Kupang, VoxNTT.com – Sanggar Budaya Manggarai Wela Pau Rana menggelar pentas budaya Sae, Danding, dan Caci di halaman Paroki St. Petrus TDM, Kota Kupang, Sabtu, 6 Desember 2025.
Kegiatan ini menjadi upaya pelestarian seni dan tarian tradisional Manggarai sekaligus sarana pewarisan budaya kepada generasi muda.
Pentas dibuka dengan tarian Danding yang dibawakan para perempuan dan remaja perempuan dengan iringan gong dan gendang.
Setelah itu, sekitar 20 laki-laki tampil sebagai tangkas dalam tradisi Caci. Mereka mengenakan busana adat lengkap sebagaimana pemain Caci Manggarai.

Para perempuan muda dan ibu-ibu yang memakai kain tenun serta aksesoris tradisional tampak memainkan gong dan gendang untuk mengiringi jalannya pertunjukan.
Ketua Panitia Pelaksana Pentas Budaya Manggarai, Frans Bustan mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya Manggarai di Kota Kupang.
“Mendorong pelakon budaya untuk lebih terampil dan kompeten sehingga mengembangkan diri dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” ujar Guru Besar Undana itu.
Ia menambahkan, tujuan pentas budaya tersebut adalah meningkatkan jati diri peserta agar mereka mampu menyejahterakan diri sendiri.
“Meningkatan kompetensi dan keterampilan seni. Meningkatan kemampuan peserta untuk mengembangkan keterampilan sehingga mampu berkembang ke arah yang lebih baik,” katanya.
Menurut Frans, kegiatan itu mendapat dukungan langsung dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI NTT.
Anggota DPRD NTT, Marselinus Anggur Ngganggus, turut mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Saya apresiasi setinggi tingginya atas perhatian pemerintah terhadap kearifan lokal di NTT. Ini bentuk pembangunan menuju NTT emas. Ini pilar utama. Ini kerafian lokal seni budaya dari leluhur harus dilestarikan,” katanya.
Sebagai legislator yang juga berasal dari komunitas Manggarai diaspora di Kota Kupang, ia berharap kegiatan serupa tidak hanya digelar tahun ini.

“Ke depan kegiatan seperti ini diharapkan kepada pemerintah sebagai orang tua dari entitas yang ada tetap peduli. Kalau boleh ini dibuat kalender khusus terutama dari stakeholder terkait misalnya dinas pariwisata,” katanya.
Ia menegaskan bahwa penjadwalan rutin semua entitas budaya dapat menjadi langkah penting dalam pelestarian.
“Kalau ini jadi agenda tetap bisa dijadikan momen untuk menjual event. Bisa juga etnis lain dijadwalkan dan dipublikasikan sehingga semua penikmat budaya bisa betul-betul mengikuti pentas pentas budaya ini sebagai kekayaan kota yang tak terukur dengan apapun. Apalagi zaman semakin maju dan canggih,” katanya.
Penulis: Ronis Natom

