Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»VOX POPULI»MAHASISWA»Ketua MUI Matim Tuding Kampus Unika Ruteng ‘Paksa’ Mahasiswa Muslim Ikut Koor Misa Natal
MAHASISWA

Ketua MUI Matim Tuding Kampus Unika Ruteng ‘Paksa’ Mahasiswa Muslim Ikut Koor Misa Natal

By Redaksi31 Desember 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ketua MUI Manggarai Timur, Jamiluddin Abdul Muthalib (Foto: Dok. Pribadi)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, VoxNTT.com – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Nusa Tenggara Timur (NTT), Jamiluddin Abdul Muthalib, menyesalkan keterlibatan mahasiswa Muslim Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santo Paulus Ruteng dalam kegiatan koor misa malam Natal 2025 di Stasi Wontong, Paroki Loce, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai.

Menurut Jamiluddin, keterlibatan mahasiswa Muslim tersebut diduga bukan atas inisiatif pribadi, melainkan penugasan dari pihak kampus.

“Pandangan saya pihak kampus sengaja menugaskan mahasiswa tersebut untuk mengikuti kegiatan koor pada misa malam Natal yang berlangsung di Paroki Loce, Stasi Wontong,” kata Jamiluddin saat dihubungi VoxNtt.com, pada Selasa, 30 Desember malam.

Jamiluddin menuding kampus telah mengetahui latar belakang agama mahasiswa yang bersangkutan.

Namun, menurut dia, mahasiswa tersebut tetap dilibatkan dalam kegiatan koor misa Natal.

Sebelumnya, Jamaluddin melalui akun milik istrinya atas nama Darma Wati berkomentar di unggahan video pemilik akun Facebook Abriel Piter Jehatu.

Di kolom komentar video tentang keterlibatan seorang mahasiswi dalam koor malam Natal tersebut, ia mengaku kesal terhadap pihak Kampus Unika Santo Paulus Ruteng.

Ia menilai kampus dengan sengaja melibatkan mahasiswi Muslim dalam kegiatan koor misa Natal 2025.

“Kami menilai ini bukan lagi implementasi toleransi tetapi sebaliknya,” komentar dia.

Ia juga menyebut keterlibatan tersebut sebagai bentuk pengikisan iman mahasiswa yang bersangkutan.

“Karena itu kami mengecam tindakan seperti,” pungkasnya.

Jamaluddin mengatakan hal itu sebab pihak kampus sudah mengetahui bahwa mahasiswa yang bersangkutan adalah orang Muslim, namun dipaksakan harus mengikuti kegiatan koor malam Natal.

“Itu yang membuat saya sesalkan dengan pihak kampus,” tegasnya.

Jamaluddin menuturkan, dalam ajaran Katolik, seseorang yang belum dibaptis tidak diperkenankan mengikuti kegiatan liturgi di dalam gereja.

Karena itu, menurut dia, kampus semestinya memperhatikan latar belakang keyakinan mahasiswa agar tidak memicu polemik di ruang publik.

Ia menegaskan penyesalannya atas peristiwa tersebut.

Menurutnya, anak itu masih dalam kondisi labil sehingga apa pun yang disampaikan pihak kampus cenderung diiyakan karena rasa takut, terlebih jika perintah tersebut datang dari dosen.

Bahkan, bukan hanya rasa takut yang mendorongnya, tetapi juga kebutuhan akan popularitas agar bisa menjadi viral atau dikenal luas.

“Mestinya pihak kampus harus pertimbangkan dengan keyakinannya dia,” kata Jamaluddin.

Ia kembali mengingatkan bahwa ia menuliskan komentar menggunakan akun Facebook milik istrinya. Hal itu dilakukan secara spontan karena terkejut melihat unggahan yang beredar.

“Komen di unggahan Facebook pemilik akun Facebook Abriel Piter Jehatu, itu benar saya sendiri hanya pakai Facebook milik istri saya,” aku Jamaluddin.

MUI, kata dia, tidak mempermasalahkan jika umat Muslim dilibatkan dalam aktivitas sosial atau nonliturgis di lingkungan gereja. Namun, keterlibatan dalam koor misa dinilainya tidak tepat.

“Yang penting jangan dalam kegiatan sakral ini,” pungkasnya.

Jamiluddin berharap ke depan pihak kampus terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan mahasiswa yang bersangkutan serta tokoh agama asal mahasiswa tersebut sebelum melibatkan mereka dalam kegiatan keagamaan tertentu.

Ia juga meminta agar pihak kampus menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui media sosial.

“Mari kita sama-sama menjaga toleransi,” tutupnya.

Sementara itu, dosen aktif Universitas Katolik Indonesia Santo Paulus Ruteng, Marsel Ruben Payong merespons video viral terkait keterlibatan mahasiswa Muslim dalam kegiatan koor Natal 2025 di Stasi Wontong, Paroki Loce, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai

Marsel menyatakan, asistensi Natal bagi mahasiswa bersifat pilihan dan tidak diwajibkan, khususnya bagi mahasiswa non-Katolik.

Menurutnya, mahasiswa ditempatkan dalam kelompok yang diinisiasi secara mandiri.

Ia menambahkan, kegiatan asistensi Natal tidak terbatas pada keterlibatan dalam koor atau liturgi, melainkan mencakup berbagai aktivitas lain seperti bakti sosial, penanaman pohon, dan kegiatan kemasyarakatan.

“Bahkan pengalaman selama ini terlibat sebagai pembimbing asistensi mahasiswa,” kata Marsel  saat dihubungi VoxNtt.com, Senin, 29 Desember 2025.

Kontributor: Isno Baco

FIKes Unika St. Paulus Ruteng MUI Manggarai Timur MUI Matim Unika Ruteng Unika St. Paulus Ruteng
Previous ArticleKetum PW NTT Harap Ahmad Bintang Satukan Pemuda Bulan Bintang di Seluruh Daerah
Next Article Kapolres Manggarai Imbau Warga Rayakan Tahun Baru 2026 Tanpa Miras dan Knalpot Brong

Related Posts

BEM FISIP Undana Gelar Pengabdian di Desa Tanah Merah, Angkat Pendidikan Politik hingga Kewirausahaan

1 Maret 2026

Wagub NTT Raih Doktor Ilmu Administrasi di Undana

27 Februari 2026

GMNI Jakarta Ajukan Nota Keberatan ke Presiden soal Perjanjian Dagang Indonesia–AS

24 Februari 2026
Terkini

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Jaringan Masyarakat Sipil Audiensi dengan Komisi V DPRD NTT Bahas Kasus Perdagangan Orang

5 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.