Kupang, VoxNTT.com – Rangkaian Company Gathering PT Filosi Exider Inovasi memasuki hari kedua pada Selasa, 6 Januari 2026.
Seluruh karyawan mengikuti agenda yang mengombinasikan aktivitas fisik, penguatan mental, serta refleksi nilai kerja berbasis kekeluargaan.
Kegiatan berlangsung di Markas Yonif 744/Satya Yudha Bhakti (SYB) Tobir, Kabupaten Belu.
Kegiatan hari kedua dimulai sejak pukul 05.00 Wita dengan olahraga pagi di bawah bimbingan instruktur TNI dari Yonif 744/SYB. Aktivitas tersebut menekankan kedisiplinan, kekompakan, dan ketahanan fisik para peserta.
Setelah olahraga pagi, para karyawan mengikuti serangkaian kegiatan outbound yang dirancang untuk menguji keberanian dan kepercayaan diri.
Salah satu tantangan utama adalah snapling, yakni teknik menuruni ketinggian 18 meter menggunakan tali pengaman.
Instruktur Yonif 744/SYB terlebih dahulu memberikan demonstrasi sebelum peserta melaksanakan kegiatan secara bergantian.
Selain Snapling, peserta juga menjajal wahana Flying Fox setinggi 20 meter dengan lintasan sepanjang 30 meter serta uji keseimbangan di atas Jembatan Tali Dua yang melintasi kolam.
Meski diwarnai ketegangan, suasana kegiatan berlangsung penuh semangat dan saling memberi dukungan.
“Kegiatan outbound ini sangat memacu adrenalin. Banyak rintangan yang melatih kami untuk menaklukkan rasa takut, terutama karena sebagian besar permainan dilakukan di ketinggian,” ujar Alex, salah satu peserta, saat ditemui di sela kegiatan.
Pada sesi siang hari, kegiatan berlanjut dengan penguatan kapasitas diri melalui materi Manajemen Waktu dan Kesehatan Mental yang disampaikan oleh dr. Franklin Pito Jella dari RS Sito Husada Atambua.
Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara tuntutan kerja dan waktu istirahat demi produktivitas berkelanjutan.
“Kesehatan mental tidak boleh diabaikan. Kita harus peka terhadap kondisi diri sendiri dan jangan ragu mencari bantuan profesional jika tekanan kerja mulai berdampak berlebihan,” pesan mantan Ketua BEM FK Undana tersebut.
Materi tersebut mendapat respons positif dari peserta. Salah satu karyawan, Rilly, menyatakan pemaparan itu membantunya memahami tanda-tanda gangguan mental sejak dini.
“Kami belajar cara meminimalisir stres dan kapan harus segera menemui ahli,” ungkapnya.
Rangkaian kegiatan hari kedua ditutup dengan sesi refleksi etos kerja yang dibawakan oleh RD. Siprianus Tes Mau, Ketua Pengurus CU Kasih Sejahtera, dengan materi bertajuk Etos Kerja Berbasis Kekeluargaan.
Sesi ini dipandu oleh Vivin da Silva dan menekankan pentingnya nilai fraternitas atau persaudaraan dalam lingkungan kerja.
Puncak kegiatan ditandai dengan refleksi “Empat Lilin” yang melibatkan seluruh jajaran perusahaan, mulai dari direktur hingga staf, untuk melakukan evaluasi diri dan memperkuat rasa kebersamaan.
“Setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Dengan semangat persaudaraan, setiap target perusahaan bukan lagi beban individu, melainkan tanggung jawab bersama yang dicapai dengan penuh kepedulian,” tutur Romo Siprianus.
Ketua Panitia Gathering 2026, Riko, menilai sesi refleksi tersebut relevan bagi karyawan muda dalam membangun karakter dan solidaritas tim.
“Refleksi Empat Lilin menjadi pengingat bahwa dalam kondisi tersulit sekalipun, satu orang yang memiliki semangat pengorbanan dapat menjadi cahaya harapan bagi seluruh tim,” pungkasnya. [VoN]

