Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Cerpen: Desemberku di Negeri Rumah Batu
Sastra

Cerpen: Desemberku di Negeri Rumah Batu

By Redaksi19 Desember 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Angelina Revania Bili
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

(Karya Yohanes Mau Menggoreskan Hati)

Oleh: Angelina Revania Bili
Siswa SMA Katolik St. Josef Freinademetz- Tambolaka- Sumba Barat Daya

Kumpulan cerpen berjudul “Desemberku Di Negeri Rumah Batu” karya Yohanes Mau merupakan cerita cerita pendek berisi tentang kisah dari penulis.

Umumnya bernuansa cinta, dan tersaji kisah- kisah romantis yang dikaitkan dengan panorama alam dan senja.

Namun di balik itu, ada pun kisah yang berdasarkan imajinasi yang membawa pembaca pada suasana romantis dan enggan pulang kepada kesadaran yang sesungguhnya.

Selain itu, buku ini berisi tentang kehidupan penulis yang menggoreskan hati pembaca menjadi pilu, karena terus terang menceritakan tentang ayahnya yang telah tiada.

Penulis menceritakan bagaimana saat ayah masih hidup, ia sering diajak untuk pergi ke bukit Fulan Fehan yang merupakan bukit padang rumput tertinggi dan terindah di Indonesia.

Di sana ia bersama ayahnya melihat sapi peliharaan sambil menikmati panorama padang rumput hijauh yang indah dibaluti oleh karang dan kaktus.

Angin sepoi-sepoi basah sejuk meneduhkan hati dan membuat hanyut dalam menikmati keindahan alam yang sangat menankjubkan.

Fulan Fehan merupakan padang hijau tempat sapi dan kuda piaraan merumput secara leluasa sepanjang musim dan waktu.

Fulan Fehan yang dijelaskan penulis berlokasi di kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu Utara- NTT.

Jika anda punya kesempatan, datanglah ke sana dan lepaskan segala letih, lesuhmu di sana.

Dan rasakan setiap embusan sejuk angin yang hangat menyapamu untuk setia bersyukur atas lukisan tangan-Nya yang indah.

Selain kisah tentang ayah, penulis juga menceritakan tentang Weluli yang merupakan tempat indah dan sebagai tempat penampung korban atas konflik yang terjadi di Timor Leste pada tahun 1999.

Mereka memisahkan diri dari ibu pertiwi indonesia. Dalam ceritanya, Pada cerepen ini ia mengulas tentang rasa belaskasihan terdalam yang ia rasakan kala itu.

Hatinya tak tega membiarkan anak-anak pengungsi lapar dan mengemis kue jualan yang dipikul keliling kampung dan sekitaran kompleks hunian para pengungsi.

Ia memberikan kue itu kepada anak-anak yang mengulurkan tangan memintanya. Walaupun kue tersebut disuruh ibunya untuk dijual.

Tanpa berpikir panjang ia rela memberikan tanpa memandang untung dan rugi. Hal ini karena ia yakin bahwa anugerah dari Maha Kuasa hanya diberi cuma- cuma sehingga ia tidak punya hak untuk menahan.

Penulis selalu mengandalkan Tuhan, dan ia sungguh yakin Tuhan itu tidak mati. Ia percaya bahwa Tuhan adalah sandaran hidupnya. Tuhan tidak mati terkisah dalam judul cerita yang tertera dalam buku penulis.

Kisah yang paling menonjol tertera pada judul buku yakni “Desemberku Di Negeri Rumah Batu.” Judul buku ini terdapat pada sub bab yang ke-7.

Berkisah tentang penulis saat berada di Zimbabwe. Kisah ini menceritakan tentang si penulis yang bertemu gadis mungil serta berhati mulia yang bernama Samantha.

Ia bertemu gadis tersebut di bulan Desember. Penulis mendengar kisah si gadis mengenai negeri yang kaya akan intan dan emas namun dikuasai oleh negara demi kepentingan dan kesejahteraan keluarga tanpa adanya rasa kasihan.

Kisah yang terus terang bebicara tentang negara akan warga Zimbabwe yang kini tiada uluran tangan terhadap mereka yang terkapar di pinggiran jalan.

Penulis mengatakan bahwa ia hanya terdiam mendengarkan kisah Samantha.

Kisah berlanjut tentang cinta terlarang yang dilakukan oleh seorang Imam keuskupan (dosen), dan mahasiswi.

Penulis menyampaikan bahwa menjalin relasi cinta jangan hanyut oleh hasrat cinta eros atau oleh keindahan lahiriah semata tapi pupukilah relasi cinta dengan cinta agape atau cinta yang rela mengorbankan segala totalitas diri tanpa harap kembali.

Membaca buku kumpulan cerpen “Desemberku di negeri Rumah Batu” karya Yohanes Mau menggoreskan hati dan menghantar kita untuk masuk dalam dunia percintaan yang penuh romantis.

Lebih jauh dari itu, memanggil kita untuk masuk dalam kebekuan realitas hidup dunia hari ini dengan aneka gelap dan lukanya, serta turut bersolider di dalamnya.

Angelina Revania Bili Yohanes Mau
Previous ArticleSekolah Jembatan Peradaban Cinta
Next Article Dukung Implementasi KUHP, BKH Dorong Pemerintah Terbitkan PP

Related Posts

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026

Rindu YBS Terkandas di Ujung Ranting Cengkih

5 Februari 2026

Pilu yang Tidak Pernah Sembuh

3 Februari 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.