Ruteng, VoxNTT.com – Keterlibatan seorang mahasiswi muslim dalam koor malam Natal 2025 di Paroki Loce Stasi Wontong, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menjadi viral di media sosial.
Mahasiswi muslim yang kuliah di Kampus Unika Ruteng itu mengikuti koor malam Natal di Stasi Wontong pada Rabu, 24 Desember 2025 malam. Peristiwa itu kemudian memicu beragam tanggapan publik.
Sebelumnya, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Manggarai Timur, Darma Wati turut menyampaikan komentarnya di unggahan video pemilik akun Facebook Abriel Piter Jehatu. Di kolom komentar video tersebut, ia mengaku kesal terhadap pihak Kampus Unika Santo Paulus Ruteng.
Ia menilai kampus dengan sengaja melibatkan mahasiswi Muslim dalam kegiatan koor misa Natal 2025.
“Kami menilai ini bukan lagi implementasi toleransi tetapi sebaliknya,” komentar Darma Wati dalam postingan itu.
Ia juga menyebut keterlibatan tersebut sebagai bentuk pengikisan iman mahasiswa yang bersangkutan.
“Karena itu kami mengecam tindakan seperti,” pungkasnya.
Menanggapi polemik tersebut, dosen aktif Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng, Marsel Ruben Payong memberikan klarifikasi.
Ia menyatakan pihak kampus baru mengetahui persoalan itu setelah video tersebut viral.
Marsel menjelaskan, asistensi Natal bagi mahasiswa bersifat pilihan dan tidak bersifat wajib, terutama bagi mahasiswa non-Katolik.
Menurutnya, mahasiswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok yang diinisiasi secara mandiri.
Ia menambahkan, dalam kegiatan asistensi Natal, mahasiswa tidak hanya terlibat dalam kegiatan koor atau liturgi, tetapi juga kegiatan lain seperti bakti sosial, penanaman pohon, dan kegiatan kemasyarakatan lainnya.
“Bahkan pengalaman selama ini terlibat sebagai pembimbing asistensi mahasiswa,” kata Marsel Payong saat dihubungi VoxNtt.com.
Sementara itu, polemik tersebut juga menuai berbagai komentar dari warganet. Salah satunya datang dari akun Facebook atas nama Kosmas Hamu.
Ia menilai pernyataan Ketua MUI Manggarai Timur patut dihargai sebagai bentuk kepedulian terhadap penjagaan iman generasi muda.
Namun demikian, Kosmas menilai perlu adanya klarifikasi langsung dengan pihak Kampus Unika Santo Paulus Ruteng serta mahasiswi yang bersangkutan untuk mengetahui apakah keterlibatan tersebut merupakan kebijakan institusi atau inisiatif pribadi.
“Dalam semangat hidup bersama di tengah masyarakat majemuk, keterlibatan lintas agama sering dimaksudkan sebagai ungkapan persahabatan dan solidaritas, bukan sebagai upaya mengaburkan atau mengikis iman siapa pun. Tentu kita sepakat bahwa toleransi memiliki batas dan tidak boleh menyentuh inti keyakinan masing-masing agama,” tulis Kosmas Hamu dalam komentarnya.
Ia menegaskan, dialog terbuka dan berbasis fakta lebih diperlukan dalam menjaga kerukunan antarumat beragama.
“Dengan cara ini, iman tetap terjaga, dan persaudaraan antarumat beragama pun tetap dipelihara,” ujarnya.
Kontributor: Isno Baco

