prioritas dan nilai-nilai mereka. Masa penantian ini menjadi waktu untuk melihat kembali ke dalam (introspeksi) tentang bagaimana konflik telah mengubah cara kita berinteraksi dan memandang masa depan.

Ada penantian akan kepemimpinan yang lebih bijaksana yang diilhami oleh kedatangan Sang Raja Damai, Yesus Kristus dan solusi kolektif bersama, yaitu menyerukan perdamaian dan keadilan sebagai tanggung jawab yang diserentakan secara bersama-sama, sehingga kumandang tentang perdamaian dan keadilan yang terus didengungkan didengar oleh negara-negara tertentu yang masih berkonflik.

Penantian akan kelahiran dan kedatangan Yesus Kristus harus diterima dengan kondisi dunia yang damai, adil, dan aman.

Itu adalah harapan yang mau dibangun di situasi dunia yang dikacaubalaukan oleh konflik yang terus berlanjut. Masa penantian di tahun 2025 adalah periode yang penuh tantangan, namun tetap berpegang teguh pada harapan bahwa ada potensi untuk perubahan yang positif.

Dunia yang terluka menuntut kesabaran, ketahanan, dan tindakan kolektif bersama sambil menantikan pemulihan yang berkelanjutan. Seperti kata Aristoteles “ kesabaran itu pahit, namun buahnya manis”.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi – secara sadar ataupun tidak sadar – adalah hal yang patut diacungkan jempol, tetapi serantak akan menjadi hal yang menyakitkan, jika manusia itu sendiri masuk dalam perangkap mesin pintar atau dikuasai oleh teknologi itu sendiri.

Dunia yang terluka bukan alam itu sendiri, namun oleh manusia yang rakus, egois, dan ingin menguasai yang lain.

Konflik masih terus berlanjut, tetapi selalu ada harapan bahwa itu akan usai. Penantian akan kelahiran Yesus Kristus adalah teologi dan spiritualitas kita yang paling kondusif dalam membawa harapan baru bahwa dunia akan hidup dalam perdamaian, keadilan, dan kesatuan.

Akhirnya, sambil menantikan kelahiran dan kedatangan Kristus, kita juga harus berjuang untuk menciptakan damai dan keadilan.

Dan, perjuangan itu jauh melebihi sekadar konsep atau ide semata, yakni harus mewujud menjadi aksi nyata; harus menjadi misi Allah oleh kita di masa kini. “Tidak ada perjuangan yang sia-sia, sebab di setiap penantian yang setia, Tuhan sedang menulis kisah terbaik bagi hidup kita”.

Yohanes Andriko
Previous ArticleWALHI NTT Soroti Tambang Emas Ilegal di Sebayur Besar, Kritik Keras Lemahnya Tata Kelola TN Komodo
Next Article Satker Jalan Nasional Imbau Pengguna Jalan Ruteng–Reo Waspada Selama Musim Hujan

Related Posts

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.